Relung Langit

Relung Langit
Part 104


__ADS_3

"Hai!" sapa Aryan dengan senyuman manisnya.


"Hai Pak Aryan. Sudah lama?" sahut Sharma mulai duduk di samping Aryan.


"Lumayan." jawab Aryan asal.


"Gimana kerjaanmu, Nak?" tanya Ibu Sharma sambil mengelus punggung tangan putri kesayangannya.


"Alhamdulillah lancar-lancar aja kok Mah." sahut Sharma dengan kelembutannya.


"Oh iya Mah, Pah. Sharma baru sadar kalau aku itu kerja di rumah sakit milik menantu keluarga Pradipta. Sayangnya aku belum pernah ketemu sama Dokter Zeyden. Padahal ya Mah, Pah, fans dia itu banyak banget loh. Tapi sejak menikah beliau jadi sulit ditemui." ujar Sharma antusias.

__ADS_1


"Wow, berarti keluarga Pradipta itu sespesial itu ya. Aku jadi penasaran sama mereka!" ujar Aryan membuat keluarga Sharma menatap ke arahnya.


"Jika Om ada jadwal pertemuan dengan Pak Pradipta, Om akan ajak kamu. Sekarang Om minta nomer kamu ya!" seru Ayah dari Sharma.


"Papa kenapa bisa langsung akrab gitu sama Pak Aryan? Sudah kenal lamakah kalian berdua?" tanya Sharma heran.


"Panggil Aryan saja. Tidak perlu embel-embel bapak." ujar Aryan dan diangguki oleh Sharma.


"Baru tadi mereka bertemu, tapi sudah langsung nyambung. Mama juga bingung, tumben papamu ini mau terbuka dengan orang baru." cerocos sang mama membuat kedua lelaki itu tersenyum.


"Loh, kok kalian main setuju aja sih. Emangnya udah tahu siapa Aryan, darimana dia berasal? Bukannya kalian selalu bilang bibit bebet bobot harus diperhatikan?" celetuk Sharma tak suka orang tuanya main setuju saja.

__ADS_1


Ya, sudah banyak lelaki yang berusaha untuk meminang Sharma. Hanya saja semua ditolak mentah-mentah oleh sang Ayah. Tapi entah mengapa saat Aryan mengajukan pernyataan yang sama dengan lelaki-lelaki itu, ayahnya dengan cepat menyetujuinya. Sharma pun bingung ada magnet apa yang ada dalam diri Aryan hingga semua yang bertemu dengannya langsung setuju.


Aryan hanya tersenyum melihat sikap dan mendengar perkataan Sharma. Ya, dia sudah tahu semua ceritanya dari Mbok Jum. Kedua orang tuanya tak menjawab apapun yang ditanyakan oleh putri mereka. Karena mereka berdua pun tidak tahu harus menjawab apa. Mereka hanya merasa Aryan yang terbaik untuk putri mereka.


Kedua orang tua itu pun meninggalkan Aryan dan Sharma yang masih mematung. Canggung jelas canggung. Mereka baru kenal tapi sudah sedekat ini.


"Apa yang mau kamu ketahui tentang aku?" tanya Aryan tanpa ragu.


"Semua." ucap Sharma singkat.


"Baiklah. Aku memiliki dua adik, dibawahku persis laki-laki dia sudah menikah dan yang bungsu adalah perempuan. Dialah princess keluarga kami, dia juga sudah memiliki keluarga kecil. Mereka berdua sudah tahu tentang kamu. Tapi maaf kamu belum bisa bertemu dengan dia secara langsung. Ada waktunya bertemu dengan cara yang berbeda. Mereka punya cara sendiri untuk memperkenalkan diri mereka ke kamu." jelas Aryan dengan lembut dan senyum tipis.

__ADS_1


Sharma memberikan anggukan tanda setuju akan setiap ucapan yang Aryan katakan. Waktu terus berjalan tak terasa matahari akan tertidur dalam selimut malam. Kini Aryan dan keluarga Sharma sudah berada di meja makan, mereka semua makan malam. Bak keluarga sempurna terdengar suara tawa dan obrolan dari meja makan.


Waktu semakin larut, Aryan ijin untuk pulang. Dan berjanji akan datang esok mengantar Sharma berangkat bekerja, walau awalnya ditolak oleh Sharma namun akhirnya disetujui juga. Kedua orang tua Sharma sangat bahagia bisa bertemu dengan lelaki seperti Aryan.


__ADS_2