Relung Langit

Relung Langit
Part 122


__ADS_3

***Duh, Author kok baper ya bacanya??


Banyak yang nanya sama. Thor, ini cerita nyata bukan sih? Jawabannya adalah lanjut baca aja ya para readers kesayanganku. Jika ada yang memiliki jalan cerita, nama dan konflik yang sama, maaf sama sekali bukan dari hal yang sama yua guys..


Next lanjut yuks.. Atau mau cus tamat aja??


Tapi Author sedih nih, Kalian tidak vote, like dan share novel ini. Hiks.. Hiks..


Gift away untuk gombalan paling meleleh aku perpanjang sampai akhir bulan Februari ini ya, Gaes… Cus, yang mau gift away dari aku langsung komen di bawah ya, dengan gombalan kalian untuk salah satu karakter di novel ini***.


****


“Dad!!” teriak anak-anak saat mendengar suara Daddy-nya.


“Hai, para kesayangan Daddy dan Mommy.” sapa Kak Aryan saat melihat anak-anakku.


Ponselku langsung diambil alih oleh Gara dan aku hanya memegang jemari Zeyden dengan senyuman manis. Anak-anak asyik bersenda gurau dengan sang Daddy, cemburu jelas aku cemburu. Pangeranku kini diambil alih oleh keempat putraku.


***


Sesampainya di rumahku, anak-anak langsung masuk ke kamar masing-masing begitupun denganku dan Zeyden. Selesai bersih-bersih kami menuju meja makan. Karena sampai rumah sekitar pukul sembilan malam. Zayyan matanya berkaca-kaca menikmati makan malam terakhir bersama adik dan kedua orang tuanya. Aku yang memperhatikannya hanya diam dan mengamati setiap gerakannya. Dia selalu membuat si bungsu kesal dan si kembar ribut hanya karena lauk pauk. Zeyden hanya menyaksikannya tanpa ingin menasihati seperti biasanya.


Zayyan menuntaskan makan malam lebih cepat dan segera menuju kamarnya. Dia membiarkan pintu kamarnya terbuka, disana aku melihat dia tengah memeriksa kembali isi koper dan ransel yang akan dibawanya ke London. Tak lupa dia memasukkan sebuah figura kedalam ranselnya, kau tahu figura itu adalah foto kami semua. Aku perlahan masuk dan duduk disampingnya. Tanpa kuduga dia langsung memelukku dan menangis sampai sesegukkan.


“Kakak, kenapa seperti ini?” tanyaku sambil mengelus punggungnya dengan lembut.


“Ka.. kak, akan rindu pada Mama dan kalian semua.” ucapnya dengan sesehukkan.


“Kak, dengerin, Mama. Kalo kakak kangen, kakak kan bisa video call Mama?” ingatku kepadanya dan mengecup puncak kepalanya.


“Apapun yang kakak lalui disana, harus selalu lapor sama Daddy, Mommy dan Mama, ya Kak! Seberat apapun masalah yang kakak lalui disana pasti menjadi ringan jika berbagi.” ucapku masih memeluknya erat.


Zayyan anak yang pandai, dewasa dan lembut. Walau terkadang dia bisa bersikap seperti papanya dingin dan angkuh dalam berpenampilan. Entah kenapa anak laki-lakiku dominan seperti papanya semua sikapnya.


“Ma, nanti disana tidak ada yang akan mengajarkan kakak hafalan lagi!” lirihnya takut akan meninggalkan agamanya.

__ADS_1


“Disana ada Daddy, kakak bisa setor hafalan sama Daddy. Jangan salah loh kak, Daddy itu dulu juga penghafal yang hebat.” ucapku dengan senyuman yang mengembang.


“Ma, boleh nggak, kakak tidur sama Mama, sebelum nanti kita berangkat ke bandara?” lirihnya dengan tatapan memelas dan aku menganggukinya.


Aku merangkulnya dan membiarkan anak sulungku terlelap dalam pelukanku sebelum berpisah hampir lima tahun nantinya. Terlebih dia tidak akan pulang saat liburan semesternya, karena ingin membantu sang Daddy di perusahaannya. Dia disanapun harus menjaga sepupunya yang cantiknya tidak ketulungan, selain itu Devika sudah susah diatur oleh kedua orang tuanya, hanya mendengar Zayyan saja. Itu sebabnya Kak Aryan dan Kak Sharma sangat senang anakku akan tinggal bersamanya.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat limabelas menit. Aku segera membangunkan Zayyan untuk mandi dan bersiap-siap. Aku keluar meninggalkannya bersiap dan menuju kamar membangunkan Zeyden dan juga anak-anak di kamar masing-masingnya. Setelah semua siap, kami pun segera meluncur ke bandara.


Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta, semua keluarga kami sudah tiba lebih dulu untuk mengantar keberangkatan Zayyan. Kakak beradik itu duduk di bangku sambil bersenda gurau. Walau wajah mereka sangat sedih namun kebahagiaan tak pernah luput dari tatapan mereka.


“Gara, Gia, dengerin kakak. Jangan usilin Rakha terus dan nurut sama papa juga mama ya! Ups satu lagi, hafalan jangan ditinggal, kita tetap kompetisi ya! Sering-sering hubungi kakak ya sayang.” ucapnya pada si kembar dengan penuh kasih dan diangguki oleh keduanya.


“Kak, disana jagain Devika ya! Jangan buat dia makin jauh dari kita.” pinta Gia pada sang kakak yang dipercayai bisa kembali membawa sang sepupu.


