
Hai guys, apa kabar kalian?
seberapa kangen kalian sama keluarga Zeyden??
mau lanjut nggak nie..
Maaf ya kemarin nggak bisa up, karena urusan pekerjaan yang nggak bisa di tinggal.
maaf juga aku baru up ya guys.. semua kulakukan hanya untuk kalian..
lope lope buat kalian dan i miss you gaes muuaaacchh..
***
“Kak, kamu hari ini masih pake gigi palsu?” tanyaku saat dia sedang memasang gigi palsunya.
“Iya, Ma. Habisnya kalo dilepas pasti jadi heboh deh.” sahut Gia dengan wajah berbinar-binar.
“Ade takut ada yang ngejar-ngejar kayak di desa dulu, Ma.” ledek Gara dengan cengengesan.
“Kakak!!” teriak Gia yang tak terima di ledek terus oleh sang kakak.
“Coba ada Kak Zayyan, pasti aku selalu dibela sama dia. Nggak kayak Kak Gara yang selalu usil.” gerutunya dengan wajah ditekuk.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah anak kembarku yang sikapnya bagaikan langit dan bumi. Tapi secara keseluruhan mereka lebih mirip sang papa. Tak berapa lama akhirnya sampai juga di sekolahan mereka, aku langsung meninggalkan mereka. Setelah gerbang di tutup oleh satpam. Kukemudikan mobil dengan agak cepat, segera ingin aku sampai rumah dan memasak makanan kesukaan anak-anak. Tak sabar aku menantikan malam. Tak berapa lama aku sampai dirumah dan secepat mungkin aku menuju dapur. Aku asyik berkelut di dapur dengan membuat masakan yang sangat disukai anggota keluargaku. Ponselku yang berderingpun tak kugubris karena sedang asyiknya.
***
Malampun tiba. Anak-anak sudah makan dan segera kami langsung memasuki kamar masing-masing begitupun aku. Aku tidak memasuki kamarku tetapi kamar Gia. Sesuai rencana kami akan menghabiskan malam ini berdua. Kebetulan besok adalah hari minggu, jadi kami berencana begadang. Kami berdua sudah duduk di ranjang sambil bersandar. Gia masih enggan membuka suara mengenai hal yang akan dia bicarakan.
Aku lebih memilih membelai rambutnya dan sesekali menceritakan tentang kakaknya yang di London. Semua hal tak kubiarkan ada yang terlewat dari ceritaku. Dia sangat antusias mendengar ceritaku. Sampai di satu titik dia penasaran dengan sikap perubahan Zeyden dan mengajukan sebuah pertanyaan.
“Ma, Gia boleh tahu nggak. Kenapa papa sikapnya bisa dingin banget ke orang lain? Sedangkan ke kita-kita nggak? Apa papa dari dulu sikapnya memang begitu?” tanya putriku sambil menatapku dalam dan aku menghentikan belaian.
“Nggak, sayang. Papa itu orangnya sangat hangat sekali, sejak kamu dan Kak Gara lahir, barulah dia berubah.” jelasku mengenai sikap Zeyden yang memang berubah sejak kelahiran si kembar.
“Boleh ceritain ke aku, Ma?” pinta Gia memelas kepadaku.
“Nanti ya, sayang. Mama ijin Papa dulu!” sahutku dengan nada penuh kelembutan.
“Baiklah, Ma.” sahutnya dengan wajah sedih.
“Sayang ceritain dong tentang sekolah kamu. Mama mau denger nih!” aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Gini, Ma. Kemarin itu waktu masuk sekolah pertama kali ada yang berusaha buat aku keki!” ucapnya dengan penjelasan mengenai hari kemarin.
“Tapi yang kemarin biarin aja deh, Ma. Aku ceritain hari ini aja ya!” serunya dengan penuh semangat.
Flash Back On
Selepas turun dari mobil Gia langsung menuju kamar mandi lebih dulu. Di kamar mandi wanita ia merapikan pakaiannya dan tatanan rambutnya. Saat sedang merapikan rambutnya tiba-tiba air jatuh di atas kepalanya. Kesal, marah menjadi satu. Ponsel kesayangannya tak luput menjadi korban kekejaman sang pelaku. Pelaku yang tak lain adalah Shanti dan teman-temannya yang kemarin tidak bisa melakukan sesuatu kepada Gia.
