Relung Langit

Relung Langit
Part 150


__ADS_3

Malam nan dingin usai air mata langit menyapa dataran Jakarta. Seorang anak perempuan berdiri di sebuah pintu kamar dan mulai mengetuknya. Wajahnya cemas akan sesuatu yang entah apa sedang dipikirkannya.


"Kak Zay, hari ini temenin Ara ke acara sekolah kan? Mama kan harus ke rumah Opa," saat pintu dibuka dan terpampang wajah tampan sang kakak dengan baju tidurnya.


"Masuk dulu," perintah sang kakak sambil menyuruh adiknya masuk dan duduk di pinggir ranjang.


"Kalo Kakak nggak bisa Ara marah nggak?" tnya Zayyan dengan hati-hati kepada sang adik yang super sensitif.


"Kenapa?" tanya singkat Ara yang sudah menekuk wajahnya.


"Ya sudah jika tidak ada yang bisa, Ara minta Kak Rohan aja sekalian dengan Rangga yang ikut." ucapnya sambil bangun dengan wajah kecewanya.


"Sayang," ucap Zayyan sambil menahan tangan adiknya dan menariknya dalam dekapannya.


"Kakak akan datang, mana tega kakak biarin adikku yang manis ini sedih!" serunya sambil mencoel pipi Amara.


"Itu karena takut Papa dan Kak Rakha ngamuk. Kalo mereka bisa pasti mereka yang menemaniku. Kak Zay mana pernah ada waktu denganku dari dulu," Amara memang sangat menggemaskan sayang ucapannya terkadang bikin ngejleb. Ucapannya yang to the point mirip dengan Zayyan.


Zayyan yang hanya terpaku usai sang adik mengatakan pernyataan itu. Memang dirinya jarang ada waktu untuk sang adik, selain acara keluarga jangan harap dia memiliki waktu. Ya, hanya acara keluarga yang tak bisa dia mentolerir kealpaannya, atau dia akan mendapat amukan oleh Mama dan papanya.


"Sorry, Honey!" lirihnya sambil mengecup seluruh wajah sang adik.


"It's okey. Tapi Kak Zayyan harus nurutin semua yang Ara mau besok." sahutnya sambil memberikan jari kelingkingnya dan dibalas oleh lelaki tampan itu.


Besok ada acara di sekolah Amara semacam lomba bersama orang tua. Sayangnya aku tak bisa menemaninya, karena Ayah sakit sedangkan kakak-kakakku melakukan perjalanan bisnis yang tak bisa ditunda. Aku akan membawanya tinggal dirumah, oleh sebab itu aku meminta Zayyan menemani Amara.


Rakha tidak bisa karena ada urusan di kafe. Gara harus menangani perusahaan untuk meeting dengan klien dari Amerika. Aku tahu Zayyan akan segan, tapi dia tetap menerimanya walau tidak disukainya. Bukan terpaksa, tetapi dia tidak bisa menolak permintaan keluarganya.


***

__ADS_1


Keesokan paginya, Zayyan sudah bersiap dengan pakaian super casualnya. Kaos berwarna navy dengan celana jeans selutut dan sepatu kets yang membuat semua orang tak akan berkedip. Amara sudah siap dengan pakaian olah raganya. Kami semua sarapan terlebih dahulu.


"Ma, aku dan Kak Zayyan boleh naik mobil Mama?" pinta putri kecilku dengan mata berbinar-binar dan aku hanya menoleh ke arah Zeyden.


"Kak Zay, naik mobil sport Papa aja. Mobil Mama belum di service," ucap Zeyden tanpa inggin dibantah dan membuat si kecil membuang nafas kasar.


Rakha hanya mengelus kepala sang adik dengan lembut, dia sangat tahu jika Amara sedang kecewa. Sebenarnya, bukan tidak mengijinkan menaiki mobilku, hanya Zayyan suka khilaf kalau pakai mobil itu. Terlalu nyaman itu yang selalu dia katakan. Sayangnya, Amara belum mengetahuinya.


Mobil sportku hanya layak dipakai oleh Zayyan di sirkuit bukan di jalanan macam ibukota ini. Rakha mencoba menjelaskan kepada Amara hingga dia mengerti. Si kecil hanya menatapku juga Zeyden seakan dia mencari keyakinan da4i ucapan kakaknya itu. Kami berdua hanya menganggukkan kepala.


"Untung Rakha bisa ngendaliin situasi si bungsu, kalo nggak, tamat dia di tangan Kak Zay," gumam Gara yang terdengar oleh Zayyan dan langsung menjitak kening adiknya itu.


"Sakit, Kak!" serunya dengan penuh kekesalan.


"Makanya kalo ngomong di pikir dulu." sahut Zayyan sambil memasukkan roti yang sudah di beri selai stroberi.


Kami pun menikmati sarapan dengan damai. Semua bersiap berangkat ke tujuan masing-masing, aku mengantar Amara dan Zayyan ke mobil. Tatapan si bungsu meminta aku untuk ikut tapi apa daya aku sungguh tak bisa.


