
Sebulan setelah aku keluar dari rumah sakit. Aku kini tinggal di Bandung bersama suamiku. Kuliahku terhenti karena cuti yang kuajukan. Zeyden di minta menangani rumah sakit baru di Bandung selama setahun. Jadi aku sebagai isteri yang baik mengikutinya.
Gibran menghilang entah kemana sejak kejadian itu. Anyelir dan Zoan sedang menyusun skripsi, mereka juga magang di salah satu perusahaan Kak Aryan. Kak Bryan kembali dengan aktifitasnya menjadi dekan.
Hari ini aku sedikit bosan dirumah yang sangat sederhana itu. Tidak seperti biasanya, aku main ayunan di halaman depan sambil menunggu Zeyden pulang. Hanya tinggal limabelas menit lagi Zeyden sampai, mendadak aku meneleponnya.
"Sayang kamu sudah dimana?" tanyaku tanpa salam.
"Kenapa sayang? Aku sebentar lagi masuk komplek kok." sahutnya yang sudah mulai membelokkan setir mobil ke komplek perumahan.
"Sayang belikan aku martabak bangka rasa durian ya!" pintaku dengan sedikit merenggek.
"Sayang, jam segini mah belum pada buka. Udah gitu mana ada yang jual martabak durian." sahutnya heran dengan permintaanku.
"Sayang, sekarang kan lagi nggak musim durian." sambung Zeyden yang bingung.
"Ya udah aku cari sendiri." ujarku kesal.
"Tunggu aku, sebentar lagi aku sampai." sahutnya dengan gelengan kepala tak percaya akan kelakuan anehku, dan ia mematikan teleponnya.
"Tumben banget sih si Priya minta yang aneh-aneh sih." batin Zeyden sambil memutar balikkan mobilnya.
***
__ADS_1
***Anyelir
Kak Zey, jemput gue sama Zoan di depan gerbang perumahan lo dong.
Zeyden
Tunggu***
Mobil berwarna merah itu berhenti di depan sepasang manusia. Dia membuka kaca dan memberikan klakson.
Tiin..
"Masuk cepetan, gue mesti nyari sesuatu nih buat si nyonya." teriaknya dan segera sepasang itu masuk kedalam mobil.
"Eh, kenapa lagi nyonya lo?" tanya Zoan yang sudah duduk di samping kemudi.
"Hm.. Martabak durian." ujar Zeyden sambil mendengus.
"Dia ngidam?" tanya kedua sahabatku kompak.
Zeyden mendongkakkan kepala. Dan menatap kedua sahabatku secara bergantian. Pikirannya seakan menerawang jauh.
"Jangan bilang pak dokter kita nggak ngecek!" ledek Anyelir dan disambut anggukkan dari Zeyden.
__ADS_1
"Wah parah lo. Kalo bener bini lo bunting gimana?" tanya Zoan ceplas ceplos.
"Ya kan ada gue, Zo." sahut Zeyden polos.
"Ih, bukan itu maksud gue pak dokter dodol. Kalo bini lo bunting terus dia kerja berat di rumah terus kecapean gimana?" jelas sahabatku membuat Zeyden sedikit panik.
"Ya elah, Kak. Zoan lo dengerin. Emang kapan lo terakhir maen bola sama sohib kita?" Anyelir mencoba menanyakan secara tersirat.
"Semalem masih main bola sih gue sama dia.." ujarnya sampai menceritakan lebih dalam.
Plak..
"Dodol, gue nggak butuh spesifikasi kayak gitu. Lo mau maen gaya apa juga bukan urusan gue keles." Anyelir kesal sambil memukul pipi Zeyden dan Zoan hanya ketawa.
***
"Gila ya si nyonya, kepinginannya ampun deh. udah sembilan tukang martabak yang kita berhentiin jawabannya sama NGGAK JUAL." ucap Zoan kesal karena dia terus yang disuruh menanyakan ke tukang martabak.
"Lihat aja kalo yang ke sepuluh ada, besok gue bersihin rumah lo, Kak." ucapnya mendengus kesal.
Mobil yang mereka naiki pun berhenti di depan gerobak yang bertuliskan Martabak Bangka. Kali ini Zeyden sendiri yang turun. Dan berjalan mendekati si penjual martabak, kedua sahabatku hanya melihatnya dari dalam mobil.
"Pasti nggak ada lagi deh." sok tahunya Zoan.
__ADS_1
"Inget omongan lo tadi ya, Zo. Kalo sampe ada." Anyelir mengingatkan sambil tersenyum licik dan Zoan mengangkat ibu jarinya tanda oke.
Tak berapa lama Zeyden kembali ke mobil. Di dalam mobil Zoan sudah tertawa puas kalo dia menang. Zeyden membuka pintu dan duduk di belakang kemudi.