Kekesalan Gia dibalas dengan senyuman di wajah cantiknya itu. Secara tidak langsung makin menyulutkan emosi pelaku dan pengikutnya itu. Mereka makin melakukan tindakan bullying yang lebih kejam, Gia hanya pasrah menerimanya. Membiarkan semuanya melakukan kekerasan fisik di badannya, bukan di wajah, lengan dan kaki. Jika ketiga bagian tubuh itu terluka maka dia akan marah. Karena ketiga bagian itu terluka maka akan menyebabkan kemarahan keluarga besarnya. Itu yang selalu Gia takuti, tidak mau menyusahkan orang lain. Bukan tidak mau melawannya, Gia memiliki beberapa jurus ilmu bela diri dari beberapa cabang.
Bel masuk pun berbunyi. Mereka meninggalkan Gia seorang diri di kamar mandi dengan pakaian basah kuyup. Dia juga tidak bisa menghubungi siapapun karena ponselnya sudah mati total akibat direndam di dalam wastafel. Wanita cantik itu hanya bisa ke ruang guru minta ijin untuk ke koperasi membeli seragam baru.
Setelah membeli seragam baru dia segera bergegas. Perih dari perutnya membuat dia meringis kesakitan, tapi dia berusaha menahannya. Selama jam pelajaran dia tidak bisa konsentrasi sehingga membuat Rohan sedikit perhatian.
“Lo, baik-baik aja?” tanya Rohan penuh perhatian dan Gia menganggukinya dengan senyuman palsunya.
Lo, sakit ya?
Tulis Rohan pada secarik kertas dan diberikan kepada Gia. Wanita dengan gigi palsunya itu menatap kearah Rohan dan membala isi surat itu.
Kepo deh.
__ADS_1
Rohan tersenyum mendapat balasan dari wanita di sebelahnya dengan senyuman manis yang dia lontarkan. Dia pun kembali menulis di kertas yang sama dan segera menyerahkan kepada rekan sebangkunya.
Cerita aja, gue udah tahu siapa lo.
Sontak Gia menatapnya tajam dan wajahnya berubah sangat dingin. Gia berpikir dari mana dia tahu tentang dirinya. Padahal dia dan keluarganya berusaha menutupi siapa dia di sekolahan itu. Rohan hanya menaikkan bahunya dan tersenyum manis.
“Dari mana kamu tahu tentang aku?” Gia tidak terbiasa menggunakan bahasa lo gue, jadi semarah apapun dia akan menggunakan bahasa aku kamu.
“Nanti gue jelasin. Sekarang kasih tahu gue, lo kenapa?” bisiknya di telinga Gia dan hal itu membuat wanita yang dibisikkannya itu canggung.
Seketika itu pula Gia langsung membuang pandangannya dari Rohan dan kembali memperhatikan guru yang menerangkan. Tak terasa jam istirahat pun tiba, kedua lelaki yang dari kelas berbeda menghampiri Gia di kelasnya. Kedua lelaki itu sangat peka kepada saudarinya itu sampai detail. Mata mereka melihat ke badan Gia dengan tatapan menyelidik.
Gara dan Juna saling lempar pandangan seakan memberi isyarat ada yang tidak beres. Seketika itu juga mereka duduk langsung di hadapan Gia dan Rohan. Sang ketua kelas yang ingin keluar kelas pun di hadang oleh kedua lelaki itu. Ya, mereka meminta Rohan menjelaskan semuanya.
“Gue, nggak tahu apa-apa ya!” serunya seakan tahu apa yang diminta oleh kedua lelaki di hadapannya kini.
“Mau cerita atau kita bilang Opa?” ucap Juna dan Gara bersamaan dengan nada sedikit mengancam.
“Okey, Gia cerita.” Pasrahnya Gia pada sang kakak yang takut jika teman-temannya kena dampak kemarahan sang Opa.
“Ini baju baru, tadi beli di koperasi, baju Gia basah karena di siram sama teman Gia sebagai salam perkenalan. Lalu ponsel Gia mati ke rendem di wastafel.” Ucapnya singkat dan hanya bagian penganiyaan yang dia tutupi.
“Siapa yang berani ngelakuin itu sama lo? Dan kenapa lo nggak bilang ke guru BK?” cerocos Rohan yang merasa tak berguna menjadi seorang pemimpin.
