
Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..
Betewe end de baswey..
Kesayangan aku semuanya.
Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??
Ready...
***
"Tapi nanti yang jaga Rangga dan Amara siapa?" ujarnya yang masih memikirkan keponakan dan adiknya itu.
"Kha, ada kami disini. Lagi pula biarkan Gia dan mama mengurus anak mereka. Sebulan ke depan pikirkan masa depan kamu. Fokus untuk nilai terbaik." ujar Zayyan dengan sangat lembut dan membuat semua menggelengkan kepala.
"Bukan begitu maksud Rakha, Kak. Rakha hanya nggak mau mama dan Kak Gia capek. Karena kedua bocil ini lagi pada aktif-aktifnya." jelas Rakha membuat kami semua membelalakkan mata.
"Are you serious?" tanya Rohan tak percaya jika anaknya itu lagi aktif banget.
Tanpa aba-aba dia menyalakan ponselnya dan menyambungnya ke televisi. Tak lama dia menyalakan video kedua batita itu. Tingkah mereka berdua membuat mata kami terbelalak, akan tetapi tetap tertawa melihat tingkah pola menggemaskan keduanya.
Zayyan langsung memangku Amara dan menciumi pipi tembam sang adik bungsunya itu. Ia pun kegelian dan memukul wajah sang kakak. Kami semua tertawa dan membuatnya tertawa juga. Sedangkan Rangga sudah terlelap di gendongan Gia mulai menggeliat, akibat suara tawa kami. Gia pun mulai menepuk-nepukkan bamper sang putra yang kembali terlelap.
"Tuh kan pada berisik sih, kasihan Rangga kan!" ujar dengan sedikit kesal. Namun, perhatiannya berubah pada sang adik.
"Ra, nanti omka tinggalin sebulan. Amara dan Rangga jadi anak baik ya, pecicilannya dikuramgi ya, kasihan mama dan kakak Gia nanti lelah jagain kalian!" ujar Rakha pada adiknya yang seakan mengerti ucapan kakaknya itu.
"O..Ka." celetuk Amara membuat kami terperangah seakan benar-benar mengerti ucapan kakaknya.
"Anak pintar!" seru Rakha sambil mengelus kepala sang adik. Namun, sang adik minta lebih itu karena dia mengarahkan kedua tangannya pada Rakha, padahal sedang digendong oleh Zayyan.
"Aish, sudah kenal Omkanya dia, jadi nggak mau sama yang lain." celetuk Gara saat melihat adik bungsunya sedang ditimang-timang kakaknya.
"De, kenapa sih kamu bahasain omka pada keduanya?" Zayyan penasaran pada panggilan yang diminta sang adik itu.
"Kak, nanti kalo mereka besar, jadi nggak bingung manggilnya. Kalo yang satu manggil kakak, yang satunya manggil om. Lebih baik Omka, Om Kakak gitu maksudnya." jelas Rakha membuat kami semua mengerutkan kening. Aneh-aneh saja pemikiran putraku satu itu.
"Buat Kak Gara, Kak Zayyan, Kak Rohan dan Papa. Makanya jangan bawa kerjaan ke rumah atau suka lembur. Jadi para batita ini nggak mau deket sama kalian." celetukkan Rakha kali ini membuat keempat lelaki diruangan itu kicep setengah mati.
Aku dan Gia hanya tersenyum mendengarnya. Kami ibunya saja susah punya waktu dengan anak sendiri karena lebih dekat sama Rakha. Bagaimana dengan mereka berempat? Waktu semakin larut sehingga kami semua kembali ke kamar masing-masing.
***
Pagi-pagi Rakha sudah bersiap dengan keberangkatannya. Ia akan diantar Zeyden ke kampusnya dimana menjadi titik kumpulnya. Sebelum berangkat mereka sarapan dulu dan Rakha membangunkan adiknya.
Ia menciumi setiap inci wajah adiknya hingga batita itu menangis. Rakha masih belum puas walau adiknya telah menangis.
"Udah-udah sekarang kalian berangkat. Nanti kesiangan dan telat lagi." ujarku sambil merebut Amara dari gendongan Rakha.
"Ya udah Rakha pamit ya, Ma." pamitnya sambil mencium punggung tanganku dan pipiku.
"Dadah embemnya Omka!" seru Rakha sambil mengajari sang adik mencium tangannya.
