Relung Langit

Relung Langit
Part 126


__ADS_3

Rakha dengan di temani oleh sang kepala sekolah memasuki sebuah ruangan yang akan menjadi kelasnya. Di depan kelas terdapat seorang guru laki-laki yang sedang menjelaskan pelajaran dan saat itu adalah mata pelajaran matematika. Ketika kepala sekolah memasuki kelas lebih dahulu semua mata tertuju pada ambang pintu. Tak berapa lama sang wanita paruh baya itu memberi tahukan maksud kedatangannya ke kelas tersebut. Lalu dia membawa Rakha ke dalam ruangan dan memperkenalkan dirinya.


Kebetulan meja di paling depan kosong jadi Rakha di suruh duduk di sana. Rakha sebangku dengan seorang wanita berkacamata, berambut panjang dan berkulit putih. Setelah berkenalan Rakha langsung menerima pelajaran tersebut dengan sangat mudah. Sekali di jelaskan dia sudah langsung memahaminya, IQ Rakha memang diatas normal anak-anak pada umumnya begitu juga dengan saudaranya yang lain.


Waktu terus berjalan dengan cepatnya sehingga tak terasa kini memasuki jam istirahat. Rakha yang belum familiar dengan sekolah barunya memilih diam di kelas. Namun, sebelum seisi kelas kosong semua wanita di kelas itu menghampiri meja Rakha dan mengajaknya berkenalan. Tipe cuek, dingin dan datarnya Rakha mulai keluar saat itu. Walau semua wanita-wanita itu mengenalkan diri mereka satu persatu tapi tak satu pun yang digubrisnya. Sampai salah seorang murid laki-laki menghampirinya dan membawa Rakha keluar dari kelas.


“Nggak nyaman kan lo tadi?” tanyanya dengan ekspresi yang tak jauh berbeda dengan Rakha.


“Lumayan.” Jawabnya cukup jelas dan tak menoleh kepada lelaki itu.


“Arul!” seru lelaki itu memperkenalkan diri dan membuat Rakha membalas uluran tangannya tanpa memperkenalkan dirinya lagi.


Mereka berdua pun menuju kantin yang sangat ramai. Semua mata tertuju pada Rakha ketika langkahnya memasuki kantin. Dari senior dan juniornya menatap dengan tatapan penuh Tanya. Bahkan baru duduk saja, sudah kembali dikelilingi orang-orang yang mengajaknya kenalan. Sampai sudah ada yang berani mengajaknya kencan, dan tingkah lainnya. Sikap cuek itulah yang makin membuat mereka penasaran.


Ya, sejak hari itu Rakha di kenal dengan pangeran es. Kesan pertama yang didapatinya lumayan mengesankan dan meninggalkan bekas yang unik. Sebuah cerita yang akan ia dapati dari hari ini untuk di bagi kepada saudaranya yang lain.


***


Di Sekolah lainnya.


Anggara, Anggia dan Arjuna ternyata tidak memasuki kelas yang sama. Anggara di kelas XII IPA 1, Anggia IPA 2 dan Arjuna di IPA 4. Kelas mereka hanya beda satu ruang, selama di sekolah itu pula Anggia tampil sangat jelek. Dia menggunakan kaca mata dan rambut yang di kuncir kuda serta menggunakan gigi palsu. Begitupun dengan sang kakak yang berpenampilan hampir sama, hanya berbeda tidak menggunakan gigi palsu. Hanya Arjuna yang berpenampilan normal dan menjadi pusat perhatian.


Di kelas XII IPA 2. Anggia duduk dengan seorang lelaki yang merupakan ketua kelas IPA 2. Wajah yang biasa saja, akan tetapi selalu menjadi rebutan banyak wanita di sekolah itu. Namanya Rohan, dia yang baik hati selalu berlaku adil pada setiap teman-temannya, tak terkecuali Gia. Hari pertamanya dia sudah mendapat hujatan dan hinaan dari teman sekelasnya.


“Hei, cupu. Lo dulu tinggal dimana? Kayak baru keluar dari peradaban aja.” teriak salah seorang perempuan dengan wajah yang sangat cantik.


