Relung Langit

Relung Langit
Part 35


__ADS_3

"Hai my princess. Sudah ya nangisnya, jadi jelekkan riasannya." ujarnya sambil menghapus air mataku.


Aku tak sanggup lagi melihat gelagatnya yang aku rindukan, dengan sekejap aku memeluknya. Aku menangis dalam pelukannya sambil sesekali memukul dadanya.


"Sudah puas menangis dan memukulku?" ujarnya sambil mengelus kepalaku dan saat aku menghentikan pukulanku.


"Maafkan aku my princess. I'm so sorry. Aku sangat sangat salah, melakukan hal yang membuat aku menyesal kini." ujarnya sambil menangkup wajahku dengan kedua tangannya.


Kemudian dia bersimpuh di hadapanku. Dia menaruh wajahnya di pangkuanku. Lelaki itu menangis sampai sesegukan. Aku bingung kenapa dia menangis, tanganku secara refleks mengelus kepalanya. Sampai aku tak sadar ada seseorang yang memperhatikan sikap kami di depan pintu.


"Kemana kamu selama ini? Kenapa kamu harus muncul lagi dihadapanku? Kenapa kamu harus hadir lagi dalam hidupku?" ujarku masih menangis dan membelai rambut lelaki yang masih bersimpuh didepanku.


"Maafkan aku yang bodoh ini." lirihnya dengan nada sangat pelan.


***


"Kenapa lo nggak masuk aja? Lo sangat khawatir kan sama apa yang terjadi didalam?" ujar Zoan sambil menepuk bahu Zeyden.


"Gue emang sangat penasaran dan takut kalo Priya akan kembali ke Gibran. Tapi gue nggak bisa posesif dan protektif ke dia." ujarnya dengan wajah kecemasan dan lesu.


"Zey, mana Princess Ayah?" ujar Ayah membuat kedua lelaki itu kaget dan langsung menutup pintu.

__ADS_1


"Hm.. Anu Yah." ujar Zeyden gugup.


"Mana Priya, Zey Zo?" Ayah mengulang pertanyaan dan kedua lelaki itu gelagapan saking bingungnya.


"Mereka di dalam Yah." Sahut Kak Ryan bersamaan.


"Mereka?" tanya Ayah bingung dan Kak Aryan membuka pintu.


Deg..


Semua mata membelalak terkejut saat mereka melihat aku memeluk Gibran dengan erat. Gibran mencium pundakku sambil menngis. Langkah Ayah sangat cepat, hingga Gibran ditarik sekuat tenaga. Kembali Gibran mendapat tamparan bulak balik beberapa kali.


"Silahkan Ayah tampar Gibran. Gibran nggak peduli, asal Priya dan kalian semua bisa maafin Gibran. Gibran hanya mau Priya, Yah." ujarnya makin membuat Ayah kesetanan.


"Cukup Yah. Ade mohon cukup jangan sakitin dia lagi." ujarku sambil memegang tangan Ayah untuk berhenti.


Tapi apa dayaku kemarahan Ayah menepis tanganku dengan kuat sehingga aku terlempar dan aku jatuh. Kepalaku kena ujung meja kaca, sehingga darah segar mengalir deras. Lelah, stres dan takut terselubung dalam hatiku beberapa hari ini membuat aku langsung ambruk seketika.


"Priya!!" Teriak Gibran dan semua lelaki di ruangan itu.


"Lepasin dia. Biar gue yang gendong dia." ujar Gibran menyuruh Zeyden melepaskanku dari gendongannya.

__ADS_1


"Bran, jangan gila deh. Lihat darah Priya makin banyak. Dia bisa mati kalo lo masih bersikap kayak gini." sahut Zeyden dengan tegas dan wajah pucat melihat darah semakin keluar tanpa henti.


"Biarin gue yang gendong dia. Baru bisa dia keluar dari sini." ujar Gibran dengan keras kepala.


"Gila lo ya, Ade gue bisa mati kalo harus dengerin omongan lo ini." teriak Kak Aryan geram.


"Berikan Priya ke gue, baru lo boleh bawa dia pergi dari ruangan ini." teriak Gibran dengan sangat keras.


"Bran jangan gila. Priya bisa kehabisan darah. Disini nggak ada rumah sakit. Kita butuh perjalanan panjang buat bawa dia." ujar Zeyden mulai kesal namun tetap cool.


"Berikan atau tidak." Ujar Gibran memberikan pilihan.


"Zeyden lebih berhak membawa Priya dari pada kau lelaki tak bertanggung jawab." ujar Ayah sambil mendorong badan Zeyden untuk melangkah keluar.


"Semua ini salah Anda, sampai-sampai Priya terluka." seru Gibran dengan tegas dan penuh amarah.


Dua sosok wanita masuk ke ruangan dan langsung histeris melihat keadaanku. Ya, Bunda dan Anyelir masuk. Bunda langsung pingsan melihat keadaanku.


"Zey, cepat bawa Priya pergi. Nadinya melemah." ujar Zoan sehabis memeriksa denyut nadiku.


Zeyden berlari membawaku di dampingi Kak Bryan dan Zoan. Ayah, Zoan dan yang lainnya membantu Bunda untuk sadar. Sedangkan Gibran menyusulku dengan mobilnya. Lagi-lagi dan lagi Gibran membuat ulah. Dia menghadang mobil yang membawaku. Dia masih kekeh untuk membawaku. Kak Bryan sudah kehilangan kesabarannya. Dia kembali menghajar Gibran, saat Kak Bryan menghadapi Gibran. Zoan yang membawa mobil kakakku langsung meninggalkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2