Relung Langit

Relung Langit
Part 110


__ADS_3

Enam bulan sudah sejak kepergian Kak Aryan dan keluarga kecilnya. Kami sekeluarga selalu menghubunginya lewat video call. Anak-anak sangat senang setiap kali mereka berhubungan satu sama lain. Dua minggu lagi adalah kepulangan Kak Aryan. Kami semua sangat senang terlebih Zayyan. Senyumnya selalu sumringah setiap harinya.


Hari ini semua berkumpul di rumah Ayah. Anak-anak bermain di ruang bermain sedangkan kami semua berkumpul di ruang keluarga. Ada hal besar yang akan dibahas disini, karena biasanya kami mengobrol di ruang tamu atau di gazebo belakang rumah. Berbeda jika ada masalah serius kami berada di ruangan ini.


"Ada apa Yah?" tanyaku langsung ke pokok masalah saat baru duduk.


"Aryan akan menetap di London. Perusahaan disana tidak bisa ditinggalkan dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Dia pulang hanya akan mengurus berkas-berkas pemindahannya." jelas Ayah dengan wajah serius dan membuat aku kaget.


"Seserius itukah masalah perusahaan disana Yah?" tanyaku sambil menggenggam tangan Zeyden erat.


Zeyden menatapku dalam, aku tahu dia seakan meminta penjelasan dariku. Tapi seketika dia mengerti dan mengusap punggung tanganku untuk menenangkan diriku.


"Iya. Banyak tikus di perusahaan kita disana. Jadi dia harus menyelidiki lebih jauh. Dan Kamu sementara tetap di posisi direktur ya sayang. Kamu tahu sendiri, kakakmu yang satu lagi nggak mau berurusan dengan perusahaan walaupun dia bantu kita, dia tidak mau diberi jabatan." jelas Ayah dengan memasang wajah sedihnya.


"Aku ijinkan kamu sayang!" seru Zeyden seakan tahu apa yang hendak aku tanyakan saat aku menoleh kearahnya.

__ADS_1


"Anak-anak bagaimana?" tanyaku sambil melihat sekelilingku.


"Kan kamu bisa mantau kerjaan dari rumah, ke kantor hanya sesekali saja. Lagian kakak yang akan datang ke kantor tiap hari." ujar Kak Bryan buka suara.


"Baiklah." sahutku dengan nada melemah.


Aku tidak suka jika waktuku untuk anak-anak terbuang begitu saja. Aku masih mau menikmati tumbuh kembang anak-anak. Tapi aku juga tidak mungkin membawa mereka ke tempat kerja. Waltu terus berlalu sampai waktunya makan malam.


***


Ini adalah hari dimana putra mahkota keluarga Pradipta akan datang. Zayyanlah yang paling bahagia saat ini. Dia sudah siap lebih awal dari kami semua. Zayyan memang dekat dengan Zeyden tapi untuk urusan lain dia lebih dekat dengan Kak Aryan. Apalagi itu mengenai hal pribadinya, Zeyden tidak pernah mau mengusik masalah pribadi anak-anaknya, karena dia yakin anak-anaknya bisa mengatasi sendiri.


"Hai, my prince." ucapnya sambil memeluk Zayyan.


"Hai Mommy, hai Vika!" sapanya sambil mencium tangan Kak Sharma dan mencium pipi Devika.

__ADS_1


"Hai sayang." balas Kak Sharma sambil mencium kepala Zayyan.


"Hai Akak Ayyan." celetuk Devika dan segera berlari menujuku.


Kami pun mengobrol sambil berjalan menuju mobil. Hampir dua jam perjalanan kami menuju rumah Ayah. Jakarta selalu saja macet, dimanapun itu. Kebetulan yang hanya diajak ke bandara hanya Zayyan, sedangkan si kembar sudah dirumah Opa-Omanya. Zayyan asyik bercanda dengan Devika di kursi paling belakang, Kak Aryan duduk di samping Zeyden. Aku memilih terlelap karena lelah mengurus keperluan keluarga kecilku, begitu juga dengan Kak Sharma yang memilih tidur juga.


Akhirnya kami sampai juga di rumah Ayah. Semua menyambut kami. Kak Bryan langsung mengambil koper kakak sulung kami. Sedangkan anak-anak sudah berlari ke arena bermain mereka. Ayah dan Bunda menyambut anak serta menantunya dengan memeluk, mencium tanpa henti.


"Kak, aku istirahat dulu ya!" ucapku sambil berlalu meninggalkan mereka semua diruang tamu.


"Iya." seru mereka serempak.


Aku berlalu menuju kamar. Entah rasanya lelah mulai menghantuiku akhir-akhir ini. Bahkan terkadang aku enggan bangun dari tempat tidur. Mungkin karena aktifitasku yang sangat padat dan kurangnya waktu istirahat. Aku baru saja menaruh badanku di kasur, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku tahu itu pasti suamiku tersayang.


"Kamu kenapa sayang?" tanyanya sambil duduk di sampingku.

__ADS_1


"Hanya lelah." ujarku masih dengan mata terpejam.


Jadi isteri seorang dokter itu ada enaknya. Seperti saat bilang lelah dia langsung memeriksa denyut nadiku, dan lain-lainnya. Aku tahu dia sangat khawatir, karena jarang sekali aku merasakan lelah seperti sekarang ini. Untuk menghilangkan rasa khawatirnya aku langsung memeluk pinggangnya. Zeyden hanya membalas dengan mengelus kepalaku sambil sesekali dia mencium kepalaku.


__ADS_2