"Hati-hati ya sayang. Sampai kampus kabari mama. Mau jalan dan sampai Yogya juga kabarin ya!" ucapku mencium kening dan pipi putraku.
Tak lupa aku mencium tangan Zeyden dan dia membalas mencium wajahku juga Amara. Lalu mengantarkan mereka berdua sampai teras. Rakha melambaikan tangan ke arah kami berdua, dan aku membalas dengan mengangkat tangan Amara untuk membalas lambaian sang kakak.
"Dadah Omka dan Papa!" seruku sambil melambaikan tangan.
Setelah mobil Zeyden tak lagi terlihat, aku mengajak Amara berjalan-jalan. Aku membawa gadis kecilku ke taman. Tak lama kami berdua sampai disana, bukan hanya kami yang ada di taman itu. Ada para ibu bersama anak-anaknya yang sedang asyik menyuapi makan, bermain dan lain sebagainya.
Amara memilih turun dari gendongan. Ia ingin jalan-jalan di taman itu. Aku menuntunnya dengan hati-hati dan sesekali kulepas saat dia ingin bermain dengan teman seusianya. Saat sedang asyik menyaksikan si kecil bermain bersama anak seusianya, ponselku berdering. Segera aku meraih dan tertera nama Zayyan disana.
"Kenapa Kak?" tanyaku sambil memperhatikan setiap gerakan putri kecilku.
"Mama dimana? Zayyan mau berangkat." ucapnya dengan sedikit panik.
"Jangan panik, mama di taman depan sama Amara. Jemput kami atuh." ujarku menatap Amara yang sedang memperhatikan makanan orang lain.
"Baiklah, mama tunggu aku ya." sahutnya sebelum mematikan panggilan itu.
Aku sudah menggendong Amara dan menunggu si sulung sambil duduk dibangku taman. Ketika aku sedang mengajak ngobrol batita dipangkuanku, taman itu menjadi heboh. Aku masih belum fokus pada apa yang mereka ributkan.
"Eh, ada cowok ganteng tuh. Artis bukan sih, cakep banget. Dia pasti nyariin gue deh!" ujar gadis berpakaian celana pendek kepada temannya, reflek aku menoleh ke arah titik keributan.
"Ra, lihat siapa itu!" seruku menunjuk ke arah Zayyan yang menghampiriku.
"Hai, sayang!" serunya sambil mengambil Amara dari pangkuanku.
"Ka." celoteh Amara sambil memeluk sang kakak tampannya.
"Yuk, kita pulang!" Ajak Zayyan sambil menggandengku.
"Yah udah punya anak dan isteri. Eh, kok isterinya kayak lebih tua ya!" ujar gadis tadi saat kami baru berjalan selangkah.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan gadis itu. Kami bertiga menghampiri mobil yang terparkir di pinggir jalan raya. Aku menaiki mobil lebih dulu sedangkan Zayyan menyusul sambil menggendong adiknya. Ia menyetir dengan Amara dipangkuannya.
"Kak, Amara siniin. Kamu lagi nyetir." ujarku berusaha mengambil Amara.
"Tidak usah, Ma. Biarkan begini, toh sebentar lagi sampai kan." sahutnya sambil memegangi tangan Amara memegang stir.
Aku hanya diam dan kembali duduk manis. Terdengar dari mulut Zayyan menjelaskan segala hal pada sang adik. Tak terasa kami sudah tiba di rumah. Kami bergegas memasuki rumah dan langsung menuju meja makan. Di sana sudah ada anak, menantu dan cucuku.
Usai semua sarapan kini semua pamit untuk bekerja. Hanya ada aku, Gia, Amara dan Rangga di rumah. Gia yang menjaga kedua batita itu saat aku membereskan piring kotor dan mandi. Kami berdua bergantian menjaga batita itu.
***
Rakha
Ma, aku sudah sampai di kampus dan papa sudah jalan langsung ke rumah sakit dulu.
Priyanka
Oke sayang. Hati-hati ya sayang.
Rakha
Iya, Ma. Gimana kesayangan-kesayangan aku?
Priyanka
Mereka lagi sama kakak kamu.
Rakha
Ma, pamit dulu ya! Lagi mau jalan nie.
Priyanka
Hati-hati sayang, jangan lupa berdoa dulu ya, sebelum jalan.
Rakha
Siap ratuku.
