
Enjoy for reading gaes..
.
.
Tak lama Amara terbatuk dengan mengeluarkan air dari mulutnya. Zeyden segera memeluk sang putri kecilnya dan membopongnya ke cottage. Semua mengikutinya. Air mata Priyanka terus saja mengalir dan menyusul langkah sang suami. Namun, langkah wanita cantik itu terhenti karena tangannya tertahan seseorang.
Dia menoleh ke belakang dan menatap wajah orang yang menahan tangannya itu. Senyuman ia lontarkan untuk kebahagiaan lelaki di depannya. Dia menangkup wajah tampan itu yang sudah dibasahi air mata. Jemari Priyanka menghapus jejak air mata itu dan memeluk lelaki tampan itu.
"It's okay," ucap Priyanka dan menciumi wajah anak sulungnya.
"Maafin Zayyan, Ma. Zayyan lalai menjalankan tugas menjaga Amara. Maaf Ma." isaknya dengan penuh penyesalan.
"Bukan salah kamu sayang. Tadi denger sendiri kan apa yang dijelaskan sama Rangga! Amara memang baik jadi dia tidak akan bisa diam saat orang kesusahan. Jangan salahkan dirimu ya! Yuk, kita lihat adik kamu." tutur Priyanka dengan penuh cinta dalam ucapan yang terlontar.
"Zay, takut mereka marah sama Zayyan yang nggak becus ini, Ma." ucap Zayyan yang takut akan kemarahan keluarga besarnya.
"Siapa yang kamu takuti? Papa, Daddy atau Opa?" tanya Priyanka dan pertanyaan itu jelas membuat langkah Zayyan terhenti.
"Hayo, mereka nggak akan memarahi kamu, sayang. Karena kamu nggak salah." Wanita itu menarik tangan anaknya untuk bergabung dengan yang lainnya.
"Wajar kamu merasa salah, tapi bukan kamu yang salah sepenuhnya. Kamilah yang salah, sayang membiarkan mereka bermain tanpa kami selaku orang tuanya. Jangan merasa bersalah atau mama akan jauh lebih sedih." ucap Priyanka yang langsung mendapatkan pelukan dari si sulung.
Ibu dan anak itu melangkahkan kakinya ke cottage. Zayyan merangkul bahu sang mama dengan erat. Jika dilihat-lihat keduanya seperti bukan orang tua dan anak. Wajah Priyanka sama sekali tidak ada kerutan walau usianya sudah lanjut.
Sesampainya di penginapan, semua mata memandang ke arah Zayyan. Priyanka yang mengetahui anaknya sedikit tersudutkan pun angkat suara "sudah, nggak perlu ada yang disalahkan. Kalau harus disalahkan kita semualah yang salah. Kalian paham." Priyanka membawa Zayyan menghampiri putri kecilnya yang tengah berbaring.
"Maafkan kakak ya. Kakak sangat ceroboh." lirih Zayyan yang duduk di samping Amara sambil mengelus kepala adik bungsunya.
__ADS_1
"Kakak nggak salah. Ara yang salah karena nggak nurut sama perintah kakak. Maafin Ara ya kak." sahut Amara dengan suara yang melemah dan Zayyan hanya menganggukkan kepala.
"Maaf." ucap Zayyan menoleh ke keluarga besarnya dan diangguki oleh semuanya.
***
Amara sudah kembali sehat. Kini mereka semua bersiap melanjutkan keliling Belitung. Sekolah Laskar Pelangi, Rumah Ahok dan museum kata pun akan mereka singgahi. Tak dibiarkan satu tempat pun yang tak mereka kunjungi. Kebahagiaan sudah kembali menyelimuti keluarga Zeyden. Hanya hitungan hari mereka menikmati masa liburan.
Untuk kali ini mobil mereka akan menuju Museum Kata Andrea Hirata yang terletak di Jalan Raya Laskar Pelangi No.7, Gantong, Belitung Timur. Suasana yang disajikan novel Laskar Pelangi langsung terasa ketika menginjakkan kaki di halaman depan museum. Foto-foto yang dipasang di halaman museum seperti bercerita mengenai perjalanan karya sastra yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Belitung ini.
Di sana dapat melihat foto dari Andrea Hirata dengan kalimat inspiratifnya. Salah satunya adalah “Bermimpilah karena Tuhan anak memeluk mimpi-mimpimu”. Masuk sedikit lebih ke dalam, pengunjung akan disambut dengan sebuah ruang yang sangat nyaman, lengkap dengan meja beserta buku-buku yang dibiarkan berserakan di atas meja. Di ruangan ini, juga dipajang foto adegan film Laskar Pelangi. Ruang-ruang disana diberi nama berdasar nama-nama tokoh dalam Laskar Pelangi.
Ruang pertama adalah Ruang Ikal. Di ruang ini, terdapat cuplikan novel yang menggambarkan sosok Ikal. Foto adegan ketika Ikal berpisah dengan Lintang pun menjadi pemandangan yang menarik di ruang ini. Di sebelah Ruang Ikal, terdapat Ruang Lintang. Lintang merupakan sosok cerdas yang dibanggakan teman-temannya. Di sini, pun terdapat foto-foto tokoh Lintang yang diambil dari film Laskar Pelangi. Di antaranya adalah foto Lintang dengan sepeda kesayangannya dan foto Lintang saat berboncengan dengan Ikal.
