
"Maksud kamu Kak Aryan sudah punya calon?" suamiku bertanya dengan wajah penasaran.
"Iya sayang, aku sudah bertemu walau dia belum tahu itu aku." sahutku sambil duduk di samping Zeyden sambil menaruh kepala di dada bidangnya.
"Apa Kak Aryan memperminkan Zahra?" tanya Zeyden membuat aku sedikit kecewa dengan perkataannya dan bangkit dari duduk.
"Denger ya sayang, Kak Aryan nggak seperti yang kamu pikirkan. Dia menganggap Zahra sama seperti aku." ucapku sambil meninggalkan dia yang masih duduk di sofa.
Zeyden masih termenung. Aku yang sudah berada di kamar mandi marah-marah karena kesal. Bagaimana bisa seorang Zeyden berpikiran seperti itu pada kakakku.
Satu jam sudah aku berada di kamar mandi, aku melangkah keluar dan melihat Zeyden tengah duduk di pinggir ranjang tanpa Zayyan. Aku acuh dan melewatinya begitu saja. Zeyden yang merasa aneh denganku hanya menatap tanpa berkata.
Makan malam tiba semua sudah duduk di meja makan, aku tetap melayani Zeyden dengan mengambilkan dia nasi dan lauknya. Aku tak ingin orang lain tahu aku sedang mendiamkan suamiku. Di meja makan sepi tanpa adanya obrolan. Aku langsung merapikan semua piring kotor setelah selesai makan. Mereka semua kini berada di ruang keluarga, aku mengantarkan minuman serta camilan lalu kembali ke dapur.
Setelah tugasku selesai di dapur aku langsung mengambil Zayyan dari Zeyden lalu membawanya ke kamar untuk tidur. Aku menidurkan Zayyan di tempat tidurnya. Masih ada kesal aku pun langsung memilih untuk tidur.
__ADS_1
Diruang keluarga mereka mencariku karena aku tak kunjung menghampiri mereka lagi. Akhirnya mereka bubar dan kembali ke kamar masing-masing. Zeyden masuk kamar dan melihatku sudah terlelap. Zeyden langsung memelukku dari belakang sambil mengecup pipiku.
"Kamu marah sama aku ya sayang? Aku salah apa sama kamu? Apapun kesalahanku, aku mohon maafkan aku." bisiknya sambil mengeratkan pelukannya.
Aku yang belum bisa terlelap hanya diam mendengar permintaan maaf tulus dari Zeyden. Mungkin ucapannya tadi hanya keluar tanpa maksud apapun darinya. Aku mengalahkan egoku dengan membalikkan badan dan membalas pelukannya.
"Maafkan aku juga ya sayang! Jujur aku tak terima saat kamu bilang Kak Aryan mempermainkan Zahra. Coba kamu lihat dimana letak Kak Aryan mempermainkannya?" ucapku sambil mendongkakkan wajah ke wajahnya.
"Maaf, aku tidak maksud menyakiti kamu dengan kata-kata itu. Aku tahu keluarga kalian tak diajarkan menyakiti hati siapapun. Maaf sayang!" serunya sambil mencium keningku lama dan aku hanya mengangguk.
Pagi hari aku tak merasakan pelukan suamiku, aku membuka mata dan melihat sebelahku sudah kosong. Aku segera mencari keliling rumah namun hasilnya nihil. Di garasi mobilnya masih bertengker disana. Aku makin gelisah, namun saat aku keluar pagar. Nampak seorang lelaki ganteng dengan baju olahraga yang penuh keringat. Aku langsung berlari menghampirinya dan memeluknya.
"Jangan tinggalin aku kayak tadi lagi sayang." ucapku sambil menitikkan air mata.
"Iya sayang maaf ya! Tadi kamu pules banget tidurnya, aku nggak tega banguninnya." ujarnya sambil tetap merangkulku dan berjalan pulang ke rumah.
__ADS_1
"Abis jogging ya pak dokter." sapa seorang tetangga dengan senyuman.
"Iya bu. Mari bu." sahut singkat Zeyden.
"Eh, itu isteri Pak Dokter ya? Cantik banget sih. Aku nggak pernah lihat dia." seru para ibu-ibu menggosipkanku.
"Sebentar sayang." ucapku sambil melepas pelukan dan menghampiri ibu-ibu itu.
Ibu-ibu itu nampak ketakutan saat aku menghampirinya. Saat sampai di hadapan mereka, semuanya nampak diam dan hendak pergi.
"Kok pergi bu? Emangnya saya semenakutkan itu ya?" ucapku dengan senyuman diwajahku.
"Saya kesini cuma mau berkenalan. Saya Priyanka isteri satu-satunya dokter Zeyden. Saya sudah lama tinggal disini dari remaja, hanya saja saya memng jarang keluar." ucapku dengan keramahan.
"Oh." ucap ibu-ibu bersamaan.
__ADS_1
Mereka memperkenalkan diri masing-masing dan kami sesekali tertawa. Aku pamit pada mereka saat Zeyden menghampiri dan mengajak pulang. Saat hendak masuk ke dalam aku melihat sosok yang aku kenali. Aku berusaha menghampirinya hanya saja terlambat sesaat.