Rakha bersama rombongannya sudah jalan menuju Yogya. Dalam perjalanan canda tawa dan nyanyian mengisi keseruan mereka. Semua menyanyi dengan penuh kegembiraan.
Beberapa dosen di bis yang di tumpangi Rakha mulai bernyanyi. Banyak yang menyuruh Rakha untuk bernyanyi, karena suaranya yang merdu itu. Tetapi jagoanku malah memilih memejam matanya.
***
Perjalanan berjam-jam membuat Rakha sedikit bosan. Ia meminjam gitar teman sebangkunya dan mulai memetik senarnya. Teman di sampingnya yang mulai mendengar petikan suara gitarnya langsung bersiap bernyanyi.
Ooh Wowoo Wowoo
Ku akui
Aku memang cemburu
Setiap kali kudengar
Namanya kau sebut
Tapi ku tak pernah bisa
Melakukan apa yang
Seharusnya kulakukan
Karena memang
__ADS_1
Kau bukan milikku
Ku akui
Aku merindukanmu
Meski ternyata tak pernah
Kau merindukanku
Tapi ku tak pernah bisa
Melakukan apa yang
Seharusnya kuinginkan
Karena memang
Kau bukan milikku
Sesungguhnya
Ku tak rela
Jika kau tetap bersama dirinya
Hempas janji cinta yang kuberi
WooWooo
Semampunya ku mencoba
Tetap setia
Menjaga segalanya
Demi cinta
Woo Fo Yee
Ku akui
(Ku akui)
Aku merindukanmu
(Aku merindukanmu)
Meski ternyata
(Meski ternyata)
Tak pernah kau merindukanku
(Tak pernah kau merindukanku)
Tapi ku tak pernah bisa
Melakukan apa yang
Seharusnya kuinginkan
Karena memang
Kau bukan milikku
Woo Wooo
Sesungguhnya ku tak rela
Jika kau tetap bersama dirinya
Hempas janji cinta yang kuberi
WooWoo
Semampunya kau mencoba
Tetap setia
Menjaga segalanya
Demi cinta
Tak pernah berakhir
Wowowoo Wowowoo
Sesungguhnya ku tak rela
Jika kau tetap bersama dirinya
Hempas janji cinta yang kuberi
Woo Woo
Semampunya ku mencoba
Tetap setia
Menjaga segalanya
Demi cinta
Woo Woo
Hempas janji cinta yang kuberi
(Keinginanku untuk)
(Kau tau isi hatiku)
Demi cinta
Woo Fo Yee
"Widiw, mantap suara lo bagus banget. Tapi nggak sebagus Rakha sih. Mungkin lagu Kejujuran Cinta dari Kerispatih, membuat gue meleleh. Kha, nyanyi dong!" ujar gadis yang duduk di bangku depan Rakha.
"Nggak bisa nyanyi tahu!" seru Rakha merendah, karena malu akan suaranya.
"Pake malu lagi loh, pasti udah banyak deh penghargaan yang lo dapet!" seru gadis itu sambil mengambil gitar itu.
Gadis itu merebut gitar dari tangan Rakha. Dia memetik gitar itu dan mulai membacakan tiap bait puisi.
Aku yang semula tak pernah percaya akan adanya cinta.
Cinta yang selalu orang-orang bicarakan.
Betapa indahnya cinta yang selalu dapat memabukkan.
Betapa saktinya cinta yang sering menjadi pengukir luka.
Aku tak percaya.
Tak akan pernah percaya.
Itu keyakinanku dahulu.
Aku yang dahulu selalu memalingkan muka.
Dari insan-insan yang terlena oleh cinta.
Aku yang dahulu selalu yakin dan percaya.
Akan kunaiki gunung kehidupan ini seorang diri.
Aku pasti kuat.
Kesombonganku terdahulu.
Namun seketika.
__ADS_1
Aku rasakan denyut yang terasa asing menggelitik dijantungku.
Detakan yang tak mau tenang.
Terasa mengusik dadaku.
Ketika kulihat ada sosok bagai malaikat dihadapanku.
Sosok yang memancarkan keindahan jiwa.
Raga yang mencerminkan keanggunan.
Tutur kata yang melontarkan kesopanan.
Terucap dari bibir indah yang merona.
Merah merekah bagai bunga mawar yang mekar.
Diantara tajamnya duri semak belukar.
Aku yang tak kuasa menyagkal.
Aku tak kuasa menutupi terangnya sinar yang terpancar.
