Relung Langit

Relung Langit
Part 50


__ADS_3

"Sayang.." manjaku pada Zeyden yang lagi duduk menatap laptopnya di atas ranjang.


Aku melangkah kesal karena panggilanku tak digubrisnya. Aku naik ke kasur dan langsung menaruh kepalaku di bahunya. Dia masih tetap fokus menatap laptopnya yang tertera laporan-laporan. Karena kesal bukan main aku langsung tutup laptopnya dan aku masuk ke dalam selimut.


"Yang, kamu nih kenapa sih, aku lagi kerja tahu." ucapnya sambil melihat ke arahku dn mengelus kepalaku.


"Sayang.." ujarnya dengan sangat lembut, namun tak aku gubris.


Aku tetap diam, saat aku merasakan nafasnya di telingaku. Aku berbalik dan dia hanya tersenyum ketika bibir kami bertemu. Seketika aku langsung menjauhi wajahnya dengan tanganku.


"Mendingan kakak cium laptopnya aja. Terus peduli kerjaan dan Zayan aja sana. Aku mah bukan siapa-siapa disini." rajukku sambil bangun dari tempat tidur, namun tanganku ditarik hingga aku terjatuh di kasur.


"Oh, isteri aku lagi cemburu nih. Masa sama anak sendiri cemburu." ucapnya meledek aku.

__ADS_1


"Kamu tuh ya Kak, datang langsung ke kamar bersih-bersih terus ketemu Zayan dan dicium dia. Nanyain perkembangan dia dan lain sebagainya. Ibunya Zayan dicuekin, dicium nggak, ditanyain kabar juga nggak." protesku dengan kesal.


"Sini.." ujarnya sambil menarik aku ke dekatnya.


"Sini.. Sini dulu kamunya." pinta dia dan aku menurutinya.


"Aku minta maaf ya sayang, aku nggak nanyain kamu karena aku lihat kamu baik-baik saja. Kamu kalo ada apa-apa juga pasti bilang sama aku. Kalo Zayan kan nggak mungkin sayang. Ya udah sekarang kamu mau aku gimana? Dikamar ini aku milikmu sekarang." ujarnya sambil memelukku dan mencium pucuk kepalaku.


"Kamu itu milik aku selamanya. Jangan ngomong ngaco ah. Aku nggak suka." ucapnya dengan menekannya nada bicaranya.


"Ih, aku kan cuma menjelaskan maksud kamu yang bilang kalo dikamar ini kamu itu milik aku sekarang." aku makin menjadi jadi membuat Zeyden kesal.


"Sayang, aku nggak akan main-main sama kamu. Aku sudah bahagia punya kamu dan Zayan dalam hidup aku. Kamu satu-satunya yang aku cintai saat ini dan selamanya." ujarku sambil menangkup wajah Zeyden.

__ADS_1


"Oh iya, sayang. Kakak kamu kenapa sih belum pada nikah? Atau bertunangan gitu. Minimal pacarlah, atau jangan-jangan mereka..." ucap Zeyden yang penasaran dengan kedua kakak iparnya yang masih menjomblo itu.


"Hush, kamu kalo ngomong ya!" ucapku yang memoyong perkataan Zeyden tentang kakakku.


"Mereka sempat punya tunangan sayang. Sebelum kejadian aku itu. Mereka normal kok, kalo sekarang belum pacaran. Hmm, itu karena mereka mau mencari pasangan yang bisa menyayangiku dan keluargaku tulus." jelasku dengan mencoba menerawang ke masa lalu, namun sudah dibuyarkan oleh Zeyden.


"Kenapa harus kamu dan keluargamu?" tanya Zeyden penasaran membuat aku berhenti menerawang.


"Karena aku kan princess mereka." jawabku sekenanya.


"Aku tahu ada yang tersembunyi dalam kata-kata kamu barusan. Aku akan siap mendengarkannya saat kamu pun siap bercerita." ujar Zeyden seakan tahu apa yang aku tutupi.


"Kalo kamu mau cerita akuratnya tanyalah sama Kak Ryan. Mereka akan menceritakannya kok." ujarku sambil mencium pipi Zeyden dan kemudian kami tidur sambil berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2