Relung Langit

Relung Langit
Part 36


__ADS_3

"Sayang bangun, aku mohon. Jangan tinggalin aku." ujar Zeyden sambil menangis dan menciumiku.


"Sabar ya Bro. Gue yakin Priya baik-baik aja. Denyut nadinya masih normal. Tadi gue ngegertak Gibran aja." ujar Zoan membuat Zeyden sedikit lega.


"Gue nggak bisa tenang, Zo. Lo liat ini darahnya gak mau berhenti." ujar Zeyden penuh kepanikan.


"Ya, jangan kembali seperti dulu ya. Waktu dimana lo enggan bangun, jangan bikin kami takut Ya. Liat suami lo, betapa khawatirnya dia." batin Zoan.


Laju mobil semakin cepat. Lampu lalu lintas pun dibablas oleh Zoan. Dia tidak lagi peduli jika di tilang. Belum terlalu jauh dari lampu lalu lintas yang dibablas, sirine mobil polisi mengekori mobil kami.


"Sial, pake diikuti lagi." gumam Zoan kesal akan kesalahan yang sudah dia lakukan.


Mobil polisi sudah menghadang mobil kami. Zoan langsung keluar, Zeyden belum sadar jika mobil itu berhenti.


"Pak, bapak boleh nilang saya. Asal mobil bapak siap bawa sodara saya kerumah sakit secepat mungkin." ujar Zoan bernegoisasi.

__ADS_1


"Kamu kira kami mobil ambulan apa, seenaknya aja kamu nyuruh-nyuruh kami." ujar salah satu polisi yang berbadan gemuk.


"Bapak nggak percaya saya liatin pak." ujar Zoan kesal sambil membuka pintu belakang dan membuat Zeyden kaget begitupun kedua polisi itu.


Polisi itu saling melempar pandangan dan akhirnya memutuskan menilang Zoan. Sedangkan polisi satu lagi membawaku bersama Zeyden kerumah sakit. Dengan suara sirine membuat waktu tempuh lebih cepat. Kini mobil polisi sudah berada di depan ruang UGD. Para perawat langsung berlarian membawa bangsal ke arahku.


***


Zeyden langsung mengambil alih menyelamatkanku, walau sempat ditolak karena dia bukan dokter di rumah sakit itu. Tapi karena Zeyden memaksa salah seorang petugas rumah sakit menelpon pemilik rumah sakit itu dan mengijinkan Zeyden turun tangan. Karena sang pemilik itu adalah sahabat Zeyden.


Zeyden dengan tampang yang sangat serius berusaha menyelamatkanku. Ya, aku harus transfusi darah. Namun, stok di rumah sakit kosong dan saat menelepon PMI pun tidak ada. Lima belas menit yang lalu di rumah sakit kencana membutuhkan darah golongan yang sama denganku. Zeyden bingung dan kacau, dia sudah berusaha menghentikan pendarahan namun aku memerlukan darah.


"Tapi dok, anda terlalu pucat. Saya tidak berani." ujar suster yang dimintai Zeyden ambil darah.


"Istri saya dalam bahaya." ujarnya lirih sambil menangis.

__ADS_1


"Dokter hebat bisa nangis juga ya!" seru seseorang berdiri di samping Zeyden.


"Azura." Ujarnya sambil memeluk sahabatnya yang kini berdiri di sampingnya.


"Hei bro, istri lo disini, enak aja lo maen peluk gue." ujarnya sambil mendorong Zeyden dengan senyuman.


"Apa golongan darah istri lo?" tanyanya dengan menghampiriku.


"AB rhesus negatif." ujarnya dengan cepat.


"Sus, ambil darah saya. Golongan pasien sama dengan saya." ujar Azura membuat Zeyden tersenyum dan langsung memeluknya.


"Zey, lepasin. Gue mau ambil darah nih. Kalo lo meluk gue terus kapan gue bisa nolong istri lo." tegasnya dan berlalu meninggalkan kami.


***

__ADS_1


"Bun, bangun." ujar Ayah menangis.


Tak berapa lama setelah Ayah memohon, Bunda menggerakkan kelopak matanya. Bunda sudah siuman dan segera menanyakan aku. Diruangan itu darahku masih berceceran di lantai membuat Bunda menangis sejadinya. Ayah hanya memeluk dan menceritakan semuanya. Bunda marah, tanpa sadar dia menampar Ayah.


__ADS_2