"Okey, Ma. Please percaya aku kali ini, janji akan bawa dengan kecepatan super rendah," sahut Zayyan sambil mengecup pipiku.


Mereka berlalu meninggalkanku masih mematung menatap kepergian kesayanganku. Tak lama Gara dan Rakha pamit padaku sambil mencium tangan juga pipiku. Aku melangkah ke mobil yang sudah ada Zeyden di balik kemudi.


***


Di sekolah Amara, mobil sport merah itu membuat sorotan penghuni tempat itu. Mereka semua melotot dan bengong saat Zayyan turun bersama dengan sang adik. Beberapa anak menghampiri Amara sambil berlari. Si bungsu itu hanya diam dalam genggaman sang kakak.


Kehebohan semakin menjadi saat kakak beradik itu memasuki sebuah kelas. Wanita muda berparas cantik menghampiri Amara dan menanyakan kabarnya. Zayyan yang cuek nan dingin itu tak menggubris tingkah wanita itu. Dia tahu orang di depannya itu tengah mencari perhatiannya.


Amara yang tahu jika sang kakak tidak menyukai hal itu tak menjawab apapun pertanyaan mengenai sang kakak. Dia enggan membuat masalah yang akan merugikannya jika Zayyan marah. Padahal Zayyan sangat menyayangi seluruh keluarga tanpa terkecuali.

__ADS_1


"Anra," sapa Rangga menyapa Tante ciliknya itu bersama Gia di belakangnya. Anra panggilan Rangga yang artinya Ante Amara.


"Kak Gia," sahut si bungsu sambil mencium tangan sang kakak dan dilakukan hal serupa oleh Rangga.


"Kakak beneran nemenin Ara. Aku kira bohongan." ucap Gia pada sang kakak setelah mencium tangan juga pipi Zayyan.


Semua mata menatap ke arah Zayyan dan Gia yang sangat tampan dan cantik. Bahkan ada yang memoto keduanya sampai bergosip jika Gia selingkuh dari papanya Rangga. Sikap cuek keduanya membuat mereka tak menggubris apapun itu.


Rangga sudah bercanda dengan keponakan juga sahabat-sahabat mereka. Gia juga Zayyan hanya memerhatikannya. Sebuh pengumuman meminta semua wali murid beserta anak-anaknya ke lapangan karena acara akan segera di mulai. Mereka berempat pun segera mengikuti intruksi itu, Gia terus menatap sang kakak dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa seorang dokter hebat mau turun ke lapangan demi adik kecilnya yang bisa dikatakan sangat tidak dekat.


Sedangkan Zayyan membuang nafas kasar karena dia baru sadar jika hari ini tanggung jawabnya besar. Harus menjaga tiga orang tersayang mereka. Dia akan melakukan apapun asal mereka bertiga aman dan bahagia. Sikap cuek Zayyan hanya di luar untuk orang lain, tetapi untuk keluarga dia sangat hangat.


"Kak Gia, kenapa Kak Zay seperti gunung es gitu sih?" bisik Amara di telinga kakak perempuannya dan Gia hanya tersenyum mendengarnya.


"Apa di rumah juga begitu?" tanyanya balik kepada sang adik dan dia menggelengkan kepala.


"Jadi apa menurut putri cantik ini mengenai kakak ganteng kita?" tanya Gia ingin tahu pendapat adiknya mengenai kakak pertamanya.


"Ganteng, baik, penyayang hanya sikap itu tidak Ara temuin kalo di luar rumah." jawab Amara dengan kepolosannya.


"Sudah jangan bahas pangeran mahkota kita nanti dia ngamuk bahaya." gumam Gia mengajak adiknya menghampiri kakaknya.


Zayyan mengikuti hampir semua perlombaan mulai lari sampai bernyanyi. Ah, semuanya mendapat juara satu. Amara bangga pada kakak sulungnya itu yang sangat hebat, tanpa sadar dia melihat senyuman di wajah kakaknya membuatnya terkejut. Pasalnya seorang Zayyan tak akan tersenyum selain di rumah.


Hal itu juga membuat Gia kaget. Pertama kali sejak sang kakak kembali ke Indonesia tak pernah ia melihat senyum itu ada di luar rumah. Spontan Gia dan Amara memeluk sang kakak karena bahagia. Amara yang meminta di gendong Zayyan tak henti menciumi wajah kakaknya.


"Permisi, Amara dan Tuan.. Bisa naik ke atas panggung untuk menerima hadiahnya!" ujar wanita cantik yang selalu berusaha dekat dengan Zayyan.


"Tuan Zayyan!" sahut Gia dengan senyuman.

__ADS_1


"Kamu aja yang naik, ajak Ara. Aku di sini saja," titahnya karena enggan berjalan berdampingan dengan wanita itu dan diangguki oleh kesayangannya.


__ADS_2