
Flash Back On
Beberapa tahun yang lalu, sepasang insan manusia tengah asyik duduk di bangku taman kota Jakarta. Suasana malam begitu indah dengan sinar bulan purnama di tambah pantulan sinar lampu taman. Sesekali terdengar para pengamen yang bernyanyi, ada yang bersuara dan ada pula yang bersuara sangat fals.
Lelaki tampan yang wajahnya mirip Shaheer Sheikh itu bangkit dari duduknya dan menghampiri pedagang dengan memesan beberapa makanan dan minuman. Saat dia kembali wanita cantik dengan kaos berwarna hijau tosca dibalut cardigan putih dioadu dengan celana jeans panjang.
"Permisi Mbak." ujarnya menggoda sang wanitanya dengan beberapa pengamen dibelakangnya.
*Hari demi hari dan juga malam
Dari malam aku bernapas lalu
Mengingat semua tentangmu
Saat berdua hatikupun tergetar
Saat kau senyum hatikupun berdebar
Ternyata bukan milikku
Berulang kali kau titip salam untuknya
Ku tak rela tuk menyampaikannya
Taukah kamu taukah dirimu
Betapa diriku menginginkan dirimu
Pedih hatiku saat kusadari
Mencintamu yang cinta pada dia
Berharap kau segera melupakannya
Berharap kau tak lagi suka padanya
Tuhan tolong ubah hatinya
Berulang kali kau titip salam untuknya
Ku tak rela tuk menyampaikannya
__ADS_1
Taukah kamu taukah dirimu
Betapa diriku menginginkan dirimu
Pedih hatiku saat kusadari
Mencintamu yang cinta pada dia
Salahkah bila kumenunggu
Melihat dia mencintaimu
Taukah kamu taukah dirimu
Betapa diriku menginginkan dirimu
Pedih hatiku saat kusadari
Mencintamu yang cinta pada dia
Ooo.
Pedih hatiku saat kusadari
Mencintamu yang cinta pada dia
Mencintamu yang cinta pada dia*
Suara merdu yang diiringi gitar membuat suasana makin menarik perhatian orang-orang disekitar. Tanpa terasa semua orang sudah berada disekeliling sang pemilik suara merdu itu. Suara tepuk tangan membuat sang lelaki malu. Ini adalah pertama kali dia menyanyi di depan umum.
Sang wanita hanya mampu bertepuk tangan sambil menitikkan air mata bahagia. Pengiring musik pun segera berkeliling meminta uang. Sang lelaki ternyata membawa berkah tersendiri buat pengamen itu.
"Mas, makasih ya. Karena mas, kami hari ini mendapatkan penghasilan luar biasa." ucap salah satu pengamen yang membawa topi penuh uang.
"Sama-sama mas. Saya juga terbantu dengan kalin semua. Ini terima bayaran saya." ujarnya sambil menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah.
"Tidak mas. Tidak usah, ini sudah cukup." ujar sang pengamen sambil menunjukkan topi penuh uang.
"Jangan gitu mas. Ini sudah hak kalian." sahut lelaki itu dengan senyuman manisnya dan akhirnya pengamen itu menerima uangnya lalu segera undur diri setelah mengucap terima kasih.
"Wow, nggak nyangka banget kamu punya suara sebagus itu Yan." ucap wanita didepannya sambil mengelap air matanya.
__ADS_1
"Hm.. Makasih ya, La."ujarnya sambil duduk di samping wanita itu.
"Betewe, kamu mau nggak La, jadi kekasih aku?" ujar sang lelaki sambil menoleh menatap wanita yang bernama Kaila.
"Yan. Aku menyukai kamu, tapi keluarga kamu bagaimana?" tanyanya karena level status sosial mereka berbeda jauh.
"Jangan bicara itu. Ayah dan Bunda tak pernah mempermasalahkannya. Hanya satu yang akan jadi masalah besar, jika kamu tidak bisa menerima adikku." ujar lelaki yang sudah mengubah posisi duduknya menghadap ke depan.
"Kenalkan aku dengan adikmu." pintanya sambil menatap dalam mata sang lelaki.
"Suatu saat. Tapi tidak saat ini." ujarnya sambil menggenggam tangan wanitanya.
Memang sekarang aku tidak sanggup memberikan info tentang keluargaku, terutama adik-adikku. Aku hanya mengenalkannya pada Ayah dan Bunda. Aku masih mau tahu seberapa sayang sama adik-adikku tanpa tahu dariku.
***
Selepas masa kuliah aku meminta Ayah dan Bunda melamar Kaila Amanda, wanita yang selama ini aku dambakan. Saat itu Priya masih duduk di bangku SMA, adikku itu memang sudah mulai tidak tinggal serumah sama kami. Kembaranku masih melanjutkan kuliah di London.
Ya, aku dan Bryan tak pernah satu sekolah sejak kecil. Maka dari itu banyak yang tak tahu kalau aku kembar, bukan hanya itu tak ada yang tahu juga kalau aku memiliki adik perempuan. Hari ini Aku bertiga dengan Ayah dan Bunda datang kerumah Kaila. Ya, aku melamar Kaila, Priya dan Bryan tahu tapi mereka enggan hadir. Kata mereka belum saatnya mereka keluar.
Proses lamaran berjalan lancar. Ya, kami hanya lamaran untuk bertunangan dulu. Karena Kaila masih mau bekerja dulu, dan aku memberikan dia ijin sampai dua tahun.
Flash Back Off
"Begitu ceritanya Aryan. Puas nggak?" tanya Bryan pada adik iparnya yang hanya duduk diam sambil sesekali berdecak kagum.
"Jujur belum puas. Karena ada beberapa pertanyaan nih." sahut Zeyden benar-benar penasaran.
"Hm.. Apa itu?" Tanya Bryan mulai sebal dengan adik iparnya yang super kepo dadakan ini.
"Pertama, apa Kak Aryan masih sama Kaila sampe sekarang? Kedua, kalo udah nggak gimana cerita putusnya mereka?" Tanya Zeyden dengan super kepo tingkat akut.
"Pertama, dia sudah lama nggak sama Kaila, sejak masalah Priya batal nikah. Dan yang kedua nanti Kak Ar aja ya yang jelasin, nggak enak gue jelasinnya." sahut Zeyden bangun dari duduknya dan melangkah menuju pintu.
"Eits, mo kemana lo Kak?" cegah Zeyden sambil menahan tangan Kak Bryan.
"Mau ketemu ponakan guelah. Kenapa nggak boleh?" ujarnya dengan wajah kesal dan menepis tangan Zeyden.
"Dih lupa. Lo baru cerita tentang Kak Ar woi. Cerita lo mana?" ucap Zeyden dengan kesal.
"Hmm.. Jadi gini.." ujarnya terpotong dan segera lari keluar kamar meninggalkan Zeyden yang masih mematung.
__ADS_1