Setelah melewati ruang Mahar, terdapat ruang Dapur. Di sini, dapat terlihat sebuah dapur yang diubah menjadi warung kopi. Warkop Kopi Kuli, begitulah papan yang ditempel pada dinding di ruang ini. Di sini, dapat memesan kopi sebagai teman bersantai atau berbincang-bincang menikmati suasana museum. Museum ini didirikan oleh sang penulis novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata. Untuk masuk ke museum yang diresmikan pada Bulan November 2012.
Museum Kata Andrea Hirata menjadi museum sastra pertama dan satu-satunya di Indonesia. Berkunjung ke museum ini bisa membuat siapa pun mengenal bagaimana karya sastra menjadi bagian penting bagi kehidupan. Dari museum ini, pengunjung bisa mendapatkan inspirasi untuk lebih mencintai karya sastra, baik yang ada di Indonesia maupun luar negeri.
Tanpa terkecuali seluruh keluarga besar Zeyden dan Priyanka mengambil ilmu di museum ini. Mereka ingin menumbuhkan kepada anak-anaknya rasa cinta akan karya sastra. Walau mereka sendiri bukanlah dari golongan seorang sastrawan. Hanya satu jam merka di sana segera berlanjut ke sekolah laskar pelangi untuk sekedar berfoto.
\*
__ADS_1
Hari semakin malam, kini semuanya sudah berada di kamar masing-masing. Rasa lelah menguasai diri mereka. Priyanka dan Zeyden hendak memejamkan mata, tiba-tiba sudah pintu kamar mereka di ketuk. Zeyden segera bangkit dan membukakan pintu. Matanya terbelalak saat ketiga putra kesayangannya ada di hadapannya.
"Kenapa bisa seperti ini?" Zeyden meninggikan nada bicaranya hingga Priyanka menghampiri mereka. Zeyden marah karena putra mereka babak belur.
"Masuk dulu!" perintah Priyanka dengan lembut dan menatap tajam Zeyden. Ketiga putranya duduk di sofa.
"Bawa Amara ke kamar Aleta atau Gia, Pa!" pinta Priyanka tanpa menoleh ke arah suaminya.
Rasa cinta pada sang istri membuat dirinya mengikuti permintaan kekasih halalnya. Zeyden menghampiri putri kecilnya, menggendong dan membawanya ke kamar Gia. Usai kepergian Zeyden, Priyanka menghampiri anak-anaknya. Dia memperhatikan wajah putra-putranya yang lebam. Priyanka pergi mengambil air hangat dan handuk untuk mengompres lebam-lebam itu.
"Apa mama pernah mengajarkan kalian untuk baku hantam dengan saudara sendiri? Apa tidak bisa kalian bicarakan baik-baik untuk menyelesaikan masalah? Dan apa yang membuat kalian sampai seperti ini?" tanya Priyanka dengan kiri kanan tangannya mengompres kedua pipi Zayyan dan Rakha.
"Sungguh papa kecewa sama kalian semua!" ujar Zeyden yang masuk dan segera menghampiri anak juga isterinya.
"Maafin kami, Ma, Pa!" ujar ketiganya serempak.
"Kenapa?" tanya Zeyden dengan nada super dingin.
"Rakha marah sama Kak Zayyan akan apa yang terjadi dengan Amara kemarin." jujur Rakha sebelum kedua orang tuanya marah. Bukan marah yang akan mereka lakukan, hanya mendiami dan berkata dengan nada yang kerus itu yang dia takuti.
"Apa Rakha nggak lihat kemarin bagaimana kakakmu juga cemas sama Amara? Apa kemarin Rakha nggak lihat bagaimana wajah kakakmu menyesalinya?" perkataan yang keluar dari mulut sang mama mampu membuatnya diam tak berkutik. Priyanka memang tak pernah marah sama anak-anaknya. Tapi ketika mereka melakukan kesalahan sperti saat ini, jangankan sebuah senyuman. Perkataan hangat saja takkan ia keluarkan.
Ketiganya langsung bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya. Air mata laki-laki tampan itu meluncur tanpa permisi. Hati lelaki-lelaki itu sangat perih mendapat perlakuan dingin dari sang mama yang selalu memberikan kehangatan. Priyanka mengangkat tubuh anaknya satu persatu untuk kembali duduk di sofa. Zeyden hanya tersenyum tipis melihat tingkah putra-putranya tak berdaya dihadapan sang ratu mereka.
"Jangan bersikap seperti ini lagi. Kalian semua itu jantung hati mama. Kalo kalian terluka mama yang sakit, saling menjaga jangan saling melukai. Satu pinta mama apapun yang terjadi nanti jangan meributkan tetapi dimusyawarahkan baik-baik. Mengerti?" nasihat Priyanka dan diangguki ketiganya. Priyanka membentangkan tangannya dan anak laki-lakinya langsung memeluk dirinya erat.
"Jangan kecewakan mama dan papa lagi ya!" ujar Priyanka dan mereka kembali mengangguki kepalanya.
"Mama istirahat saja, biar kami saling mengobati luka ini!" seru Zayyan yang lebih dulu melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Mama, istirahat ya. Kami nggak mau lihat mama sakit." jelas Rakha dengan wajah memelas.
"Sudah kamu istirahat duluan ya, sayang. Biar aku yang awasi mereka." Zeyden memberikan solusi agar Priyanka tidak mencemaskan anak-anaknya baku hantam lagi.