
Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..
Betewe end de baswey..
Kesayangan aku semuanya.
Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??
Ready...
***
Rohan dan Gia makin mesra sehingga membuat para saudaranya iri. Tak ada lagi Gia yang perhatian pada saudaranya sejak ia mulai mencintai suaminya. Ya, Gia mulai mencintai Rohan dengan segenap hatinya saat dia telah merelakan mahkotalah direnggut.
Aku dan Zeyden sudah kembali bergabung sejak pukul tujuh pagi. Hari ini kami semua berencana akan ke Bali Zoo. Walau di Jakarta ada tetapi kami semua tidak berniat sama sekali kesana. Karena dengar berita kurang bagus sekarang di Jakarta itu.
Bali Zoo Gianyar berada di Jalan Raya Singapadu, Sukawati, Kabupaten Gianyar. Daya tarik utama dari kebun binatang ini terletak pada tata letak dan desain taman dengan jalur tempat jalan pengunjung yang tertata dan terarah. Karena dengan jalur pengunjung yang tertata sangat bagus, membuat pengujung yang pertama kali liburan ke Bali Zoo ini, tidak akan kebingungan.
Zoo Park Gianyar dilengkapi dengan wahana air, yang membuat semua orang bahkan anak-anak suka. Perpaduan antara kebun binatang dan wahana air, salah satu daya tarik utama untuk liburan ke Bali Zoo Gianyar bersama keluarga.
Ini adalah liburan terakhir kami di Bali. Esok petang kami akan kembali ke ibukota. Lusanya anak-anak dan keluarga Kak Aryan akan kembali ke London. Hal itu sungguh menyedihkan, makin sedihnya lagi adalah Kak Bryan akan pergi ke Sydney selama tiga bulan bersama isterinya tercinta.
Untuk sementara kutaruh beban itu dan kubuat dengan hal baru. Ah lupa menginformasikan sebelum ditanyakan. Suamiku tiap malam kembali selalu mengajakku olah raga, katanya agar tak kalah dengan anak dan menantunya. Ia masih menginginkan satu orang anak lagi yang akan mengisi rumah kami dengan tangis dan tawa.
***
Empat tahun berlalu. Perusahaan di London sudah bisa ditangani oleh tangan kanan Kak Aryan, ya siapa lagi kalau bukan sahabatku Zoan. Zoan dan Zahra bertukar tempat tinggal dengan Kak Aryan. Zahra yang melanjutkan kuliah doktornya disana, itu pula yang menjadi kesediaan Zoan untuk menangani perusahaan disana.
Keturunan keluarga Pradipta semua kembali ke Indonesia dan tinggal bersama-sama lagi. Zayyan sudah belajar menangani perusahaan yang dulu aku tangani. Semua anak-anak sudah bekerja, Rakha sudah berkuliah di universitas negeri di Jakarta, dia mengambil jurusan hukum.
Gia sudah menjadi seorang ibu dari anak laki-laki yang diberi nama Rangga Almahera Pradipta. Usia Rangga baru memasuki satu tahun enam bulan. Aku pun memiliki anak lagi, seorang anak perempuan bernama Amara Thamrin Pradipta.
Kelahiran Rangga dan Amara hanya berbeda dua bulan. Saat kelahiran Amara, Rakha sangat marah setelah sekian lama menjadi bungsu kini dia harus menjadi kakak. Dia sempat mendiami kami selama setengah tahun. Tapi kini dia sudah bisa menerimanya sejak dinasihati oleh kakak-kakaknya.
"De, Amara hadir Allah percaya sama papa dan mama, oleh sebab itu mereka kembali dititipkan Amara. Kalo kamu marah sampai mereka sama aja kamu marah sama Allah." ujar Gia enam bulan lewat seminggu setelah dia kesal dengan sikap adiknya.
"Masa begitu sih, Kak?" ujar Rakha pada sang kakak.
"De, coba lihat Amara deh dia itu nggak salah sama sekali loh, sama seperti Rangga. Kamu bisa sayang sama anak kakak, masa sama adik kamu sendiri nggak. Coba kalo kamu di posisi Amara, kami bertiga membenci kamu. Apa perasaan kamu?" ujar Gia panjang lebar dan membuat Rakha memeluk kakaknya itu.
"Kamu hanya belum terbiasa dengan kehadiran Amara saja. Sama seperti kedua kakak kamu ini, mereka juga belum siap dengan kehadiranmu saat itu, tapi apa coba buktinya sekarang mereka sangat mencintaimu." tutur Zayyan memberi penjelasan pada adiknya yang kini menyandang status pengais bungsu.
Rakha pun menangis dan merasa bersalah. Ketiga kakaknya langsung memeluk juga menenangkannya. Sejak saat itu si pengais bungsu pun menjadi sangat sayang pada Amara melebihi sang papa. Sikap penyayang Rakha sama besarnya seperti sayangnya dia kepadaku.
Wajah Amara sangat mirip dengan bundaku. Ya, seminggu sebelum Amara lahir ke dunia ini, Bunda menghadap sang pencipta untuk selama-lamanya. Banyak orang yang bilang bila Amara adalah reinkarnasi Bunda, tapi aku tidak menanggapinya dengan percayai.
Rangga dan Amara selalu mendengarkan suara murojaah dari Rakha. Ia menginginkan keponakan serta adiknya bisa menjadi hafidz dan hafidzah. Rakha semenjak kuliah memang menjadi anak yang lebih alim.
Hari ini ia libur kuliah, bukan pada kebanyakan anak muda yang suka jalan-jalan. Ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan kedua batita dirumah. Tak jarang dia mengajak keduanya jalan-jalan ke mall atau keliling taman. Katanya menghabiskan waktu dengan kedua batita itu lebih seru dari pada datamg ke acara tidak jelas.