“Dia baru keluar dari kutub tuh. Udah jelek, dingin lagi.” seru yang lainnya dengan diiringi tawa yang membahana dari seisi kelas kecuali sang ketua kelas.


“Hei, udah diem! Kerjain tugas kalian cepet. Bentar lagi istirahat loh.” Serunya dengan nada yang sangat tegas dan mereka seketika berhenti serta melanjutkan tugas matematika yang diberikan guru tadi.


“Lo, baik-baik aja kan?” tanya Rohan pada Gia dan diangguki olehnya.


Seisi ruangan kembali dalam mode silent. Tugas yang dikerjakan memang cukup sulit, tapi Gia mampu melaluinya dengan mudah. Sesekali Rohan tampak mencuri pandang ke arah Gia, seakan dalam diri wanita disebelahnya memiliki magnet yang tak bisa dia lepaskan.


“Aneh, kenapa gue harus lihatin nih cewek mulu ya! Ada sesuatu yang berbeda dari nih cewek. Dan kenapa dia santai banget ya ngerjain tugasnya, padahal diakan baru masuk. Emangnya dia ngerti ya?” batin Rohan sambil menatap Gia.


“Kenapa kamu lihatin aku terus?” ucapan Gia membuat Rohan kaget, namun pandangan Gia masih menatap buku.

__ADS_1


“Dari mana lo tahu gue lihatin lo?” tanya Rohan penasaran tapi tidak digubris oleh Gia.


“Lo ngerti tugasnya? Kayaknya nyantai banget ngerjainnya? Atau di sekolah lo dulu udah dibahas ya?” tanya tanpa jeda dan membuat Gia menoleh sesaat lalu melanjutkan tugasnya kembali.


“Hanya berusaha mengerjakan sebisa mungkin. Benar salahnya urusan belakangan, dan nggak penting juga kan kamu tahu semua tentang aku!” ucap Gia dingin tanpa menoleh sedikit pun.


Tett.. Tett…


Suara bel berbunyi menandakan jam istirahat tiba. Semua buku tugas di kumpulkan dan segera dibawa oleh Rohan ke ruang guru. Anak-anak berhamburan ke kantin, hanya Gara dan Arjuna yang berlawanan arah menuju kelas Gia. Kini kedua lelaki itu duduk di samping dan depan wanita dengan tampilan buruk rupa itu. Kedua lelaki itu menceritakan keajdian di kelasnya dan sesekali terdengar canda tawa dari ketiganya.


“Gi, kamu baik-baik aja kan?” tanya kedua lelaki itu bersamaan dan membuat Gia hanya menganggukkan kepalanya yang disertai senyuman getir.


“Cerita kalo ada masalah, jangan sampai kami berdua kena masalah nantinya!” ucap Gara mengingatkan sang adik.


“Widih duo buruk rupa ada di kelas kita!” seru segerombolan wanita memasuki ruang kelas Gia dan ketiga orang didalam ruangan menoleh ke arah pintu.


“Eh, kok pangeran gue ada diantara mereka sih?” tanya seorang wanita dengan wajah sangar dan cemburu.


“Lo anak IPA 4 kan? Kenalin gue Shanti.”ucap cewek bernama Shanti itu di samping Arjuna dan mengulurkan tangannya. Namun, Arjuna mendiaminya dan malah bangkit dari kursi yang di dudukinya.


“Tunggu, aku ikut!” teriak Gara menyusul Arjuna dan melangkah ke ruang kelas Gia dengan tidak memperdulikan tangan Shanti yang masih terulur.


Teriakan Shanti membuat seisi kelas bergema. Rasa kesal yang ditinggalkan Arjuna mampu membuat tatapan sinis untuk Gia. Sungguh ketiga bagian dari keluarga Pradipta tidak mau mencari masalah dengan siapapun. Sebisa mungkin mereka menjauhi orang-orang yang hanya mau memanfaaatkan dirinya. Tak berapa lama rasa kesal yang memuncak membuatnya menggebrak meja Gia dan membuat wanita berkacamata itu kaget.


