Relung Langit

Relung Langit
Part 98


__ADS_3

Aku sangat merasa bersalah. Setelah apa yang terjadi baru saja. Aku salah telah mengatakan semua itu ke Zahra, tak seharusnya aku menyakitinya. Dia sahabat sekaligus sahabatku. Dalam pikiranku yang masih melayang-layang kakiku terus melangkah menuju dimana Zeyden dan Ayah sedang bercengkrama. Tanpa duduk aku mengajak mereka makan, kami pun melangkahkan kaki menuju meja makan.


Ayah menggendong Zayyan dan Zeyden merangkulku seakan takut kehilanganku. Saat berada di depan kamar Zahra, Zeyden melepas rangkulannya dan aku hanya menatapnya.


"Yah, aku panggil Zahra dulu ya. Kalian duluan saja tak apa kan?" ucapnya sambil menatap Ayah lalu ke arahku.


"Iya, nggak apa-apa Zey. Zahra juga kan anak Ayah, ajak dia makan bareng kita." sahut Ayah sebelum melanjutkan berjalan ke meja makan.


Jantungku berdetak semakin kenvang, ras takut mulai menguasaiku. Zahra dan Zeyden sangat dekat seperti aku bersama kedua kakakku. Aku dan Ayah sudah di meja makan. Aku menduduki Zayyan di bangkunya sedangkan Ayah duduk di sebelah kanan Zayyan. Aku memperhatikan semua tingkah Zeyden yang mulai mengetuk pintu sampai memanggil nama Zahra. Tak berapa Lama Zeyden masuk kedalam kar Zahra.

__ADS_1


Hanya sekitar lima belas menit, akhirnya mereka keluar kamar dan menghampiri kami. Wajah keduanya sangat kacau. Zahra dengan mata sembab di wajahnya yang putih dan Zeyden tampak kesal, marah dan sedih menyatu diwajahnya. Wajah Zeyden yang seperti itu membuat aku sangat takut. Zahra duduk tepat di depanku dan Zeyden di sampingku. Aku hendak mengambilkan nasi dan lauknya hanya saja, dia memilih mengambil sendiri. Sedih rasanya melihat Zeyden seakan tak menganggapku ada. Aku memilih menyuapi Zayyan dengan pelan-pelan sampai habis. Aku titipkan Zayyan pada Ayah dan aku berlalu meninggalkan mereka semua. Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.


"Ka, kamu didalam?" teriak Zeyden sambil mengedor-gedor pintu kamar mandi.


Aku tak menghiraukan suara teriakan dan gedoran itu. Aku terduduk di samping toilet dengan sesegukan. Air mataku tak bisa berhenti sampai pintu di buka. Mataku hanya menatap sosok yang menghampiriku. Tubuhku ia angkat dan langsung memelukku erat, terdengar suara isakan darinya. Mendengar isakannya aku makin menjadi-jadi.


"Maaf, aku tidak maksud membuatmu sedih seperti sekarang ini. Maafin aku yang marah sama kamu." ujarnya sambil menitikkan air matanya dan aku menggelengkan kepala sambil menghapus air matanya.


Aku kembali memeluknya erat tanpa menjawab ucapannya. Benar kalau dia marah sama aku, pasti marah karena ucapanku kepada Zahra.

__ADS_1


"Maafin aku Kak! Aku nggak maksud buat kamu atau siapapun tersakiti." jujurku membuat Zeyden menatapku.


"Nggak sayang! Aku terlalu sayang sama Zahra sampai dia menangis karena mau kembali kuliah, membuat aku sedih." ucapnya membuatku kaget.


"Jadi Zahra tidak mengungkapkan semuanya! Lega tapi aku sedih." batinku.


Aku dibawa ke dalam kamar dan duduk di ranjang masih tetap memeluk suamiku. Aku tak bisa terus menrlerus menutupi semuanya, jadi harus mengatakan semuanya. Ya, walaupun sakit, tapi aku tidak mau rasa takut menyelimutiku.


Aku pun menceritakan semuanya ke Zeyden tanpa ada yang disembunyikan. Zeyden kaget sambil melepaskan pelukannya dan bangkit dari duduknya. Dia membalikkan badan lalu berjongkok dihadapanku dengan wajah dingin namun sorot mata sangat terpancar kemarahan.

__ADS_1


__ADS_2