Terasa menyilaukan pandangan.
Pandangan mataku yang selalu kujaga.
Agar tetap lurus kedepan.
Aku kini terjatuh dalam linangan keindahan.
Rasanya tak sanggup aku keluar darinya.
Dan aku pun tak ingin berpaling darinya.
Kedua mata yang tak dapat berkedip.
Seakan tak ingin rugi melewatkan keindahan yang terpancar dari sosoknya.
Kaki ini terasa gemetar.
Ketika ia melangkah mendekat.
Menyapaku yang sedari tadi tenggelam kedalam lautan kekaguman.
Aku yang dahulu selalu tegak kokoh ingin sendiri.
Kini mengharapnya menjadi kawan pengiring langkah.
Baru sekali ini aku terpesona.
Hanya sekali ini aku menganga.
Terbius oleh cantiknya sosok karya Tuhan.
Aku tak kuasa lagi untuk menolak.
Aku tak sanggup lagi untuk berpaling.
Harus ku akui.
Aku yang kini jatuh.
Aku yang kini terlena.
Kedalam indahnya kubangan cinta pertama.
Suara merdu sang gadis membuat Rakha dan lelaki lainnya, meleleh pasti. Gadis itu membuat Rakha tidak nyaman, karena setiap bait puisi yang dibacakan tertuju pada dirinya. Tatapan gadis itu selalu tertuju pada Rakha, hanya saja dia tidak mau membahas urusan cinta.
Belajar, belajar dan belajar itulah fokusnya saat ini agar tidak membuat kecewa kedua orang tuanya. Keinginan sukses seperti kakak-kakaknya dan papanya. Kebahagiaan Rakha hanya ada pada keluarganya.
***
Tak terasa waktu perjalanan mereka pun tiba juga di Yogyakarta. Mereka langsung menuju kamar masing-masing. Rakha sekamar dengan Gilang sahabatnya, kedua lelaki ini adalah idola kampus. Mereka terkenal dengan kedinginan, kecuekkannya juga ketegasannya.
Rakha langsung mengambil ponselnya dan menelpon orang rumahnya. Walau sudah larut malam, sesuai amanat sesampainya di Yogya harus menghubungi sang mama. Aku selaku mamanya memang selalu khawatiran sama dia.
Tut.. Tut..
"Halo, Ma." ujarnya menyapa wanita kesayanganku.
"Hai, sayang." sahutku dengan lembut dan nada serak khas orang baru bangun tidur.
"Rakha sudah sampai setengah jam yang lalu, Ma. Gimana kabarnya si kecil kesayangan aku l, Ma?" ujar Rakha dengan rasa kangen yang menggebu-gebu.
"Mereka baik-baik saja, sayang. Kamu gimana kabarnya? Sudah makan?" ucapku sambil bersandar di papan tempat tidur.
"Aku baik, Ma. Tadi makan di rest area. Ma, kangen." ujarnya dengan manjanya.
"Ish, udah gede masih manja aja loh sama mama lo bro." ledek Gilang membuat aku tertawa.
"Diem Gilang." teriak Rakha membuat aku menjauhi ponsel.
Zeyden menggeliat dan terbangun saat aku terus bergerak tak bisa diem. Dia memelukku dan menciumi pundakku. Aku meminta ijin pada putraku, agar dia juga bisa istirahat.
***
Hari pertama di Yogyakarta Rakha dan teman-temannya menjelajahi keraton. Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Keraton Yogyakarta (Hanacaraka:ꦠꦩꦤ꧀ꦱꦫꦶꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦡ, Tamansari Ngayogyakarta) adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor.
Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan "The Fragrant Garden" ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air.
Kebun yang digunakan secara efektif antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.
Konon, Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono II sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri. Sebagai pimpinan proyek pembangunan Taman Sari ditunjuklah Tumenggung Mangundipuro. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh Bupati Madiun, Tumenggung Prawirosentiko, besrta seluruh rakyatnya. Oleh karena itu daerah Madiun dibebaskan dari pungutan pajak.
Di tengah pembangunan pimpinan proyek diambil alih oleh Pangeran Notokusumo, setelah Mangundipuro mengundurkan diri. Walaupun secara resmi sebagai kebun kerajaan, namun bebrapa bangunan yang ada mengindikasikan Taman Sari berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir jika istana diserang oleh musuh. Konon salah seorang arsitek kebun kerajaan ini adalah seorang Portugis yang lebih dikenal dengan Demang Tegis.
