
Bunda sangat-sangat marah dan kecewa pada Ayah. Walau tanpa sengaja sudah melukai putri satu-satunya. Bunda sudah kalap dan meminta Anyelir segera mengantarnya ke rumah sakit. Tanpa peduli dengan Ayah, Bunda pergi.
"An, gimana dengan Priya ya?" ujar Bunda dengan penuh kekhawatiran.
"Semoga baik-baik aja ya Bun." ujar Anyelir yang sebenarnya sangat Khawatir.
"Oh iya apa kamu tahu kalo Gibran ada disini dan handle acara Priya dan Zeyden?" tanya Bunda yang masih penasaran dengan kehadiran Gibran tadi.
"Hm.. Sebenarnya Anyelir tahu, Bun. Makanya kemarin Anyelir meminta Zeyden, kalo Anyelir saja yang ngehandle dan berurusan sama Gibran." jelas Anyelir membuat Bunda terkejut.
"Anye, kamu kenapa nggak bilang sama Bunda. Apa Zeyden tahu siapa Gibran itu?" ujar Bunda dengan wajah kecewa.
"Kalo itu Anye kurang tahu Bun." ujarnya dengan wajah menyesal.
Selama perjalanan Bunda dan Anyelir hanya bercerita tentang gimana aku ketemu lagi dengan Gibran. Tak ada yang ditutupi lagi dari Anyelir ke Bunda. Sampai tragedi di acara tadi. Tak terasa mereka sudah sampai di pelataran parkir rumah sakit.
Mereka berdua masuk ke rumah sakit, dan langsung menuju resepsionis menanyakan aku. Setelah tahu lokasi aku berada mereka menuju UGD. Di depan pintu UGD sudah ada Zoan yang mondar mandir. Mereka menghampirinya.
__ADS_1
"Gimana keadaan Priya, Zo?" tanya mereka berdua kompak dan membuat Zoan kaget.
Zoan hanya mengangkat bahu. Karena belum ada yang keluar dari dalam termasuk Zeyden. Mereka bingung karena Zeyden tidak kelihatan batang hidungnya.
"Dimana Zeyden?" tanya Bunda pada Zoan yang dari tadi mencari sosok menantunya itu.
"Mungkin di dalam Bun." ujar Zoan dan membuat Bunda tersadar kalau menantunya itu dokter.
"Zo, mana Kak Bryan?" tanya Anyelir yang membuat Zoan sadar kalau tadi dia meninggalkannya bersama Gibran yang sedang baku hantam.
"Ya Allah, lupa gue. Tadi gue ninggalin dia yang lagi cegah Gibran. Dia lagi baku hantam di jalan mangga." ujarnya sambil menepok jidatnya.
"Gila lo ya, kalo Kak Bryan kenapa-napa gimana? Cepet cari diam." ujar Anyelir sambul mentoyor kepala sahabatnya itu dan mendorongnya untuk pergi.
"Kabarin gue keadaan Priya." teriaknya saat setengah berlari meninggalkan Anyelir dan Bunda.
***
__ADS_1
Tak berapa lama semua orang kumpul di rumah sakit. Aku sudah di pindahkan ke ruangan VVIP. Zeyden duduk disampingku sambil memegang tanganku, karena lelah di terlelap. Zeyden tak tahu saat keluarga kami masuk. Bunda mengelus kepala Zeyden dengan lembut.
"Zey, bangun sayang." ujar Bunda pelan nan lembut, seketika Zeyden membuka mata.
"Kalian.." Zeyden kaget dengan nada setengah meninggi.
"Ganti bajumu sayang, Aryan sudah bawa baju ganti untukmu." pinta Bunda karena baju Zeyden bersimbah darah, dan dia mengangguk.
Saat hendak bangun dia menoleh kearahku. Seakan tidak mau ditinggal oleh Zeyden, genggaman tanganku sangat kuat. Walau masih dalam keadaan tak sadar. Zeyden mengelus kepalaku dan menciumnya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sayang. Aku hanya ganti baju. Setelah itu aku kembali, tapi jika kamu tidak mengijinkanku pergi dari sini. Baik aku tetap disini." bisiknya ditelingaku sambil mengelus pipiku.
"Bun, Zey nggak bisa ninggalin Priya. Karena dia tidak mengijinkan Zey, pergi." ujar Zeyden lembut dan sambil memberi isyarat ke mereka semua.
Bunda hanya tersenyum melihat sikapku yang protek ketika dalam keadaan tidak sadar. Bunda merasa bahagia melihatnya. Kak Bryan menghampiriku dan mencium pipiku. Saat mencium keningku, air matanya menetes membasahi keningku.
"Ada kakak disini sayang, biarkan suamimu pergi dulu, untuk ganti baju. Kakak akan jagain kamu sampai dia kembali." ujarnya dengan lembut dan berusaha melepaskan genggaman kami.
__ADS_1
"Pergi Zey, bersihkan diri lo dulu. Gue yang jagain permaisuri lo." perintah Kak Bryan saat genggaman kami terlepas dan Zeyden menganggukkan kepala tanda setuju.
Zeyden membersihkan diri di kamar mandi dalam ruangan itu. Keluarga dan sahabatku bercerita betapa bahagianya mereka melihat aku yang begitu cantik tadi. Sesekali mereka tertawa karena cerita yang diajukan oleh Zoan yang telah kembali.