Relung Langit

Relung Langit
Part 121


__ADS_3

Duh, Author kok baper ya bacanya??


Banyak yang nanya sama. Thor, ini cerita nyata bukan sih? Jawabannya adalah lanjut baca aja ya para readers kesayanganku. Jika ada yang memiliki jalan cerita, nama dan konflik yang sama, maaf sama sekali bukan dari hal yang sama yua guys..


Next lanjut yuks.. Atau mau cus tamat aja??


Tapi Author sedih nih, Kalian tidak vote, like dan share novel ini. Hiks.. Hiks..


Gift away untuk gombalan paling meleleh aku perpanjang sampai akhir bulan Februari ini ya, Gaes… Cus, yang mau gift away dari aku langsung komen di bawah ya, dengan gombalan kalian untuk salah satu karakter di novel ini.


****


Tak lama Zoan dan anak-anak yang kembali dari belakang mobil. Datang dengan membawa paper bag. Itulah kebiasaan kedua Z itu, mereka selalu memanjakan anak-anakku. Mereka membeli semua barang untuk kebahagiaan mereka. Rakha seketika membuka isi paper bag yang ada di tangannya tepat dihadapan aku dan Zeyden. Dua buah kemeja branded dengan warna biru langit, warna favorit si bungsu serta parfum dan tak lupa dua pasang sepatu.


“Makasih, Dad. I love You!” serunya tepat di hadapan Zeyden dan hal itu membuat suamiku tersayang memanyunkan bibirnya. Dia cemburu anaknya menyayangi sahabatku lebih dari pada dia.


“Nggak usah cemburu sayangku. Kamu masih punya aku kok yang selalu mencintaimu sepanjang usiaku,” ucapku sambil menyandarkan kepala di bahuku.


“Duh, masih pagi nggak usah lempar gombalan kenapa sih!” celetuk Kak Bryan risih dengar percakapanku dengan suamiku tercinta.


“Sirik aja sih, Kak! Udah sana gombalin tuh sahabatku tersayang.” sahutku sambil melirik ke arah Anyelir yang wajahnya sudah memerah.


“Yang, masuk aja yuk, males aku lihat sepasang kekasih yang selalu saja lempar gombalan!” ajak Kak Bryan kepada Anyelir dan merangkulnya memasuki rumah.


Anak-anak, Zoan dan Zahra sudah memasuki rumah hanya tinggal aku, Zeyden dan Rakha yang masih diluar. Rakha masih asyik memamerkan hadiah yang baru dia terima dari Zahra dan Zoan. Jelas wajah murung sang Papa yang melihat kebahagiaan anaknya datang dari orang lain membuat aku hanya mampu mengelus punggungnya.


Walau bahagia tapi juga sedih melihat suamiku begitu tersiksa melihat kebahagiaan putranya. Bukan Zeyden tak ingin membahagiakan anak-anaknya, aku yang sering melarangnya memanjakan semua putra putrid kami.


“Maaf, ya sayang. Semua karena aku, kalo aja aku nggak ngelarang kamu, mungkin kamu bisa buat anak-anak tersenyum bahagia karena kamu.” lirihku dengan sedikit menyesal.


“Nggak sayang, kamu nggak salah kok. Jadi, jangan minta maaf ya! Aku hanya iri saja, Zoan bisa membuat anak-anakku bahagia. Dan aku hanya bisa menatapnya.” sahutnya sambil membelai rambutku.


“Pa, you’re the best. Aku bahagia, Papa tidak memanjakan kami. Pa, i love you so much!” ucap Rakha membuat aku dan Zeyden membulatkan mata tak percaya.


“Sini, sayang!” seru Zeyden sambil membentangkan tangan dan Rakha langsung berlari, memeluk sang Papa. Aku tersenyum melihat kedua lelakiku bahagia.