“Santai Ro, aku baik-baik aja kok. Nggak perlu lapor juga kan!” sahut Gia dengan menaikkan alisnya sebelah.
“Tapi dari tadi lo masuk kelas, lo meringis kesakitan sambil megangin per..” ucap Rohan terpotong oleh ijakkan kaki yang diberikan GIa.
“Auw.. Sakit, Anggia.” Teriak Rohan di telinga Gia.
“De, jelasin semua jangan di tutupin atau kakak segera telepon Daddy!” ancam Gara dengan tatapan tajam dan tak ingin di bantah.
“Iya. Gia di pukulin di bagian perut. Sekarang rasanya perut Gia mati rasa dh saking sakitnya tonjokkan itu.” Tutur Gia jujur dan membuat ketiga lelaki itu membelalakkan mata.
“Abang ijin ke guru piket ya, kita pulang!” seru Juna tak ingin Gia kenapa-napa karena bisa habis kena sabda sang ayah dan Opanya.
“Jangan Bang. Gia bisa tahan kok!” ucapnya sambil menahan tangan Juna yang hendak pergi dari duduknya.
“Gue beliin minuman yang anget dulu ya!” teriak Rohan sambil melompat bangku Gia.
Juna dan Gara sudah mengepalkan tangannya menahan amarah terhadap pelaku yang berani-beraninya menyakiti adiknya. Gia yang merasakan amarah kedua saudaranya hanya mampu mengusap tangan mereka dengan lembut. Ketenangan akhirnya dirasakan lelaki itu.
“Jangan bilang sama siapapun, plis!” mohon Gia pada kedua saudaranya.
“Siapa orangnya?” Gara mulai menaikkan nada bicaranya kembali saat mengingat kejadian sang adik.
“Teman sekelasku.” Lirih Gia dengan nada agak takut.
Flash Back Off
Aku seketika marah mendengar cerita dari putriku. Amarahku hanya bisa aku tahan dan tak ingin putriku melihat rasa kesalku. Dia kembali menceritakan luka-lukanya dan memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang masih terasa sakit. Ada memar di bagian perutnya, aku tak tahan melihat tubuh anakku seperti itu. Kami menjaganya dengan hati-hati kini ada orang asing yang berani melakukan hal itu.
Aku langsung mengambil ponsel dan memotret setiap jengkal memar yang ada ditubuh putri kesayanganku itu. Tak terasa air mataku mengalir dengan derasnya saat mengelus memar-memar itu. Ibu mana yang tidak sakit melihat anak-anaknya merasakan sakit. Gia menghapus air mataku yang terus keluar sambil ia mengucapkan kata maaf. Maaf tidak bisa menjaga dirinya sendiri, walau sudah dibekali ilmu bela diri.
Saat permintaan maafnya itu aku ingin rasanya menggantikan posisinya. Bukan salahnya, tetapi salahku. Andai aku bisa memberi tahu siapa anak-anakku mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Andai dan andai hanya itu yang terlintas dalam kepalaku saat mengecup kepala anakku.
My Husband
Cepat pulang! Anakmu terluka.
Tak ada respon dari Zeyden membuat aku marah sendiri. Aku tahu suamiku lembur karena ada operasi. Pikiranku mendadak kosong, entah kemana perginya. Aku hanya terus menyalahkan diriku sendiri. Dan tanpa sadar aku mengirim ulang luka memar itu kepada Kak Aryan. Secepat mungkin dia membalasnya.
***Mr. A
Siapa yang terluka?
__ADS_1
Priyanka Pradipta Putria
Gia
Mr. A
Kenapa?
Priyanka Pradipta Putria
Bullying disekolahnya***.
Aku mengirim serta membalas pesan itu kepada kakakku tanpa sadar. Lima belas menit akhirnya aku sadar jika yang aku lakukan salah. Tapi semua telah terlambat, Kak Aryan sudah menyebarkan info itu kepada Ayah dan Kak Bryan. Mereka semua langsung tersulut emosi dan mendatangi rumahku dalam waktu yang sangat cepat.
Ting.. Tong..
Suara bel rumah berbunyi, anak-anak sudah terlelap. Kulangkahkan kaki menuju pintu utama, disana sudah ada beberapa orang yang sangat aku sayangi. Mereka semua datang dengan wajah merah padam. Aku tahu mereka sangat marah dan seketika masuk ke dalam rumahku dengan melewatiku begitu saja. Mereka langsung menuju kamar putriku dan sesampai di tepi ranjang salah satu dari mereka menyingkap selimut juga baju putriku sampai batas perut.
