Relung Langit

Relung Langit
Part 156


__ADS_3

Sinar mentari perlahan memasuki celah-celah gorden yang sedikit terbuka. Setitik kehangatannya membuat seseorang terpaksa membuka matanya. Aroma maskulin yang melesak ke dalam indera penciuman membuat kedamaian tersendiri. Kungkungan tangan kekar membuat ia tak bisa bergerak.


Bulu mata nan lentik, rahang yang kokoh dengan jenggot di sekelilingnya. Rambut hitam tebal menambah ketampanan maksimal untuk lelaki dalam dekapannya. Tak sadar jika kharisma orang di depannya sangat kuat, siapapun bisa bertekuk lutut oleh wajahnya itu.


Entah mengapa hati lelaki itu sulit tuk dijangkau oleh wanita diluaran sana. Entah mengapa langitnya tak mampu tersentuh wajah-wajah cantik. Hanya heran ketampanannya mampu memikat banyak gadis tapi tidak dengan hatinya.


"Euh," Zayyan meregangkan otot-ototnya.


"Morning my hubby," ucap Aleta dengan lembut.


"Morning," sahutnya sambil mengecup kening Aleta.


Wanita itu dibuat terkesima dengan sikap suami barunya itu. Belum mencintainya tapi sudah bersikap sangat manis. Hati wanita mana yang tak kan luluh jika mendapatkan perlakuan semanis itu.


"Sudah lebih baikkah?" tanyanya sambil mengambil gelas berisi air minum di nakas.


"Alhamdulillah sudah. Mas mau mandi? Saya siapkan airnya dulu," ucap Aleta bangkit dari kasur.


"Kamu mandi lebih dulu saja, aku setelah kamu." sahutnya sambil meletakkan gelas dan diangguki oleh wanita yang bergegas ke kamar mandi.


Zayyan memang bersikap baik kepada isterinya, walau dia belum mencintai wanita itu. Sebagai seorang manusia kita harus bersikap baik terhadap sesama. Itulah yang sedang dia lakukan. Mungkin dengan sikapnya itu, lelaki dingin itu bisa mencintai isterinya.


Zayyan hanya memainkan ponselnya sambil menunggu Aleta selesai mandi. Dia lupa jika wanita mandi akan memakan waktu cukup lama. Bosan akhirnya dia melakukan push up dan sedikit olah raga ringan di dalam kamarnya.


Satu jam tiga puluh menit akhirnya Aleta keluar dari kamar mandi. Zayyan hanya tersenyum tanpa mencela sedikit pun. Rasa kesal menunggu isterinya mandi tidak ada dalam kamus seorang Zayyan.

__ADS_1


Drrt.. Drrt..


Aleta melirik ke arah nakas di mana ada ponsel suaminya. Tertera nama my queen, sudah bisa terbaca dengan jelas bahwa sang mamalah yang menelepon. Aleta mengambil ponsel itu dan menyerahkan pada suaminya yang masih melakukan pendinginan.


"Mama telepon sepertinya!" seru Aleta, karena ia tahu tak ada wanita lain selain keluarga dihati suaminya itu.


"Makasih," sahutnya menerima ponsel dari Aleta dan dia tak membiarkan sang isteri pergi.


Zayyan langsung mengangkat panggilan video dengan Aleta dipelukannya. Lelaki itu menaruh wajahnya di pundak sang isteri, saat sang mama sudah di seberang telepon.


"Morning, my mom!" sapa Zayyan dengan nada manjanya membuat Aleta geleng-geleng kepala.


"Morning, sayang. Inget sudah punya isteri masih manja saja sama mama." ledek diriku membuat keduanya memerah.


"Nggak masalah. Asal mama juga bisa memanjakan aku seperti memanjakan, Mas." sahut Aleta dengan senyuman manisnya.


"Kamu dan Banyu sudah bagian keluarga Thamrin Pradipta, jadi kalian berhak mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sama seperti yang lainnya. Tegur kami jika merasakan perbedaan cinta yang kami berikan pada kalian semua." jelasku dengan lembut kepada Aleta dan dia menitikkan air matanya.


"Ma, lihat isteri Zay menangis karena mama. Tanggung jawab ya!" ucap Zayyan meledek diriku sambil mengusap air mata Aleta.