Kompleks Taman Sari setidaknya dapat dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama adalah danau buatan yang terletak di sebelah barat. Bagian selanjutnya adalah bangunan yang berada di sebelah selatan danau buatan antara lain Pemandian Umbul Binangun. Bagian ketiga adalah Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan bagian kedua. Bagian terakhir adalah bagian sebelah timur bagian pertama dan kedua dan meluas ke arah timur sampai tenggara kompleks Magangan.
Bagian pertama merupakan bagian utama Taman Sari pada masanya. Pada zamannya, tempat ini merupakan tempat yang paling eksotis. Bagian ini terdiri dari danau buatan yang disebut "Segaran" (harfiah\=laut buatan) serta bangunan yang ada di tengahnya, dan bangunan serta taman dan kebun yang berada di sekitar danau buatan tersebut.
Di samping untuk memelihara berbagai jenis ikan, danau buatan Segaran juga difungsikan sebagai tempat bersampan Sultan dan keluarga kerajaan. Sekarang danau buatan ini tidak lagi berisi air melainkan telah menjadi pemukiman padat yang dikenal dengan kampung Taman. Bangunan-bangunan yang tersisa dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Di tengah-tengah Segaran terdapat sebuah pulau buatan, "Pulo Kenongo", yang ditanami pohon Kenanga (Kananga odorantum, famili Magnoliaceae). Di atas pulau buatan tersebut didirikan sebuah gedung berlantai dua, "Gedhong Kenongo". Gedung terbesar di bagian pertama ini cukup tinggi. Dari anjungan tertingginya orang dapat mengamati kawasan Keraton Yogyakarta dan sekitarnya sampai ke luar benteng baluwarti.
Konon Gedhong Kenongo terdiri dari beberapa ruangan dengan fungsi berbeda. Dari jauh gedung ini seperti mengambang di atas air. Oleh karenanya tidak mengherankan jika kemudian Taman Sari dijuluki dengan nama "Istana Air" (Water Castle). Saat ini (Januari 2008) gedung ini tinggal puing-puingnya saja.
Di sebelah selatan Pulo Kenongo terdapat deratan bangunan kecil yang disebut dengan "Tajug". Bangunan ini merupakan menara ventilasi udara bagi terowongan bawah air. Terowongan ini merupakan jalan masuk menuju Pulo Kenongo selain menggunakan sampan/perahu mengarungi danau buatan. Dahulu di bagian barat pulau buatan tersebut juga terdapat terowongan, namun kondisinya sekarang kurang terawat dibandingkan dengan terowongan selatan.
Di sebelah selatan Pulo Kenongo terdapat sebuah pulau buatan lagi yang disebut dengan "Pulo Cemethi". Bangunan berlantai dua ini juga disebut sebagai "Pulo Panembung". Di tempat inilah konon Sultan bermeditasi. Ada juga yang menyebutnya sebagai "Sumur Gumantung", sebab di sebelah selatannya terdapat sumur yang menggantung di atas permukaan tanah.
Untuk sampai ke tempat ini konon dengan adalah melalui terowongan bawah air. Saat ini bangunan ini sedang dalam tahap renovasi besar - besaran yang bertujuan untuk merestorasi bangunan - bangunan yang masih ada.
Sementara itu di sebelah barat Pulo Kenongo terdapat bangunan berbentuk lingkaran seperti cincin yang disebut "Sumur Gumuling". Bangunan berlantai 2 ini hanya dapat dimasuki melalui terowongan bawah air saja. Sumur Gumuling pada masanya juga difungsikankan sebagai Masjid.
Di kedua lantainya ditemukan ceruk di dinding yang konon digunakan sebagai mihrab, tempat imam memimpin salat. Di bagian tengah bangunan yang terbuka, terdapat empat buah jenjang naik dan bertemu di bagian tengah. Dari pertemuan keempat jenjang tersebut terdapat satu jenjang lagi yang menuju lantai dua. Di bawah pertemuan empat jenjang tersebut terdapat kolam kecil yang konon digunakan untuk berwudhu.
Bagian kedua yang terletak di sebelah selatan danau buatan segaran merupakan bagian yang relatif paling utuh dibandingkan dengan bagian lainnya. Bagian yang tetap terpelihara adalah bangunan sedangkan taman dan kebun di bagian ini tidak tersisa lagi. Sekarang bagian ini merupakan bagian utama yang banyak dikunjungi wisatawan.
