
"Gimana Daddy? Seru kan belanja bareng anak-anak? Seruan mana belanja atau usilin mereka?" tanyaku membuat para ibu tertawa.
"Nggak lagi-lagi deh. Cukup sudah usilin mereka. Zayyan terlalu pintar untuk menghasut sodara-sodaranya berbelanja." ucap Zoan menepuk pundaknya yang pegal.
"Mereka itu sama seperti kalian bertiga." lanjutnya membuat aku terkekeh.
"Makanya Dad, jangan bilang Papa mau ambil Mama." celetuk Zayyan.
"Papa Zey aik, ndak aat aya det." seru Anggara dan Anggia kompak.
"Det, aat ama ita emua." seru kompak para bocil.
"Maaf nggak akan ngulangin lagi." ucap para daddy lalu dipeluk oleh anak-anak.
Kami pun makan bersama sepuasnya. Saat makan bersama Kak Aryan mengatakan kalau dia akan pergi ke luar negeri selama setengah tahun karena ada pekerjaan yang harus dia urus. Kami semua mendengarnya sedih, termasuk anak-anak. Devika malah menangis sejadi-jadinya, saat mendengar akan berpisah dengan saudara-saudaranya.
Entah sifat darimana Zayyan mendadak jadi sosok dewasa di usianya. Dia menenangkan sepupunya dengan sangat lembut. Jiwanya persis seperti Kak Bryan saat menenangkan aku ketika menangis. Semua merasa tersentuh oleh sikap Zayyan yang cukup dewasa itu.
__ADS_1
"Vika nggak pergi selamanya, nanti kapan-kapan kami semua yang akan mengunjungi kalian semua. Kami juga pasti akan selalu merindukan Vika. Kami sedih jika kamu menangis. Vika akan selalu menjadi kesayangan kakak kok, asal Vika nurut sama Daddy, Mommy dan Kakak. Okay?" ucap Zayyan sambil memeluk Devika dan mengelus kepalanya.
"Ika anji atan ulut ama det en mom. Aya akak Ayyan cayang Ika." sahut Devika sambil membalas pelukan kakak Zayyannya.
***
Siang berganti malam. Kami semua sudah berada di rumah masing-masing. Zayyan sudah masuk kamar bersama si kembar. Zayyan dengan telaten menidurkan kedua adiknya. Dia mau menjaga kedua adiknya seperti Daddy Aryannya menjaga Daddy Bi dan Mamanya.
Zayyan memang dekat dengan kedua kakakku sejak kecil. Semua cerita masa kecil kami selalu menjadi nina bobo untuknya, hanya saja sejak kehadiran para sepupunya, dia sedikit kehilangan waktu bersama kedu daddynya. Dia sedih, tapi Zeyden selalu memberi pengertian kepada putra sulung kami. Kini Zayyan mengerti, walau kasih sayang kedua daddynya sama sekali tidak berkurang kepadanya.
Zayyan bagi kami adalah langit yang selalu menyatukan kami. Dimanapun kami berada hanya dia yang selalu teringat. Saat kedua adiknya sudah terlelap dia keluar dari kamar dan menuju kamar tamu yang selalu didatangi oleh daddynya. Dia duduk di ranjang tempat mereka berdua selalu bermain.
"Ulang tahunku nanti kau tak hadir Dad. Kamu lupa itu Dad. Tapi aku tidak bisa egois menahanmu. Papa bilang itu demi perusahaan kita. Dad, jangan lupa sama aku." ucapnya membuat siapapun yang mendengarnya akan menangis.
Zeyden yang melihat kamar tamu pintumya terbuka, mulai melihat dan mendengarkan setiap ucapan anaknya. Dia tak sanggup menahan lagi rasa sesak dan segera menghampiri putra sulungnya. Zeyden duduk disamping Zayyan dan memeluknya.
"Daddy Ar nggak akan lupa sama Kak Zay. Tahu kenapa?" ucap Zeyden mengecup kepala anaknya dan dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Karena Kak Zay, anak Daddy Ar yang paling ganteng, paling sopan, paling baik, dan paling nurut. Daddy hanya sebentar meninggalkan kita. nanti dia akan kembali lagi." Jelas Zeyden pada putranya.
"Sekarang Kak Zay, tidur dulu ya. Besok kan mau antar Daddy dan Devika ke bandara?" ucap Zeyden dengan menangkup wajah anaknya.
"Pa, bisa kita tidur disini?" pintanya dan diangguki oleh Zeyden.
***
Zayyan tak menitikkan air mata. Walau hatinya sangat sedih. Senyum terpaksa terpancar dari wajahnya. Hanya beberapa orang yang bisa membaca wajah Zayyan. Kak Aryan mengajak Zayyan duduk di bangku yang cukup jauh dari kami semua. Kak Aryan tahu bahwa kesayangannya itu sangat sedih.
"Sayangnya Daddy kenapa sedih?" tanya Kak Aryan dengan lembut.
"Aku nggak sedih Dad. I'm happy." ucap Zayyan berbohong.
"Sayang, Daddy itu tahu kamu. Tapi kalo Zayyan nggak mau cerita nggak apa-apa kok. Daddy hanya mau bicara sama Zayyan. Dengerin Daddy ya!" ucap Kak Aryan dengan wajah serius.
"Zayyan sayangnya Daddy Ar. Selamat Ulang tahun, maaf jika Daddy ucapin duluan, karena Daddy takut besok akan sibuk dan nggak bisa bisa sama kamu. Daddy nggak lupa akan hari lahirmu kok. Hadiahnya nanti dikirim sama Dad Zo ya, tapi tidak hari ini. Dan janji harus nurut sama semua yang ada disini ya!" ucap Kak Aryan membuat Zayyan menangis.
__ADS_1
Kata-kata Kak Aryan mampu membuat cucu lelaki pertama menangis. Selama ini Zayyan tak pernah menangis dalam keadaan apapun. Dia akan menguatkan semua orang, tapi hari ini dia menangis. Kak Aryan dengan cepat memeluknya dengan erat dan menciumi wajah Zayyan. Kegiatan itu terhenti saat informasi keberangkatan tujuan yang akan Kak Aryan tuju segera berangkat.
"Dad, i miss you so much. Jaga kesehatan Daddy, jangan sakit atau aku akan sedih." ucap Zayyan dan diangguki oleh Kak Aryan.