Tak berapa lama hujan turun, aku yang sangat menyukai hujan segera berlari keluar. Menikmati tiap tetesan air yang jatuh dari langit. Kedua lelakiku sudah meneriakiku agar segera masuk, tapi tak kugubris. Air mata langit membawa kedamaian tersendiri dalam kalbuku. Kubiarkan ia menerpa wajahku. Sampai tiba-tiba aku mengucapkan sebuah puisi untuk orang terkasihku.


Kasih..


Kubiarkan ia tersenyum walau bukan karenaku


Kubiarkan ia tertawa walau bukan karenaku


Tapi tak kubiarkan ia menangis


Tak kubiarkan ia tersakiti


Dan..


Tak kubiarkan ia kesulitan


Kasih..


Air mata langit hadir

__ADS_1


Membantuku menutupi linanganku


Membantuku melihat kamu lebih dekat.


Dia pun membawa senyum terindah yang kurindu.


“Ma, i love you.” seru anak-anak dan suamiku berhamburan menghampiriku langsung memelukku.


“Gia, punya satu lagu untuk Mama.” ucap Gia membuatku diam dan mengerutkan kening.


Apa yang ku berikan untuk mama


Untuk mama tersayang


Tak ku miliki sesuatu berharga


Untuk mama tercinta


Senandung dari hatiku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk mama


Apa yang ku berikan untuk mama


Untuk mama tersayang


Tak ku miliki sesuatu berharga


Untuk mama tercinta


Senandung dari hatiku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk mama


Walau tak dapat selalu ku ungkapkan


Kata cintaku tuk…


*Vidi Aldiano – Lagu Untuk Mama*


Sontak aku langsung memeluknya dan menciumi seluruh wajahnya tanpa terlewat satupun. Zeyden pun tak mau kalah dia menciumi kami semua. Tak berapa lama, mereka yang berada di dalam rumah segera menghampiri kami dan hanya tersenyum melihat kebahagiaan dari teras.


“Zey, jadi nggak nih kita ngajak anak-anak jalan-jalannya?” teriak Kak Bryan membuat kami semua menoleh ke arahnya dan suamiku tersayang hanya menganggukinya.


“Surprise buat kalian, kapan lagi kita bisa komplit jalan-jalan. Apalagi Kak Zayyan sebentar lagi akan pergi kan?” ucapnya dan membuat anak-anak makin mengeratkan pelukan sambil berteriak I love you papa.


“Sekarang kalian siap-siap ya!” seru Zeyden kepada anak-anak dan merangkulku memasuki rumah.


“I love you, sayang!” bisikku di tengah hujan dan dia menoleh dengan senyuman manisnya.


“Godain aku terus kamu, Yank. Mau buat Dede lagi untuk Rakha?” goda Zeyden dan refleks aku pukul lengannya.

__ADS_1


Kami semua masuk dan segera ke kamar masing-masing untuk mandi. Anak-anak sudah lebih dulu rapi, aku masih merias diri di depan meja rias. Saat aku masih memakaikan lipstick di bibirku, Zeyden menghampiri dan mencium bibirku lembut. Aku langsung mendorongnya dan sedikit menggodanya.


“Anak-anak sudah menunggu kita.” ucapku sambil mempercepat gerakan memakai lipstick agar Zeyden tak lagi mengambil kesempatan, saat dia akan melakukannya lagi dengan sigap aku menarik lengannya untuk keluar kamar.


Wajah Zeyden seketika berubah masam, aku hanya mampu tersenyum melihatnya. Tapi aku tidak tinggal diam melihat dia murung. Selama perjalanan aku selalu saja membujuknya dengan gombalan-gombalan yang membuat dia terkadang menyunggingkan senyumnya walau sekilas. Itu cukup bagiku. Karena melihat orang-orang tercintaku tersenyum sudah membuat aku bahagia.


Selama perjalanan anak-anak tak berhenti bernyanyi menghibur sang Papa. Mulai dari lagu Sheila On 7 sampai Westlife, mereka nyanyikan. Ya, itulah band favorit Zeyden dan aku pastinya. Hari ini kami semua menuju Taman Wisata Mekar Sari. Kami semua belum ada yang kesana selama ini, jadi untuk menambah wawasan anak-anak Zeyden memutuskan kesana.


