Relung Langit

Relung Langit
Part 151


__ADS_3

"Kamu aja yang naik, ajak Ara. Aku di sini saja," titahnya karena enggan berjalan berdampingan dengan wanita itu dan diangguki oleh kesayangannya.


Bukan tidak peka, Zayyan pun tahu jika guru adik kecilnya itu sedih. Tapi dia sangat benci di kejar-kejar wanita yang hanya melihat wajah juga hartanya. Pernahkah ia kecewa sama perempuan, jawabannya tidak. Hanya saja dia pernah melihat perlakuan buruk kepada sahabatnya.


Hal itulah yang membuat ia tidak respect terhadap wanita seperti itu. Kini pandangan lelaki tampan itu tertuju pada panggung di mana adik dan keponakannya tengah berdiri menerima piala juga piagam. Dia hanya tersenyum simpul dari tempatnya.


Ia merentangkan tangan saat Amara berlari ke arahnya. Langsung dia menggendong sang adik dan menciumi wajahnya. Gia tersenyum akhirnya sang kakak mampu menunjukkan ekspresi untuk Amara walau sangat singkat.


"Bu Akira cantik ya, Kak?" tanya Gia yang berdiri di samping Zayyan sambil memperhatikan wanita bernama Akira.


Zayyan hanya melirik sekilas dan menjawab dengan deheman. Akira bukanlah yang dia harapkan, sehingga sikapnya makin dingin saat mendengar nama itu. Gia yang tak tahu jika kakaknya sempat melirik menjadi geram sendiri.


"Buka hati sih, Kak. Mau sampai kapan sendirian? Mau jadi bujang lapuk emangnya?" gerutu Gia yang membuat Zayyan gemas dengan ucapan adiknya sehingga dia mengusek-ngusek rambut adiknya.


"Bukan cuma Mama, Papa, Oppa, Daddy, Mommy dan kakak-kakak yang lainnya. Rangga juga butuh sepupu. Come on, menikahlah kakakku yang ganteng nan dingin." ucap Gia membuat Zayyan menghentikan segala aktifitasnya dan menatap sang adik dengan intens.


"Kamu tahu, ketakutan terbesar kakak apa? Tidak bisa mengekspresikan perasaan kakak pada wanita yang akan menjadi isteri kakak nanti," jelas Zayyan dengan menurunkan Amara dari gendongannya.


"Please deh, kakak tampanku. Itu tidak beralasan sama sekali," ujar Gia sambil menggelengkan kepala dan berlalu meninggalkan kakaknya sendirian.


Gia menggandeng adik dan anaknya secara bersamaan menuju mobil sang papa. Tak kunjung menyusul wanita cantik itu langsung menelpon Zayyan.


Gia sungguh tak mengira jika kakaknya bisa berpikir demikian. Pasalnya dia hanya takut tidak bisa mengekspresikan dirinya kelak. Konyol memang kakaknya itu bisa berpikir begitu.


***

__ADS_1


Amara dan Rangga berlari ke dalam rumah. Gia yang terus bermanja ria dengan sang kakak membuat siapapun mengira mereka pasangan. Rohan sudah di ruang tamu saat sang isteri masih memeluk pinggang lelaki terhebatnya.


Rohan langsung menghampiri Zayyan untuk mencium tangannya. Mereka berdua duduk di ruang tamu sambil membahas rumah sakit. Tak lama aku datang bersama Ayah dan Zeyden. Ayah langsung duduk bersama cucu-cucunya.


Tak lupa Zeyden memeriksa sang mertua lebih dulu. Karena waktu di rumah, Ayah tak ingin di periksa. Bersyukur kondisi beliau baik-baik saja. Zeyden langsung meninggalkan anak dan menantunya itu.


Di kamar Amara dan Rangga yang sedang ganti baju langsung memelukku. Tak lupa dia menciumi ke wajah kita. Kedua anak itu mulai bercerita mengenai lomba sampai Bu Akira yang terus memperhatikan sang kakak.


"Bu Akira suka sama Kak Zayyan, Ma. Cuma aku di pelototin kakak setiap kali Bu Akira menanyakan tentang kakak. Nyebelin, Kak Zayyan itu!" gerutu Amara yang membuat aku tersenyum mendengar ceritanya.


"Aku juga ditanyain, Bu Akira nanya aku siapanya Yanda Zay. Aku jawab aja Kalo Yanda itu Ayahnya Rangga. Terus Bu Akira langsung sedih gitu." sahut Rangga dengan antusiasnya.


"Kenapa Rangga jawab gitu?" tanyaku penasaran.


"Ya udah abis ini Amara dan Rangga makan siang dulu ya, nanti kalo udah selesai main sebentar lanjut bobo siang ya!" ucapku memotong pembahasan mengenai Zayyan.


Ah, si sulungku itu memang kadang bikin pusing karena tidak bisa diketahui keinginannya. Kami semua menuju meja makan. Di sana sudah ada para lelaki yang menanti dengan senyuman terindah.


