Relung Langit

Relung Langit
Part 54


__ADS_3

Flash Back On


Hari itu hujan dari pagi tanpa jeda sedikit pun. Maklum sudah memasuki bulan penghujan. Aku melangkah menuju kelas, di lorong kelas sangat sepi. Sampai di ujung lorong tepat didepan tangga, seorang wanita cantik dengan rambut hitam lurus diikat kuncir kuda. Dia melangkah kearahku, saat berpapasan jantungku berdetak sangat kencang.


"Hm.. Permisi." ujar sang gadis dengan lesung pipi, wajahnya tersipu agak malu-malu.


"Hm.. Iya, ada yang bisa saya bantu?" ujarku menghentikan langkah kakiku saat ucapan gadis itu terarah padaku.


Jantungku berdetak sangat kencang saat langkah kakinya mulai mendekatiku. Aku coba mengatur nafasku agar normal dan tidak menimbulkan rasa curiga.


"Kelas sebelas ipa dua dimana ya?" tanyanya bingung karena tidak menemukan kelas yang ia cari.


"Oh, kamu anak baru ya?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya terlebih dahulu dan kemudian ia mengangguk.


"Bareng denganku saja. Ah, sampai lupa kenalkan aku Bryan." lanjutku sambil mengulurkan tangan dan dia membalasnya.


"Naina." ujarnya memperkenalkan diri.


Kami pun berjalan beriringan ke kelas tujuan kami berdua. Saat kami tiba di depan pintu, kelas yang tadinya berisik tiba-tiba menjadi hening. Semua mata menatap ke arah kami, sedangkan aku mencari bangku yang kosong.


"Bray, itu siapa? tanya seorang teman wanita yang duduk di meja barisan depan.


"Hmn.. Nai, kamu duduk disana gimana?" ucapku sambil menunjuk ke pojok belakang kelas yang seorang wanita dengan wajah dingin sudah duduk disana.


"Bryan, boleh nggak kalo aku duduk sama kamu aja!" pintanya dengan wajah sedikit tegang sehabis melihat ke bangku pojok.

__ADS_1


"Tapi saya sudah duduk sama Rio." sahutku dengan menengok ke arah bangkuku dn seakan Rio mengerti.


"Gue pindah Bray. Biarin di duduk sama lo." sahut Rio sambil membawa barang-barangnya dan duduk di sebelah Anya si wanita berwajah dingin itu.


"Yuk duduk Nai." ajakku smbil melangkah masuk dan dia mengikuti setiap langkahku


"Parah lo Bray, gue nanya nggak dijawab." ucap Karla yang bertanya tadi tapi tidak aku sahut.


"Kan lo bisa lihat sendiri Kar. Nanti juga dia ngenalin dirinya sendiri kok." sahutku datar sambil duduk dibangkuku.


Tak lama wali kelas kami memasuki kelas. Dia mencari seseorang yang sedari tadi ditunggunya di ruang guru. Saat menemukannya, dia meminta Naina maju dan memperkenalkan diri. Naina memperkenalkan diri, mulai dari nama, asal sekolah terdahulu sampai alasan dia pindah.


Selesai perkenalan Naina kembali duduk disampingku. Aku fokus belajar dan kembali ke wajah asalku dingin, bagai orang tak berperasaan. Berbeda dengan Naina yang berwajah bersahabat dan hangat.


***


"Nai, belum dijemput?" tanyaku sambil menurunkan kaca mobil.


"Belum, Bray. Sepertinya terkena macet atau kejebak banjir." Sahutnya setengah berteriak. Maklum hujan turun lumayan deras.


"Gue anter aja yuk." tawarku sambil tersenyum ramah.


Dia masih melamun memikirkan tawaranku. Tak lama kemudian aku membunyikan klakson membuat dia sedikit kaget. Lalu kakinya melangkah mendekati mobilku dan membuka pintunya. Segera dia duduk disampingku dan menaruh payungnya disela-sela pintu dan jok.


"Gue nggak ngerepotin lo kan Bray?" tanyanya sedikit ragu-ragu.

__ADS_1


"Panggil gue Bi aja, kalo lo susah manggil Bryan. Dan gue nggak ngerasa direpotin, kan gue yang nawarin lo." sahutku dengan penuh keramahan.


"Bi, gue nebeng sama lo nggak ada yang marah kan?" tanyanya sedikit khawatir.


"Orang tua gue baik kok. Dia malah nganjurin menolong orang." sahutku dengan polos.


"Maksud gue bukan ortu lo Bi. Tapi cewek lo." ujar Naina dengan menatap ke arahku.


"Oh, lagian lo ngomongnya nggak jelas sih tadi. Gue nggak punya pacar Nai. Mana ada cewek yang mau sama cowok dingin dan datar kayak gue? Lo emangnya mau?" sahutku asal ceplas ceplos dan membuat Naina salah tingkah.


"Cowok kayak lo mah banyak kali Bi yang mau. Seisi kelas aja matanya berbinar-binar saat liat lo, tapi saat tahu lo sama gue. Kayak gue mau dimakan sama mereka." Ujar Naina dengan wajah merah karena menahan kegugupannya.


"Gue kan tadi nanyanya dua Nai, kok lo cuma jawab satu aja." ujarku sambil melirik ke arah Naina yang membuang wajahnya menghadap ke jendela.


"Hmm.. itu.." ujarnya bingung menjawab.


"Santai Nai, gue bercanda aja kok. Gue tahu kok, lo udah punya pacar kan?" ucapku sambil melirik ke arahnya.


"Gue jomblo Bi.." ujarnya setengah berteriak membuat aku menengok ke arahnya lalu tersenyum.


"Nai, lo tuh lucu deh. Betewe, rumah lo dimana?" ujarku sambil tersenyum dan kembali fokus menyetir.


Disisi lain Naina merasa dirinya bersalah, kenapa dia harus berteriak begitu menjelaskan dia tidak punya pacar. Kenapa juga dia seakan kalang kabut saat Bryan menanyakan masalah pacar. Wanita mana yang tidak langsung jatuh cinta saat pertama kali melihat Bryan. Hanya saja Naina, terlalu sungkan karena dia masih siswi baru di sekolah itu.


"Perumahan xx jalan xx ya, Bi." Jelas Naina ke Bryan lalu mobil itu sepi tanpa keduanya bersuara.

__ADS_1


***


__ADS_2