Bentakan dari wanita dengan kemurkaannya membuat Gia makin cuek bebek. Tidak ingin melayani emosi yang sedang dipancing oleh Shanti. Saat tangan wanita dengan emosi menggebu-gebu itu hendak menyentuh pipi wanita yang masih duduk manis lewat sebuah tamparan. Tangannya hanya menampar angin, ya Gia mengeles. Dia makin kesal dan menyuruh rekan-rekannya memegangi tubuh Gia.


“Jangan sentuh aku, atau kalian dalam masalah besar!” ingatkan Gia pada kedua orang yang mencoba memeganginya. Seketika kedua wanita itu tidak jadi dan memilih meninggalkan Gia.


Bukan tidak berdasar Gia mengatakan hal itu. Jika kedua kakaknya tahu maka nasib mereka bahaya, karena orang tua mereka akan turun tangan. Hal itu yang sangat di jaga oleh Gia. Hanya ingin menjaga nama baik keluarganya juga musuhnya itu. Gia pun tahu bahwa disekelilingnya ada pengawal bayangan dari sang Opa yang bisa mengadu kapan saja. Bel masuk pun berdering. Guru mata pelajaran selanjutnya pun tiba dan segera memulainya. Penjelasan demi penjelasan yang diberikan tak terasa sampai di penghujung waktu.


Gia selalu memerhatikan setiap hal yang di jelaskan oleh sang guru, dan langsung bertanya bila dia tidak mengerti di detik guru itu menjelaskan. Awalnya teman-teman dan gurunya merasa rishi, tapi perlahan mereka mengerti. Jika di tanyakan diakhir penjelasan maka semua akan sia-sia, karena akan lupa. Jam pelajaran pun selesai, Gia bergegas keluar ruangan dan menghubungi sang papa. Sambil menuruni anak tangga bersama kedua saudaranya menuju gerbang sekolah, tak henti dia berkomunikasi dengan sang papa.


Zeyden sudah menunggu ketiga anaknya. Saat melihat orang yang dinanti tiba dan memeluk mereka. Memasuki mobil dan menuju sekolah Rakha, Gia melepas semua atribut yang ia kenakan. Karena sang papa tidak menyukainya, jadi harus segera dilepasnya. Saat mereka memasuki mobil mewah yang dibawa Zeyden, seorang lelaki berpakaian SMA memerhatikan setiap gerakan dari Zeyden dan anak-anak.


***


Sepulang sekolah semua sudah tiba di rumah dan aku pun lebih dahulu sampai. Secepat mungkin aku menyiapkan keperluan anak-anak dan suamiku. Makanan sudah siap semua di meja makan tak lupa rumah pun dibersihkan dengan ekspres. Aku sudah mandi dan wangi menunggu mereka di teras rumah. Setengah empat sore sebuah mobil berwarna merah memasuki pekarangan rumah.

__ADS_1


Aku langsung berdiri dan melihat satu persatu turun dari mobil. Arjuna lebih dahulu di antarkan oleh Zeyden ke rumah Ayah dan baru pulang. Ketiga anakku berlari dan langsung memeluk serta menciumiku. Aku balas perlakuan mereka tak lupa menyuruh mereka masuk dan mandi. Mereka berlalu dan meninggalkan aku juga Zeyden di teras. Aku mengambil tas yang dibawa suamiku sambil mencium tangannya dan merangkul pinggangnya sambil berjalan masuk kedalam rumah.


Aku menemani Zeyden memasuki kamar dan menyiapkan keperluannya untuk mandi. Suamiku makin hari makin tampan dan membuat aku mencintainya setiap detik. Kami selalu berusaha mengungkapkan rasa cinta dan perhatian kepada orang-orang tersayang.


“Anak-anak gimana tadi, Yank?” tanyaku mengenai perkembangan anak-anak hari ini pada suamiku.


“Hafalan mereka makin lancar! Juna juga jadi ikutan loh.” jelas Zeyden dengan antusiasnya dan tak melepas pelukannya.


“Bagus dong kalo gitu. Jadi pembagian tugas antar jemput mereka gimana? Aku juga sudah mulai balik kantor, Yank!” ucapku dengan hati-hati karena takut menyakiti hati Zeyden.


“Hm, kalo kamu nggak buru-buru boleh nganter dia dan aku yang jemput atau sebaliknya aja. Bagaimana menurut kamu? Atau kamu mau berangkat dan pulang bareng?” sahut Zeyden dengan santainya.