Aku menyendokkan nasi buat suamiku tersayang lalu untuk si bungsu. Seorang ibu selalu makan belakangan demi sang anak. Kadang Zeyden suka menyuapi aku karena tidak rela isterinya makan telat. Kadang juga para bujangku yang melakukankannya.


Usai makan siang para anak kecil segera ke kamar ditemani oleh Gia. Zeyden, Rohan dan Zayyan ngobrol di halaman belakang sedangkan Ayah di kamar. Rajaku itu memang sering menyendiri setiap kali merindukan Bunda, sama denganku yang rindu akan segala kelemah lembutannya.


Aku menghampiri Ayah di kamar kala lelaki patuh baya itu memeluk figura wanita tercintanya. Sedih rasanya melihat pemandangan itu segera kupeluk beliau dari belakang dengan erat. Terdengar tangisan pilu yang tak pernah kudengar sampai detik ini.


Saat Bunda pergi pun, Ayah tak menitikkan air matanya. Ia antarkan kekasihnya dengan senyuman kini aku melihat sisi terapuh yang tak pernah ia tunjukkan. Ayah meletakkan figura itu dan membalikkan diri menghadapku. Ia usap air mataku dan mencium wajahku dengan penuh kesayangan.

__ADS_1


Rajaku tak kalah romantisnya dengan suamiku. Dia ajak aku duduk di tepi kasurnya dan dia mulai menceritakan keluh kesahnya terhadapku. Ia mengatakan tak ada lagi tempat berbagi selain kepadaku, ia enggan berbagi dengan para putranya. Ia segan karena putranya sudah menjadi suami, tak ingin mengajarkan kerapuhan kepada putranya.


Dia memilihku karena baginya sampai kapanpun aku tetap putri kecil kesayangannya. Gadis kesayangan yang tak pernah menjauhi dirinya dalam keadaan apapun. Sedih rasanya ketika beliau berkata demikian. Bukan menantunya tidak sayang pada beliau, kedua menantu perempuannya sangat menyayangi beliau sama seperti kami anak-anaknya mencintainya.


Hanya saja perbedaan anak kandung dan menantu jelas berbeda rasa nyamannya. Terlebih Ayah memang lebih terbuka kepadaku juga Zeyden dalam hal apapun kecuali saat Bunda sakit. Ayah memang selalu menampilkan ketegaran kepada kedua putranya agar kelak hanya hal positif yang ditiru mereka. Bukan kerapuhan seperti saat ini, walau aku yakin kedua kakakku itu tetap menerima hal yang terjadi pada Ayah. Karena kerapuhan Ayah disebabkan rindu akan kekasihnya selama dia hidup bersama.


Usai cerita Ayah memelukku erat seraya berkata "Jangan menjauh dari keluarga apapun yang terjadi. Tetap jadi dirimu sendiri sampai maut menghampirimu. Jaga keluargamu tanpa terkecuali, kamu wanita kuat yang sangat hebat."


Jelas kata-kata itu membuat aku menangis. Mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut rajaku membuat aku takut. Semoga beliau selalu sehat dan takkan meninggalkanku seperti Bunda. Aku masih membutuhkan cinta kasih darinya.


Tak lama Ayah berbaring karena lelah dan mulai terlelap. Jantungku terus berdetak tak karuan melihat beliau terlelap. Entah mengapa aku takut beliau tak membuka mata lagi saat terpejam. Aku belum siap jika harus ditinggalkan lagi.


***


**Selamat menunaikan ibadah puasa ya kesayangan aku. Maafin aku yang baru muncul lagi. Karena belakangan ini kondisi kesehatan aku masih naik turun.


Buat yang mau plagiat karyaku coba mikir dulu deh. Apa manfaat kalian memplagiasi karya orang lain? Mau terlihat hebat atau keren? Salah besar jika berpikir demikian, justru hal itu membuat kamu menjadi manusia yang tidak menghargai diri kamu sendiri.


Kenapa aku ngomong begini? Karena jika kamu menghargai diri kamu sendiri dengan karya sendiri jauh terhormat daripada menjiplak karya orang lain untuk mendapatkan popularitas atau sebagainya itu adalah hinaan terbesar untuk diri kamu.


Memplagiasi karya orang lain sama dengan merampok bahkan membodohi diri sendiri. Kok membodohi diri sendiri? Ya, karena kamu tidak kau menggunakan otak kamu untuk membuat suatu hal positif dengan usaha kamu.


Jadi kalo mau memplagiasi mending mikir dulu ya say. Dirimu berharga atau tidak? Jika tidak bersiaplah dengan konsekuensi dari perbuatan memplagiasi itu.


Aku hanya memberitahu saja ya, bukan marah loh. Bulan Ramadhan tidak boleh marah-marah. Be happy guys. And enjoy to read. Ah, always to be positive thinking**.

__ADS_1


__ADS_2