***


Sesampainya di Taman Wisata Mekar Sari, Kak Bryan dan Zeyden langsung membeli tiket untuk kami semua. Anak-anak sudah membawa ransel yang berisi cemilan. Zahra yang dengan sigap menyiapkan semuanya. Aku, Zahra dan Anyelir jalan bersama dibelakang anak-anak. Sedangkan para orang tua kita tidak ada yang ikut, karena masih ada pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggal.


Setelah mendapatkan tiket, dengan cepat Zeyden dan Kak Bryan menghampiri kami. Langsung menuju pintu masuk dan menunggu mobil yang akan mengantar kami keliling taman tersebut. Tour guide kami begitu sopan saat menjelaskannya, sesekali Rakha dan Gia menanyakan hal yang membuat dia tertarik akan hal disana. Ya, Rakha dan Gia anak yang memiliki rasa keingin tahuan yang besar. Beruntungnya sang tour guide itu baik mau menjawab semua pertanyaan kedua anakku. Zayyan dan Gara tipe anak yang ingin belajar sendiri tanpa campur tangan orang lain, jiwa mereka sangat persis dengan sang Papa.


Kami sudah mengitari seluruh taman dan memetik beberapa buah langsung. Anak-anak juga sudah bermain outbound dan lain-lainnya. Jam makan siang pun sudah lewat, kami memilih makanan yang ada di sana. Selesai makan kami segera pulang kerumah karena waktu sudah senja. Terlebih tengah malam nanti aku akan berpisah dengan putra sulungku.


“Kak, semua sudah siapkan?” tanyaku dalam perjalanan pulang.


“Sudah, Ma.” sahutnya dengan senyuman manis.


“Nanti, sampai rumah periksa lagi ya, Kak! Jangan sampai ada yang tertinggal.” ucapku dan Zayyan hanya menganggukkan kepala.


Perjalanan pulang anak-anak terlelap, terlebih jalanan cukup macet. Aku ingin terlelap tapi kasihan Zeyden harus menyetir tanpa ada teman bicara. Tak berapa lama panggilan video call berdering di ponselku. Segera kuangkat karena dari pangeran pertamaku.


“Assalamualaikum.” sapanya saat pertama kali kulihat wajah tampan yang sangat aku rindukan.


“Waalaikumsalam. Gimana kabar kalian?” sahutku dengan senyum sumringah.


“Alhamdulillah kami semua baik. Kalian sendiri gimana?” ujarnya sangat antusias.


“Kami, semua baik Kak Ar!” setengah berteriak Zeyden menjawabnya sambil menyetir.


“Mau kemana kalian?” tanyanya dari seberang telepon.


“Jalan pulang.” sahutku singkat.


“Kak, Iya. Nitip Zayyan ya disana.” ucapku sedikit sedih saat mengatakan hal itu, Zeyden langsung menggenggam tanganku.


“Iya sayang. Kakak akan jagain dia, kamu kan tahu kalo kakak sayang banget sama Zayyan.” Sahut Kak Aryan membuat aku sedikit tersenyum.


“Dad!!” teriak anak-anak saat mendengar suara Daddy-nya.


“Hai, para kesayangan Daddy dan Mommy.” sapa Kak Aryan saat melihat anak-anakku.


Ponselku langsung diambil alih oleh Gara dan aku hanya memegang jemari Zeyden dengan senyuman manis. Anak-anak asyik bersenda gurau dengan sang Daddy, cemburu jelas aku cemburu. Pangeranku kini diambil alih oleh keempat putraku.


***


Jangan lupa Share, Komen, Like dan Vote ya kesayangan aku.


Love you. Ditunggu juga gombalan buat para karakter favorit kalian..


Siapa yang ngefans sama Zeyden??


Atau si Kakak Kembar AB??

__ADS_1


__ADS_2