"Maafkan Mama sayang. Untuk kali ini tidak bisa bertanggung jawab. Karena kami semua sudah berangkat ke Lombok pagi-pagi buta. Mama menelpon hanya ingin bilang Banyu kami bawa dan titip rumah juga anak mantu mama ya!" segera telepon terputus usai diriku mengatakan tujuan awal.


Ya, kami semua memang sengaja liburan untuk meninggalkan pasangan baru itu berdua. Tujuannya agar mereka saling dekat, jika kami masih bersama bagaimana mereka bisa saling mengenal satu sama lain.


Zayyan dan Aleta hanya melongo berusaha mencerna setiap perkataan dariku. Zayyan mencoba melepaskan pelukannya untuk sang isteri dan duduk di sofa. Dia masih tidak percaya jika ditinggal berdua dengan sang isteri barunya.

__ADS_1


"Mas, jadi kita hanya berdua di sini? Lalu bagaimana keadaan Banyu? Aku belum bertemu dengannya dari kemarin." ujar Aleta sambil duduk di sebelah Zayyan.


"Sepertinya begitu, sayang! Semoga Banyu baik-baik saja selama ada papa." sahut Zayyan tanpa sadar mengucapkan kata sayang dan itu membuat Aleta membelalakkan matanya.


"Tadi kamu bilang apa, Mas? Sa.. sayang? Boleh aku mendengar kamu mengatakan sekali lagi?" ucap Aleta sambil menangkup wajah Zayyan.


"Kamu salah dengar kali tadi. Aku nggak mengatakan kata itu," kilahnya dengan wajah yang sudah memerah dan Aleta hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang malu-malu. Tanpa sadar dia langsung mengecup pipi Zayyan.


"I love you!" ucap Aleta dengan nada pelan namun mampu terdengar oleh Zayyan dan dibalas pelukan hangat dari suaminya.


Zayyan bersikap manis hanya mencontoh para orang tuanya. Berharap suatu hari nanti bisa seperti sang mama yang jatuh cinta sama papanya. Bahkan hingga kini rasa cinta itu kian tumbuh semakin besar.


***


Pasangan pengantin baru itu sudah kembali ke rumah. Di sana sangat sepi, biasanya teriakan Rangga dan Amara menghiasi jam-jam sore seperti ini. Perdebatan Rakha dengan Gara hanya karena lauk mendadak di rindukan oleh Zayyan.


Dia membawa Aleta ke kamarnya. Wanita itu sangat terkesima dengan nuansa laut di kamar Zayyan. Dia duduk di kasur sambil mendengarkan cerita Zayyan mengenai keseharian di rumah itu. Bahkan letak-letak kamar ia definisikan semua.


Ada kamar Gia yang kosong tapi masih sering di pakai Rangga di siang hari. Terkadang adik iparnya juga sering istirahat di kamar itu. Rumahnya memang sangat strategis dekat dari mana pun. Baik tempat kerja mereka atau sekolah para si kecil.


Zayyan juga sudah berencana mengurus sekolah Banyu yang sama dengan keponakan juga adik kecilnya. Aleta tak menyangka jika suami barunya sudah matang akan semua hal termasuk anaknya. Rasanya sulit dipercaya jika lelaki dihadapannya belum mencintai dirinya sedangkan sikap yang diberikan berbanding terbalik.


Setengah hari mereka berdua menghabiskan waktu di kamar. Ah, bukan untuk melakukan kewajiban masing-masing. Mereka hanya saling bertukar cerita mengenai kehidupan sebelum menikah. Zayyan yang berpikiran terbuka selalu menanggapi dengan baik.


Tak jarang canda gurau mereka lontarkan. Mereka juga sepakat menunda honeymoon sampai rasa cinta keduanya sudah mekar. Jika masih benih-benih saja tak akan dilakukan. Zayyan selalu mengatakan "ceritakan keluh kesahmu hanya padaku, agar aku bisa berguna sebagai seorang suami. Aku lelaki yang sangat kurang peka jadi bimbing aku!" Kata-kata itu sellu terlontar untuk memyakinkan sang isteri.

__ADS_1


__ADS_2