Relung Langit

Relung Langit
Part 80


__ADS_3

Sejak aku dan dan Zeyden memutuskan untuk menghandle acara Kak Bryan. Gibran jadi lebih sering main kerumahku. Dia selalu datang setiap dirumah ada Zeyden, dia tidak mau membuat kesalahan yang sama. Dia sudah banyak berubah sejak kejadian terakhir dulu.


Hari ini aku seharian di rumah, dan Zeyden memilih meliburkan diri. Tak akan dia biarkan aku di rumah sendirian tanpa dia. Zayyan sudah bisa jalan, aku selalu dibuat repot sama Zayyan sejak dia bisa berjalan. Kedua lelakiku tengah duduk di gazebo sambil bermain-main. Aku menghampiri mereka sambil membawa camilan dan minuman favorit mereka masing-masing.


"Zayyan sayang, lagi apa sama papa?" tanyaku sambil mengecup keningnya.


"Ma..in.." jawabnya terbata-bata.


"Makasih sayang." ujar Zeyden menerima minuman yang aku berikan dan anggukan sebagai balasannya.


"Gibran hari ini mau kesini sayang. Boleh?" tanyaku pada Zeyden.


"Ada yang harus diurus lagi kah?" tanyanya sedikit bingung.

__ADS_1


"Nggak sayang, urusan udah tinggal hari H saja. Dia mau main sama pangeran kita." seruku sambil menciumi wajah putraku yang gembil.


"E.. Li.. Mah." ucap Zayyan membuatku makin gemas.


"Mama, nakal ya, pangeran papa di usel-usel gitu. Nih mama rasakan gelitikan dari papa." ujar Zeyden sambil memberikan gelitikan di pinggangku dan membuat aku kegelian.


Kami bertiga tertawa lepas tanpa beban. Terkadang seperti ini saja sudah cukup membuatku bangga memiliki keluarga hebat ini. Suami yang selalu support aku dalam hal apapun. Dan pangeranku pelengkap kebahagiaan kami.


Langkah kaki terdengar dari samping. Tapi tak kami gubris karena sedang asyik bercanda dengan kedua lelakiku.


"U..e.." ulang Zayyan mengikuti kalimat Gibran saat menyebutkan kata gue.


"Aku" sahut Zeyden sambil mengambil Zayyan dan tanganku.

__ADS_1


"Uncle Gibran salah bicara sayang, maksud uncle aku. Ya kan Uncle?" ujar Zeyden sambil melotot ke arah Gibran.


"Iy.. Iya aku, maaf ya ganteng. Uncle salah bicara tadi." ucapnya pada Zayyan dan dianggukin oleh putraku.


Zayyan tidak biasa mendengar kata-kata gue lo dan lain-lainnya. Setiap kata yang tidak biasa dia dengar, pasti akan dia ulang. Zayyan anak yang cerdas jadi sekali diberi tahu langsung menurut.


"Uncle mau main sama Zayyan boleh?" pinta Gibran pada anakku sambil memberikan beberapa hadiah.


"Uncle, besok-besok tidak boleh bawa hadiah ya! Nanti Zayyannya kebiasaan." ujarku dengan tegas ke Gibran dan hal itu membuatnya menatapku bingung.


"Kami tidak membiasakan dia dengan hadiah." jelas Zeyden ke Gibran dan membuatnya sedikit paham.


"Ya sudah kalian ngobrol dan main dulu sama Zayyan. Aku ke dalam dulu ya." ucapku sambil meninggalkan ketiga lelaki itu.

__ADS_1


Aku hanya mengamati ketiganya dari ruang tengah. Mereka sangat bahagia bermain dengan Zayyan. Sampai akhirnya mereka mengajari putraku dengan bermain sepak bola. Aku tertawa saat melihat Zayyan hendak menendang bola tapi malah kosong.


Zeyden yang selalu berdiri di belakang untuk menjaga Zayyan membuatku bangga. Dia bukan hanya suami yang siaga untukku tapi buat keluarga. Aku tahu diluar sana banyak wanita yang mengincar Zeyden, hanya saja hatinya sudah mati kepadaku, begitu juga aku yang sudah sangat mencintainya.


__ADS_2