Relung Langit

Relung Langit
Part 32


__ADS_3

"My princess tolong bangun, nak. Bunda nggak sanggup liat kamu diam seperti ini. Sudah seminggu kamu seperti ini sayang. Apa kamu mau Bunda suruh Kak Bi pulang? Tapi apa kamu rela liat kakakmu pulang dengan perasaan hancur melihat kesayangannya tergeletak seperti ini. Bangun sayang. Kita mulai dari awal ya. Kamu boleh lakukan apapun asal kamu bangun, nak." lirih Bunda sambil mengelus punggung tanganku.


Air mata Bunda tumpah mengenai tanganku, secara reflek tanganku bergerak. Hanya saja mataku masih terpejam dan air mataku keluar lewat ujung mata. Semua orang-orang terkasih melakukan berbagai cara untuk membuatku sadar.


Saat tak ada yang menemaniku, sosok wanita penuh rasa bersalah duduk di samping ranjangku. Dia menggenggam jemariku dan menciuminya. Sesekali dia mengelus tanganku dengan sangat lembut.


"Sayangnya Tante, bangun ya. Maafkan tante, om dan Gibran ya sayang. Sampai detik ini tante belum dapat kabar keberadaannya. Sayang bangun dan tante minta lanjutkan hidupmu. Lupakan anak tante yang brengsek itu. Hidupmu masih panjang sayang, Bunda dan Ayahmu telah menghukum kami dengan memutuskan tali persaudaraan. Tapi bagi kami, kalian masih saudara kami. Bangun dan buat bangga keluargamu. Maafkan tante mungkin setelah hari ini tante tidak bisa menemuimu. Tante mohon maafkan tante dan keluarga kami." ujarnya sambil menangis sesegukkan dan tak berapa lama ia meninggalkanku.


Setelah kepergianku, Anyelir datang dan menemaniku. Dia mendengar serta melihat kejadian tadi hanya diam sambil mengelus tangan dan rambutku.


***


Setelah dua minggu aku di rawat, akhirnya aku siuman. Orang pertama kali kulihat adalah Kak Aryan yang masih tertidur di kursi samping ranjangku. Aku mengelus kepala dan pipinya sehingga ia terbangun. Saat terbangun ia bahagia sambil menitikkan air matanya.


Semua orang sudah berada di kamarku dengan senyuman bahagia mereka. Aku yang bingung kenapa bisa berada di rumah sakit dan mencari seseorang yang kunantikan.

__ADS_1


"Kak, dimana Gibran? Kok dia tidak kelihatan." tanyaku dengan suara lemah.


"Lupain dia ya sayang." ujar Kak Aryan lembut namun sorot matanya memancarkan kebencian mendalam.


"Kak, nggak boleh gitu dia itu kan.." ujarku terpotong karena kepalaku mendadak sakit dn aku memegangi kepalaku.


"Kenapa sayang?" tanya Kak Aryan sampai bangkit dari duduknya.


"Sakit Kak." ujarku menyeringai kesakitan.


"Duduk Kak. Kak, mau kita mulai dari awal?" pintaku dengan lirih.


Ya aku sudah mengingat semua kejadian itu. Wajahku kembali sedih saat teringat semuanya. Aku kehilangan cinta dan jati diriku. Sejak saat itu aku tak mau tampil dengan diriku yang sebenarnya. Aku mulai dengan merubah semua dandanan dan kelakuanku. Sejak keluar dari rumah sakit aku memilih tinggal di perkampungan.


Aku menjadi pendiam dan pemurung sampai akhirnya aku bertemu dengan Abian. Dia yang menuntunku menjadi diriku sendiri. Dia tidk melihat aku dari fisik. Dia menerimaku apa adanya sebelum Dia berpaling mengkhianatiku dengan sahabatku.

__ADS_1


Flash Back Off


***


"Gue mau ketemu sama pengantinnya, An. Tolong sekali ini saja." pinta Gibran kepada sahabatku di telepon.


"Nanti gue atur ya. Tapi dengan satu syarat, lo nggak boleh peluk, pegang tangan dan hal lainnya kepada Priyanka. Gimana?" sahut Anyelir memberikan ultimatum pada Gibran dan dia mengiyakannya.


Kini tinggal Anyelir yang memikirkan bagaimana caranya biar aku bisa ketemu dengan Gibran. Dia tahu kalau aku ketemu sama Gibran secara otomatis air mataku pasti akan mengalir bak keran bocor. Dia tidak mau hubunganku dan Zeyden rusak karena hal ini.


Akhirnya Anyelir dengan perasaan berat hati mengatur waktu yang tepat dan mengatakannya denganku. Awalnya aku menolak, tapi Zeyden meyakinkanku bahwa dia akan selalu berusaha menguatkanku.


"Kita temui dia ya! Aku akan selalu ada buat kamu. Jika kamu menangis lagi, biarkanlah. Dan jika dia mau menjelaskan semuanya dengarkanlah. Aku percaya sama kamu sayang." ujarnya sambil mengelus tanganku dengan lembut dan aku hanya menyandarkan kepalaku ke dadanya.


"Aku hanya belum yakin, apa ini keputusan yang baik bertemu dengannya lagi. Aku takut menyakitimu." ujarku dengan suara sedikit gemetar dan Zeyden hanya mengecup kepalaku.

__ADS_1


__ADS_2