Relung Langit

Relung Langit
Part 42


__ADS_3

"Kak, Zoan kenapa itu!" teriakku sambil memukul dada suamiku, aku sangat panik.


"Zo, lo mau bangun nggak? Atau mau gue tinggalin disini?" ujarnya membuat aku mencubit perutnya.


"Jangan gitu dong Kak. Kasihan Zoan kan." ujarku sedih dengan perkataan suamiku.


"Berisik lo pada. Ganggu gue tidur aja." ucap Zoan sambil mengulet dan membuka kunci pintunya.


"Sakit, Ka. Lo pikir pala gue apaan maen toyor-toyor aja." ucap Zoan sambil mendengus kesal karena aku toyor kepalanya.


"Lo depan Kak Zey. Lo pikir gue supir kali ya." cerocos Zoan yang nggak terima dia sendirian di depan.


"Gue harus jaga isteri dan calon anak gue." sahut Zeyden sambil menruh kepalaku ke dadanya.


"Gue mau jadi Om? Mantaplah." ujarnya dengan wajah yang mendadak ceria.


Zoan langsung menyalakan mobilnya. Sesekali terdengar obrolan antara Zeyden dan Zoan membahas masalah bola. Aku yang pusing mendengarnya langsung memilih memejamkan mata. Tak terasa kami telah tiba di rumah. Di teras rumah Anyelir sudah berkacak pinggang, wajahnya memerah seakan menahan marah.

__ADS_1


***


"Bagus loh ya Zo. Pergi gitu aja. Inget nggak hukuman lo dari kalah taruhan sama Kak Zey?" teriak Anyelir saat kami bertiga berjalan menghampirinya.


"Maksud lo apa, An?" tanyaku bingung tak mengerti.


"Itu si dodol, seenak jidatnya ngomong mau bersihin rumah kalian kalo sampe Kak Zey dapet martabak yang lo mau." jelas Anyelir.


"Dan gara-gara lo pergi berjam-jam terpaksa gue yang gantiin." lanjutnya dengan geram.


"Sekarang lo bakal jadi tante An." jelas Kak Zeyden singkat sambil membawaku masuk kedalam.


"Hah! Serius nih?" ujarnya tak percaya sambil mengekor aku dan Kak Zeyden.


Zoan, Anyelir dan semua orang makin lebih ekstra perhatian padaku. Mereka menanyakan apa yang aku mau. Aku makin seperti princess, semua urusan makanan dan lain-lain mereka yang urus. Orang tua kami sempat mau menjenguk, tapi aku larang sampai nanti weekend saja.


Tapi larangan itu tidak berguna buat kedua kakakku. Mereka langsung meluncur ke Bandung. Kak Bryan lebih dulu sampai, ketika kakak keduaku baru saja mau duduk.

__ADS_1


"Ehem, gue mau lo masak dong." pinta Zeyden meminta kakakku masak, padahal tak seperti biasanya.


"Kak Zey, Kak Bi baru sampe. Masa kakak tega nyuruh tamu masak sih." ujarku kesal dengan permintaan Zeyden.


"Lo mau masak nggak?" tanya Zeyden dengan menaikkan nada suara.


"Suami lo kesambet apa, De? Kok aneh gitu sih!" bisik Kak Bryan yang bingung dengan perubahan adik iparnya.


"Iya, nggak tahu Kak. Kak Zey dari kemarin sikapnya aneh." ujarku pelan.


"Bagus ya kalian berdua malah gosipin aku. Kalian emang udah nggak ada yang sayang sama aku." ujar Zeyden sambil berlari menuju lantai dua dengan menangis.


"Susul suami aneh lo, De. Gue masakin dia deh." ujar Kak Bryan yang mengalah.


"Ya udah Iya tinggal kakak dulu ya. Nanti Anyelir sama Zoan datang nemenin Kakak sepulang mereka nanti." ucapku.


Aku melangkah menuju kamar. Disana aku tidak menemukan suamiku, saat aku memasuki kamar. Kakiku melangkah menuju kamar mandi disana juga aku tidak menemukannya. Aku makin khawatir dimana suamiku berada. Saat aku berbalik aku terkejut melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2