Dia lebih memilih menjadi nanny para batita itu dari pada membersihkan rumah. Ia selalu berusaha tidak mengerjakan tugas dirumahnya. Karena tak ingin waktu bersama keponakan dan adiknya terbuang begitu saja. Dia jauh lebih ahli menangani keduanya dari pada kami orang tuanya.
__ADS_1
Liburannya kali ini ia mengajak kedua batita itu dengan bermain di kamarnya. Dia benar-benar mengurus keduanya dengan sangat telaten, memberikan susu. Bahkan dia memandikan, menidurkan dan memberi makan pada mereka. Aku dan Gia sedikit tenang ketika hanya meninggalkan mereka pada Rakha dari pada sama papa mereka masing-masing.
Aku pernah meledek kedua papa batita itu dengan sindiran halus dan sampai mereka berdua belajar dari Rakha. Bukannya membantu, keduanya malah membuat Rakha jengah sendiri dibantu papa dan kakak iparnya.
"Mending kalian berdua ngurus rumah sakit deh, biar nih bocil sama aku aja. Kalian malah bikin ribet aku tahu nggak!" kesal Rakha saat keduanya membantu mengganti popok para batita.
Ya, walau sudah memiliki anak lima. Zeyden tak pernah bisa mengurus anak-anaknya sebaik Rakha. Zeyden memang membantuku dahulu tapi tidak serapi Rakha mengurus adik dan keponakannya itu.
"Kha, Rangga dan Amara udah minum susu dan minum sari buah belum?" tanya Anggia saat memasuki kamar sang adik.
"Beres semuanya." sahut Rakha dengan wajah sumringah.
"Mereka.." potong Gia saat melihat kedua batita itu diam tak bersuara.
"Jangan berisik, baru tidur! Sana kakak keluar." ujar Rakha mendorong sang kakak menjauh dari tempat tidurnya.
Saat keduanya terlelap dia pun tertidur disampingnya. Setengah hari dia bermain sambil menjaga batita itu. Rakha jauh mengetahui tumbuh kembang para batita dari pada kami orang tuanya.
***
Malam telah tiba, kami semua berkumpul di ruang keluarga usai makan malam. Para batita itu pun tertawa saat mendengar cerita Rakha, walau mereka belum mengerti. Siapa tidak akan tertawa bila diceritakan sambil di praktekkan. Kami saja yang sudah dewasa terpinggal-pinggal akan tingkah si anak pengais bungsuku.
"Dulu aja ngambek nggak mau negur papa mama sampai Amara kena sasarannya juga! Sekarang aja kasih sayangnya melebihi kita orang tuanya." seru Zeyden dengan nada meledek.
"Rangga, Amara. Omka mau nyanyi, kalian mau denger nggak?" ucap Rakha pada kedua bocah itu dengan menyamakan tinggi badannya dan diangguki oleh keduanya.
Rakha mendudukkan batita itu di bangku depan piano. Dia pun mulai menekan tuts-tuts piano dan menyanyikan lagu Bunda dari Potret.
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
__ADS_1
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu.
"Ulu ulu kamu kangen ya sama mama?" seruku membuat dia tersenyum.
Dia menurunkan lalu membawa anak itu padaku dan Gia. Tak lupa dia duduk disebelahku dengan bergelayut manja di lenganku. Sesekali dia menggoda sang adik yang sedang ngoceh tidak jelas. Aku pun masih terus menyayangi semuanya tanpa perbedaan sedikit pun.
"Ma, Rakha harus ikut dalam study tour gitu pekan depan selama sebulan ke Yogya. Apa boleh ikut?" ucapnya dengan nada takut.
Aku menatap Zeyden dan dia menganggukinya. Kuelus kepala anakku itu, tak lupa aku menengok ke arah kedua putraku yang lain. Mereka pun mengijinkannya. Karena mereka tahu selama ini Rakha tak pernah bersenang-senang untuk dirinya. Rangga dan Amaralah yang selalu jadi prioritasnya.
"Boleh kok sayang. Pergilah, tapi hati-hati disana jangan macam-macam dan jaga diri." ujarku dengan penuh kelembutan.
"Tapi nanti yang jaga Rangga dan Amara siapa?" ujarnya yang masih memikirkan keponakan dan adiknya itu.
"Kha, ada kami disini. Lagi pula biarkan Gia dan mama mengurus anak mereka. Sebulan ke depan pikirkan masa depan kamu. Fokus untuk nilai terbaik." ujar Zayyan dengan sangat lembut dan membuat semua menggelengkan kepala.
"Bukan begitu maksud Rakha, Kak. Rakha hanya nggak mau mama dan Kak Gia capek. Karena kedua bocil ini lagi pada aktif-aktifnya." jelas Rakha membuat kami semua membelalakkan mata.
"Are you serious?" tanya Rohan tak percaya jika anaknya itu lagi aktif banget.
Tanpa aba-aba dia menyalakan ponselnya dan menyambungnya ke televisi. Tak lama dia menyalakan video kedua batita itu. Tingkah mereka berdua membuat mata kami terbelalak, akan tetapi tetap tertawa melihat tingkah pola menggemaskan keduanya.
***
Hai kesayanganku, cukup nggak sama ceritaku..
Tamat ah.. hehehe..
Beberapa part lagilah.. Ikhlas nggak kalo di stop???
Nah, sebelum off kalian itu kudu wajib banget meninggalkan jejak.
Jadi jangan lupa jempol, share, komen dan vote sebanyak-banyaknya.
Aish, jejak kesayangan aku pada kemana ya? Aku rindu jejak kalian. Sebuah penghormatan jika kalian meninggalkan jejak kunjungan kalian ke hatiku. Eits, boleh dong author gombal dikit.
__ADS_1
....