“Kalo berangkat bareng bisa sewaktu-waktu aja kali ya! Karena kan tujuan kita beda arah, Yank!” ingatku pada suami tersayang dan dia menganggukinya.


Zeyden yang masih enggan mandi segera aku mendorongnya pelan menuju kamar mandi. Aku hanya tersenyum melihat tingkah suamiku yang kadang suka seperti anak-anak. Aku yang menunggu suamiku mandi, memilih duduk di sofa sambil membaca buku favoritku. Sebisa mungkin aku tidak akan memegang ponsel di rumah. Tidak ingin kebersamaan kami terhalang oleh gadget. Aku membahas masalah kinerja perusahaan pada kakakku dan membaca grup SMA.


Krek..


Suara pintu terbuka dan segera kuletakkan ponsel dari tanganku. Kini Zeyden yang sudah rapi dan wangi langsung memelukku. Satu hal yang membuat aku ingin tertawa melihat tingkah anehnya adalah mengajakku berdansa. Bukan karena aku hamidun ya, karena memang dianya yang sedang ingin romantisan sama aku. Namun, hal itu bikin aku aneh dengannya. Zeyden tak pernah sekali pun bersikap demikian.


Aku yang tak sanggup menangani sikap aneh suamiku tercinta segera mengajaknya turun dan bergabung dengan anak-anak. Sesampainya di ruang makan mendadak dia menyetel mp3 dari ponselnya dengan lagu My Love dari Westlife. Seketika anak-anak menatap kearah ayah mereka dengan tatapan tak percaya apa yang disaksikannya.


Kami semua hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Namun, tidak mengurangi nilai kebersamaan kami dalam menyantap makan bersama yang indah kali ini. Hanya senyuman yang menghiasi makan kami, karena lagu itu membuat kami terbuai. Terkadang terdengar potongan lirik lagu yang keluar dari mulut suami juga anakku. Terlebih lagu berikutnya membuat aku makin geleng-geleng kepala. Selain kemerduan suara anggota suaraku.


“Will I ever see you smiling back at me? How will I know if I let you go?” potongan lirik lagu yang membuatku makin gregetan dari mulut suami dan anak-anak saat menyanyikan If I Let You Go dari Westlife.


“Hei, makanlah yang benar, jangan nyanyi dulu nanti setelah makan silakan kalian lanjutkan.” gerutuku dan hanya diangguki oleh keempat orang di sekelilingku.


Mereka malah mempercepat makannya hanya untuk bisa menikmati kebersamaan dan bernyanyi kembali. Anak dan ayah sama-sama mulai tak waras jika hobinya sudah menggebu seperti sekarang. Kubiarkan mereka segera ke ruang keluarga dan aku masih menikmati makan seorang diri. Selesai makan aku langsung membereskan semua peralatan makan yang kotor. Terdengar mereka sudah mulai aksinya, aku hanya mendengarkannya dari dapur, karena tugasku yang belum kelar.


“Ma. Mama dimana?” teriak Rakha mencariku dan aku hanya diam tak menjawabnya.


Ma, Ade mencari Mama. Hayu gabung!” serunya sambil menarik-narik tanganku untuk segera bergabung, tapi aku langsung mengangkat kedua tanganku yang masih berbusa.


“Mama, sedang mencuci perabotan sayang!” sahutku dengan lembut dan mencium pipinya sekilas.


Besar keinginnya untuk aku bergabung, dia langsung membantuku membilas perabotan yang sudah kucuci. Mau tidak mau aku mempercepat gerakan mencuciku agar dia tidak kecewa dengan sikapku. Paling tidak bisa aku melihat anak-anak menaruh harapan padaku. Setelah selesai dengan tugasku aku langsung bergabung. Anak-anak memintaku bernyanyi, sudah sangat lama suaraku tidak kukeluarkan untuk olah vokal. Malas, hanya satu kata itu yang ada dalam hidupku untuk bernyanyi. Mereka memohon kepadaku untuk menyanyikan satu buah lagu favoritku yang ingin mereka dengarkan.

__ADS_1


__ADS_2