
Hari ini Zayyan dan Rakha melakukan perjalanan bisnis ke Bandung. Mereka harus melihat rumah sakit juga restoran di sana. Selama perjalanan tak banyak suara yang mereka lontarkan. Rakha memilih menjadi supir sedangkan Zayyan masih sibuk dengan laptopnya. Ya, dia mengecek laporan keuangan yang sedikit ganjil. Ada juga laporan obat-obatan yang ada di rumah sakit kami.
Beberapa obat yang tidak patut ada di sana namun bertengger manis di apotek rumah sakit. Lelaki tampan itu memijat pelipisnya karena pusing akan hal ini. Selama perjalanan tak lupa mereka menghubungi Zeyden juga kakeknya guna membahas masalah ini.
Tak terasa empat jam sudah mereka sampai di rumah. Kedua lelaki tampan itu langsung ke kamar masing-masing usai di bukakan pintu oleh Mang Kodir dan Mbok Tum. Pasangan suami isteri itu memang tinggal di rumah kami guna merawatnya. Terlebih mereka tak memiliki anak.
Usai membersihkan diri, Rakha menuju kamar sang kakak. Wajahnya di tekuk saat memasuki ruangan bernuansa biru laut itu. Zayyan sudah terlelap padahal Rakha sudah sangat lapar. Dia langsung mendekatkan diri ke Zayyan. Mengguncangkan tubuh kakaknya tak guna, akhirnya ia ikut rebahan sambil memeluk sang kakak tercinta.
Seketika Zayyan langsung bangun. Ya, lelaki itu sangat risih jika dipeluk-peluk. Zayyan menatap tajam sang adik meminta penjelasan. Hanya gerakan yang menjadi jawabannya yaitu dengan mengusap-ngusap perutnya.
"Kamu hamil?" kata yang keluar dari mulut Zayyan langsung mendapat balasan pukulan di bahu sang kakak.
"Makanya jangan sembarangan kalo ngomong. Udah disupirin, dianggurin sepanjang perjalanan dan nggk inget kalo adenya belom makan. Parah, Rakha aduin ke mama nih!" cerocosnya panjang kali lebar sampai mulutnya di bekap oleh tangan Zayyan dan membawa tubuh adiknya ke bawah.
Sesampainya di meja makan mereka berdiskusi membahas masalah yang ada. Rakha hanya diam menyimak setiap kata yang di jabarkan oleh sang kakak sulung. Terlihat jelas wajah Zayyan yang mencerminkan kepusingannya.
"Aku handle. Kakak istirahat aja abis ini. Okey!" ujarnya sambil memainkan alisnya dan sang kakak hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka pun menikmati makan tanpa suara selain dentingan sendok yang beradu dengan piring. Usai makan mereka tak ingin merepotkan Mbok Tum maka mereka merapikan sendiri peralatan makan yang telah digunakan tak lupa merapikan makanan yang masih tersisa.
Saat mereka sedang beberes Mbok Tum menghampiri hendak membantu tapi di tolak secara halus oleh kedua lelaki tampan itu karena telah usai. Mbok Tum pun kembali ke kamarnya, begitu juga dengan keduanya. Kali ini Rakha tidak tidur di kamarnya melainkan bersama sang kakak.
Usai menunaikan ibadah kepada sang khalik, Zayyan langsung tidur sedangkan Rakha langsung berhadapan dengan laptop. Walaupun lelah tapi ia tak ingin masalah rumah sakit ini merugikan orang banyak. Ia juga geram pada orang yang menikmati hasil yang tidak benar.
__ADS_1
Sampai tengah malam ia menerobos sistem. Hanya setengah jam untuk melakukan itu, akan tetapi dia menyelidiki motif yang dilakukan oleh si pelaku. Bukan hanya ingin uang tetapi ia memang tidak menyukai sang kakak menjadi penanggung jawab akan rumah sakit yng dibangun keluarga sang Papa.
Jahat, jelas itu. Rakha tidak mau membuat keluarganya makin dipersulit oleh si pelaku. Lelaki multitalenta itu pun bergegas mencari sumber rekaman cctv yang ada di rumah sakit. Dia meminta pihak keamanan mengirimkan salinan via email. Selain untuk back up itu juga ia gunakan sebagai bukti.
Tak lupa dia menelpon sang pengacara untuk datang ke Bandung besok pagi. Tanpa persetujuan siapapun ia melapotkan semua kejadian itu ke pihak yang berwajib. Selama ini dia hanya sebagai pendengar antara kakak dan papanya. Kesabarannya sudah terkikis untuk si pelaku.