“Doain kakak ya. Semoga kakak bisa membawanya kembali ke jalan yang benar.” ucapnya dengan nada sangat lembut.


“Kak, maafin Rakha ya. Selama ini selalu nyusahin Kak Zayyan. Rakha akan jagain mama buat kakak.” ucap Rakha dengan sesegukkan.


“Hei, jagoan. Kenapa nangis? Katanya kuat, kok cengeng sih!” ujar Zayyan sambil mengangkat wajah adik bungsunya dengan kedua telapak tangannya dan menciumnya.


“Kakak, udah maafin adik-adik kakak yang nakal ini kok.” lirihnya sambil memandangi wajah adik-adiknya satu persatu.


Aku dan Zeyden menghampiri putra-putri kami dengan ketegaran yang walau tersimpan sesak dalam dadaku. Sulungku akan pergi cukup lama, aku pasti akan merindukannya selalu. Mampukah aku jauh dari salah satu anakku setelah sekian tahun kami bersama. Zayyan langsung memeluk Zeyden saat kami sampai di hadapannya.


“Pa, maafin kakak yang selalu nggak nurut sama Papa. Makasih juga papa masih sempatin waktu buat nemanin kami semua hafalan. Nanti kakak kirim voice note hafalan kakak ya pa?” ucapnya dalam pelukan sang papa.


“Iya, papa tunggu lanjutan hafalanmu ya. Dan jagain keluarga disana ya, sering-sering hubungi kami ya sayang.” ucap Zeyden dengan suara yang serak menahan tangis, aku hanya mengelus kedua punggung lelaki kesayanganku.


“Ma, jangan sakit lagi ya! Kalo mama sakit kabarin kakak ya!” pinta putraku dan aku hanya menganggukinya.


“Mama, akan Ade jagain, Kak.” sambung Rakha dan Gara bersamaan.


Tak berapa lama suara dari pusat informasi menarik Zayyan menuju gate yang akan mengantarkannya. Kini aku hanya mampu memandangi punggung putraku sampai dia menghilang dari pandanganku. Aku yang masih menyampirkan tangan di pinggang Zeyden dan suamiku merangkulku. Setelah tak lagi terlihat aku duduk di bangku dan menaruh kepalaku di dada Zeyden. Dia mengelus kepalaku dan menciuminya.


Sedih rasanya melepas putraku pergi ke negara lain seorang diri. Aku ingin menemaninya hanya saja dia melarangnya. Anak-anakku yang lain duduk di kiri kanan aku dan Zeyden juga si bungsu memilih duduk bersimpuh di depanku sambil menaruh kepalanya di pahaku. Terdengar suara tangisan dari sebelah Zeyden yang tak lain adalah suara Gara.

__ADS_1


Gara sangat kehilangan kakak satu-satunya karena selain sebagai kaka, Zayyan juga saingannya dalam segala hal. Nilai disekolah, hafalan dan popularitas yang mereka kecam selama ini. Kini Gara akan sangat kehilangan motivasinya dalam segala hal. Karena dikeluarga kami, Zayyanlah panutan para adik-adiknya. Tak ada yang berani membantah setiap ucapan sang kakak yang penuh kharisma itu.


Gia yang melihat kembarannya menangis ikut menangis, Siapa yang tak merasa kehilangan, Zayyan selalu menjaga ketiga adiknya super ketat. Sampai tak ada satu pun yang berani menyentuh adik-adiknya. Gia pernah hampir dilecehkan oleh salah satu teman sekelasnya, dan Zayyanlah yang maju setelah tahu bila Gara babak belur karena berusaha menolong Gia. Lelaki yang melecehkan Gia sampai di rawat tempat Zeyden. Dia mendapat perawatan intensif selama sebulan penuh.


Rakha bukannya tidak menangis, ia ingin sekali melakukannya. Tapi aku tahu, dia takut aku ikut bersedih pula. Maka dari itu dia berusaha tegar. Jam tangan sudah menunjukkan pukul dua pagi. Kami semua segera kembali kerumah dengan perasaan campur aduk. Tak lupa aku mengirim pesan kepada kakakku tersayang, setelah sampai dirumah. Anak-anak masuk ke kamar masing-masing dan kami berdua pun sama.


***Priyanka Pradipta Putria


Kak, Zayyan sudah take off. Jika dia sudah sampai kabari kami.


Mr. A


Baik my princess. Sesuai amanatmu, akan kakak hubungi kamu nanti.


Priyanka Pradipta Putria


Makasih, Kak. Kak, tolong jaga Zayyanku ya!


Mr. A


Jelas sayang, dia kesayangan kami disini. Oh iya, dapet salam kalian dari Devika dan Sharma.


Priyanka Pradipta Putria


Salam balik buat mereka ya kak. I miss you so much my prince A***.


Tak ada lagi balasan dari kakakku. Segera kutaruh ponsel di nakas, dan aku langsung berbaring disamping Zeyden sambil memeluknya. Aku tidak bisa tidur tanpa memeluk Zeyden, maka dari itu kemana pun ia pergi aku selalu ikut. Dialah detak jantung dan oksigen dalam kehidupanku, juga anak-anakku. Dia selalu melakukan yang terbaik untuk keluarganya, terlalu romantis untuk setiap hal kecil dan sepele menurutku.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa Share, Komen, Like dan Vote ya kesayangan aku.


Love you. Ditunggu juga gombalan buat para karakter favorit kalian..


__ADS_2