Relung Langit

Relung Langit
Part 140


__ADS_3

Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..


Betewe end de baswey..


Kesayangan aku semuanya.


Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??


Ready...


***


Aku peluk diri anakku dari belakang dan seketika ia menangis. Sakit rasanya aku mendengar tangisan putra pertamaku. Kuelus kepalanya dan kuseka air matanya, semakin sakit ketika dia tidak berhenti menangis.


"Apa aku bukan anak kandung, Papa dan Mama?" tanyanya dengan curiga.


"Kamu tahu perjuangan Mama melahirkan kamu itu taruhannya nyawa. Kamu tahu seberapa gilanya Papa berusaha menyelamatkan kita. Jadi apa itu tidak menguatkan bahwa kamu anak kami?" tuturku dengan air mata mengingat perjuanganku dahulu.


Tanpa kusadari semua sudah mengerubungi kami semua. Kedua orang tua Rohan pun meminta maaf akan kesalah pahaman dirinya terhadap Zayyan. Usai tadi Gia menceritakan kedekatan mereka satu sama lain.


Kedamaian pun terjalin kini, Zayyan yang berhati lembut langsung memaafkan begitu saja kedua orang tua Rohan. Mereka semua kembali ke kamar masing-masing di hotel itu. Berbeda dengan Zayyan yang ikut denganku dan Zeyden ke kamar.


Di dalam kamar Zeyden menceritakan semua kejadian waktu persalinan putra pertamanya itu. Dimana ia sempat harus kehilangan kedua orang yang berarti dalam hidupnya. Bagaimana dia memarahi kedua kakak iparnya yang datang menjenguk putranya itu.

__ADS_1


Zeyden terua berusaha mengembalikan kepercayaan diri putranya. Bahwa dia adalah anak sulung di dua keluarga besar itu. Zayyanlah cucu pertama dari dua keluarga kami.


Bagai anak kecil yang didongengi oleh papanya. Zayyan dan Zeyden yang duduk di ranjang dengan bersandar pada bedboard. Kini posisinya berubah kepala Zayyan berada di dada bidang sang papa dengan sambil mengusap kepalanya diiringi cerita perjalanan hidup Zayyan.


Zayyan pun terlelap dalam rangkulan sang papa. Ia menyelimuti putranya dengan selimut yang hangat. Dirasa dia sudah pulas kami ke kamar Gara dan Rakha, meminta bertukar kamar. Beruntung mereka menuruti permintaan kami.


Di kamar yang terdapat Zayyan, kedua adiknya baru pertama kali melihat sang kakak yang rapuh akibat fitnah dari orang tua adik iparnya. Rasa sayang dan hormat yang dimiliki Zayyan seakan tak ingin mertua adiknya malu. Ia membiarkan dirinya terluka karena tak mau siapapun merasakan malu.


"Kak, kamu terlalu baik pada orang lain. Dirimu sama dengan tuan putri kita. Masih memikirkan nasib orang lain!" gumam Gara sambil mengelus wajah sang kakak yang sangat damai dalam tidur lelapnya.


"Sayangnya kita tidak bisa seperti mereka ya, Kak!" seru Rakha kepada Gara dengan tatapan sendu.


"Iya, De. Kita harus bisa menjaga merek berdua juga orang tua kita. Kita yang ditakdirkan Allah untuk lebih kuat dalam menghadapi cobaan serta menguatkan mereka." jelas Gara dan diangguki oleh Rakha.


"Ade, harap Opa tidak mendengar masalah tadi. Atau nasib mereka akan sama dengan keluarga Shanti." ucap Rakha penuh harapan.


Saking ngerinya membayangkan kedua opanya yang drastis berubah sangar kemarin membuat mereka memilih untuk tidur lebih cepat. Karena membayangkan kemarahan sang opa membuatnya ngeri.


***


Keesokan paginya, Zayyan bangun dan sudah sadar bila itu bukan dikamar mereka bertiga. Melihat cara tidir kedua adiknya membuatnya gemas. Bagaimana tidak gemas, kali Gara ada di atas perut Zayyan dan ketiak Rakha ada tepat di depan wajah Zayyan.


Untung mereka kedua adiknya jika tidak sudah habis dimarahi. Tak ingin kedua adiknya terbangun akibat ulahnya, dengan perlahan dia turunkan kaki Gara dan menggeser tubuh Rakha. Setelah terbebas dari masalah tidur kedua adiknya dia segera mandi dan bersiap diri.

__ADS_1


Hari ini iya ingin menikmati jalan-jalan di Jakarta selama ia liburan. Devika sudah bangun dan juga bersiap diri. Ia yang tidak pernah datang ke Indonesia membuatnya penasaran dengan keindahannya.


Dalam waktu yang tersisa dua minggu lagi, Zayyan dan Devika meminta kepada ayahnya masing-masing untuk berlibur keliling Indonesia. Keinginan mereka pun di sanggupi oleh orang tua mereka. Kebahagiaan anak nomer satu tapi dengan syarat, mereka harus baik dalam kuliahnya dan bersikap jujur untuk mendapatkan nilai terbaik.


Arjuna, Devika dan Zayyan sudah menunggu di restoran hotel tersebut. Mereka makan tanpa menunggu yang lainnya. Canda tawa mereka lakukan bersama sambil menikmati makanan yang mereka ambil.


Tak berapa lama Gia dan Rohan bergabung bersama saudara-saudaranya. Devika yang berubah ekspresi wajahnya saat kedatangan Rohan membuat mereka semua tidak nyaman.


"Normalkan ekspresimu, Vik!" pinta Zayyan dan dingguki oleh Devika.


"Pagi semuanya!" sapa asangan pengantin baru itu.


"Udah ngapain aja semalem?" goda Arjuna dengan polosnya dan membuat kedua orang itu memerah.


"Kami belum ngapa-ngapain kok. Nanti nunggu waktu pas, karena aku juga kan baru kedatangan tamu bulanan usai acara resepsi semalem." jelas Gia dengan polosnya.


"Polos bener si Gia ini. Nggak perlu diceritain detailnya kali." ucap Devika membuat semua tertawa.


"Kak Zayyan maaf ya akan kejadian semalem!" seru Rohan dengan wajah memelasnya.


"Nggak ada yang perlu dimaafkan. Sekarang buka lembaran baru ya!" seru Zayyan sambil menepuk pundak sang ipar.


***

__ADS_1


Hai kesayanganku, sudah aku panjangin..


Jadi jangan lupa jempol, share, komen dan vote sebanyak-banyaknya.


__ADS_2