Manipulasi data keuangan juga memasukkan obat yang dilarang untuk dikonsumsi ke dalam rumah sakitnya. Nama baik kakaknya akan tercemar, itu yang tidak bisa ia ampuni. Semua di keluarga Pradipta tanpa kecuali menyayangi Zayyan.
***
Rakha dan Zayyan sudah berada di rumah sakit bersama sang pengacara juga polisi. Zayyan kaget karena awalnya ingin menyelesaikan secara kekeluargaan hanya saja penjelasan sang adik yang disertai bukti-bukti tak bisa dia diamkan begitu saja.
Rakha yang lebih banyak bicara kali ini dengan perkataan tajamnya. Zayyan tak dibiarkan bicara satu patah pun. Ya, Rakha juga sempat mengambil jurusan hukum. Si pengais bungsu itu paling suka belajar, dia mengambil banyak jurusan untuk ilmu dia.
Sang pelaku mau tidak mau mengakui kesalahannya dan mengatakan dengan sejujurnya mengenai alasan dia melakukan hal itu. Zayyan terperangah saat mendengar pengakuan dari si pelaku. Walau si sulung memiliki wajah dingin tapi hatinya sangat lembut. Dia memaafkan hanya saja tetap menyerahkan semuanya pada pihak berwajib.
Rakha makin kesal karena perjalanan mereka yang seharusnya sudah sampai, namun kali ini tertahan cukup lama. Dia membuka jendela dan saat berpapasan dengan pengendara motor dari arah berlawanan, dia menanyakan apa yang terjadi di depan.
"Pak, maaf. Ini macet kenapa ya?" tanyanya dengan sopan dan lembut.
"Oh, itu Pak. Ada kecelakaan di depan. Masih menunggu ambulan tapi nggak dateng-dateng." sahut si pengendara itu dan pamit melanjutkan perjalanan.
Zayyan yang mendengar hal itu langsung mengambil tas kerjanya. Ya, dia selalu membawa kemana pun ia pergi. Ia berlari secepat mungkin menghampiri korban, sedangkan Rakha yang melihat kakaknya main kabur hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aish, si Pak Dokter ini selalu saja begini. Nggak inget ada orang di sampingnya. Gimana kalo punya isteri nanti, masih gitu juga nggak ya!" gerutu Rakha di balik kemudi.
***
Di siai lain Zayyan yang sudah membantu pertolongan pertama pada sang korban wanita cantik, langsung menelepon rumah sakit miliknya dan meminta ambulan datang dalam waktu lima menit. Jarak rumah sakit dari tempat kejadian memang tidak terlalu jauh.
Sesuai permintaan Zayyan, mobil ambulan pun tiba dan langsung membawa sang korban dengan di temaninya. Tak lupa ia mengabari Rakha untuk menyusulnya usai selesai di resto. Sesampainya di rumah sakit Zayyan turun tangan sendiri mengobati sang pasien itu.
Satu jam berlalu. Zayyan selesai menangani sang pasien dan ia juga meminta si korban untuk dipindahkan ke ruang rawat. Zayyan langsung menuju ruangannya di mana sang adik sudah menunggunya disana.
"Gimana?" tanya Rakha dengan wajah datar.
"Alhamdulillah selamat. Tadi ada beberapa hampir mengenai organ vitalnya. Tinggal menunggu ia siuman saja." jelas Zayyan singkat.
"Boleh aku jenguk dia?" tanya Rakha dengan ragu-ragu.
"Silahkan, aku mandi dulu ya. Usai kamu selesai jenguk kita langsung balik ke Jakarta aku yang bawa mobilnya," tutur Zayyan sambil melangkah menuju kamar mandi dan di angguki oleh sang adik.
Rakha keluar dari ruangan sang kakak tak lupa menutup pintunya. Kakinya melangkah menuju kamar inap sang korban. Hanya beda dua lantai dari ruangan Zayyan, dia terperangah melihat pasien itu. Wanita cantik yang menjadi korbannya, dia mendekat untuk melihat dengan jelas.
Wanita itu mulai membuka mata dan melihat Rakha tengah duduk di samping ranjangnya. Bibirnya bergerak seakan mengatakan sesuatu. Rakha bingung dan mengeluarkan ponselnya.
Terima kasih sudah menolong saya. Nama saya Aleta, siapa namamu.
__ADS_1
Pesan itu dia tulis di note ponsel milik Rakha. Lelaki itu memberikan senyuman manisnya.
"Nama saya Rakha, tetapi bukan saya yang menolong anda melainkan kakak saya. Dia seorang dokter hebat di negeri ini. Jika kamu sembuh, carilah dokter Zayyan dan sampaikan ucapan terima kasihmu. Saya pamit karena harus kembali ke Jakarta!" Panjang lebar Rakha menjelaskan kepada sang pasien cantik itu, dan segara meninggalkan ruangan itu.