Mata mereka terbelalak dan langsung menatapku meminta pertanggung jawaban. Aku hanya mampu mengangkat bahu sebagai jawaban membuat mereka tidak puas. Kulirik jam di dinding menunjukkan pukul dua belas malam lewat lima belas. Diam di tempat sampai terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Langkahku langsung menuju ke depan, kulihat suamiku telah tiba.
“Assalamualaikum.” Ucapnya sambil memasuki rumah.
“Waalaikumsalam.” Sahutku sambil mencium tangan dan mengambil tas kerjanya.
“Ayah dan yang lainnya menginap disini, Yank?” tanya Zeyden yang masih belum mengetahui apapun.
“Kamu sudah lihat pesanku?” tanyaku dengan sedikit menyelidik.
“Aku belum sempat, kenapa?” ucapnya sambil membuka sepatu dan membuka satu kancing bajunya.
“Anakmu di bully!” seru Kak Bryan dengan wajah memerah.
“What? Siapa yang di bully?” ucap Zeyden setengah berteriak dan bangun dari duduknya.
“Putri kalian. Kami akan bawa hal ini keranah hukum. Tidak peduli kalian setuju atau tidak, yang pasti ini jelas tidak benar.” Tegas Kak Bryan tanpa ingin di bantah.
Zeyden langsung berlari ke kamar putriku dan melihat keluargaku disana. Suamiku kembali turun dan mengambil tas kerjanya. Dia memeriksa keadaan putrinya. Setelah mengetahui hanya memar. Tanpa pikir panjang dia membopong tubuh Gia keluar rumah dan memasukkannya kedalam mobil. Aku masih bengong melihat tingkah Zeyden, seketika aku tersadar dan mengejarnya dengan mobilku.
Zeyden langsung membawa Gia yang masih tertidur dengan pulasnya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit dia langsung meminta pegawainya melakukan beberapa tes dan pemeriksaan kepada putri kami. Secepat kilat pegawai Zeyden langsung menangani Gia, suamiku sudah setengah berteriak-teriak meluapkan emosinya.
“Yank, jangan teriak-teriak!” seruku sambil mengelus punggung suamiku namun tanganku untuk pertama kalinya ditepis olehnya.
“Kamu nepis tanganku, Yank?” lirihku sambil melihat tanganku dan dia menoleh kearahku.
“Yank!!” teriaknya saat aku meninggalkannya.
Aku duduk di bangku taman tak percaya apa yang terjadi hari ini membuat diriku bingung. Mulai anakku yang terluka, kini suamiku yang mengacuhkan aku. Sedih rasanya mengalami hal ini seperti itu sekarang. Kak Bryan tiba di rumah sakit dan mengambil hasil pemeriksaan juga laboratorium. Berkas itu dibawa Kak Bryan untuk diserahkan kepada pihak berwajib.
Zeyden menghampiriku dan meminta maaf sambil berlutut. Aku tidak marah padanya. Saat itu aku hanya emosi dan sekejap memeluknya disertai tangisan. Zeyden tidak mengatakan apa-apa padaku selain memeluk dan menenangkanku. Setelah keadaanku tenang dia, hanya ingin tahu bahwa putri kecilnya baik-baik saja. Tak ada hal yang fatal dalam tubuh putri kecil kami itu.
“Gia, baik-baik saja. Tadi sempat ada pembekuan darah dalam tubuhnya, tapi sudah di atasi oleh dokter-dokter disini!” seru Zeyden sambil memegang tanganku.
“Apa perlu kita kembali ke desa saja, untuk keamanan anak-anak? Aku takut hal ini terjadi lagi sama anak-anak, Yank?” tanya Zeyden khawatir akan keselamatan anak-anak kami.
“Kejadian ini jauh lebih seram dari pada pemberitaan infotaiment, Yank. Aku nggak sanggup jika anak-anakku terluka lagi!” celetuk Zeyden.
***
***Aish.. bikin aku gregetan aja deh ah..
kesel deh sama Gia, tapi tujuannya baik sih..
yuks atuh, vote, share dan like juga comment ya guys.. kesayangan aku banget deh kalian..
btw udh komen meleleh blm ya***??
__ADS_1