Gedhong Gapura Hageng merupakan pintu gerbang utama taman raja-raja pada zamannya. Kala itu Taman Sari menghadap ke arah barat dan memanjang ke arah timur. Gerbang ini terdapat di bagian paling barat dari situs istana air yang tersisa. Sisi timur dari pintu utama ini masih dapat disaksikan sementara sisi baratnya tertutup oleh pemukiman padat. Gerbang yang mempunyai beberapa ruang dan dua jenjang ini berhiaskan relief burung dan bunga-bungaan yang menunjukkan tahun selesainya pembangunan Taman Sari pada tahun 1691 Jawa (kira-kira tahun 1765 Masehi).
Di sebelah timur gerbang utama kuno Taman Sari terdapat halaman bersegi delapan. Dahulu di tengah halaman ini berdiri sebuah menara berlantai dua yang bernama "Gedhong Lopak-lopak", versi lain menyebut gopok-gopok. Sekarang (Januari 2008) gedung ini sudah tidak ada lagi. Di halaman ini hanya tersisa deretan pot bunga raksasa serta pintu-pintu yang menghubungkan tempat ini dengan tempat lainnya. Pintu di sisi timur halaman bersegi delapan tersebut merupakan salah satu gerbang menuju Umbul Binangun.
Umbul Pasiraman atau ada yang menyebut dengan "Umbul Binangun" (pengucapan dalam bahasa Jawa "Umbul Winangun") merupakan kolam pemandian bagi Sultan, permaisuri, para istri (garwo ampil), serta para putri-putri raja. Kompleks ini dikelilingi oleh tembok yang tinggi. Untuk sampai ke dalam tempat ini disediakan dua buah gerbang, satu di sisi timur dan satunya di sisi barat. Di dalam gerbang ini terdapat jenjang yang menurun. Di kompleks Umbul Pasiraman terdapat tiga buah kolam yang dihiasi dengan mata air yang berbentuk jamur. Di sekeliling kolam terdapat pot bunga raksasa. Selain kolam juga terdapat bangunan di sisi utara dan di tengah sebelah selatan.
Bangunan di sisi paling utara merupakan tempat istirahat dan berganti pakaian bagi para puteri dan istri (selir). Di sebelah selatannya terdapat sebuah kolam yang disebut dengan nama "Umbul Muncar". Sebuah jalan mirip dermaga menjadi batas antara kolam ini dengan sebuah kolam di selatannya yang disebut dengan "Blumbang Kuras". Di selatan Blumbang Kuras terdapat bangunan dengan menara di bagian tengahnya. Bangunan sayap barat merupakan tempat berganti pakaian dan sayap timur untuk istirahat Sultan. Menara di bagian tengah, konon digunakan Sultan untuk melihat istri dan puterinya yang sedang mandi kemudian yang tubuh telanjangnya paling mengesankan sultan akan di panggil ke menara. Di selatan bangunan tersebut terdapat sebuah kolam yang disebut dengan "Umbul Binangun", sebuah kolam pemandian yang dikhususkan untuk Sultan dan Permaisurinya saja. Pada zamannya, selain Sultan, hanyalah para perempuan yang diizinkan untuk masuk ke kompleks ini. Ini di mungkinkan karena semua perempuan (permaisuri, istri ( selir ) dan para putri sultan) yang masuk ke dalam taman sari ini harus lepas baju (telanjang), sehingga selain perempuan di larang keras oleh sultan untuk masuk ke Taman Sari.*
Penjelasan itu Rakha dapat dari wikipedia, karena memang di harus mengetahui sejarah mengenai lokasi yang dia datangi saat ini. Rakha pun menyampaikan kepada para teman-teman sekelompoknya.
***
Hai kesayanganku, cukup nggak sama ceritaku..
Tamat ah.. hehehe..
Beberapa part lagilah.. Ikhlas nggak kalo di stop???
Nah, sebelum off kalian itu kudu wajib banget meninggalkan jejak.
Jadi jangan lupa jempol, share, komen dan vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Aish, jejak kesayangan aku pada kemana ya? Aku rindu jejak kalian. Sebuah penghormatan jika kalian meninggalkan jejak kunjungan kalian ke hatiku. Eits, boleh dong author gombal dikit.
*diambil dari wikipedia.