
Hai kesayangan semua.
Gimana kabar kalian semua? semoga sehat² ya.
Btw, siapa yang udah kangen sama keluarga Zeyden? Author juga kangen sama mereka.
Sebelum lanjut Author mau minta maaf nih, karena nggak update² kemarin². Itu disebabkan kondisi Author yang sedang ngedrop bingits.
Dan maaf jika dalam penulisan nanti banyak typonya. Yuk, baca dan jangan lupa siapkan jempolnya di akhir membaca.
***
"Jangan menggoda deh. Emang mau buat ade lagi untuk Amara?" ujar Zeyden membuat aku bergidik ngeri.
"Eits, kamu lupa ya! Kalo kamu yang sudah mensterilkan isterimu ini!" tuturku membuat Zeyden tepuk dahinya.
"Yank, apa kamu mau cari yang lain setelah ini?" tanyaku dengan mata yang nanar.
"Ish, kamu ngomong apa sih! Kamu lupa kita sudah punya lima orang anak. Dan empat orang sudah dewasa bahkan kita sudah jadi kakek nenek. Jadi jangan berpikir yang nggak-nggak bisa?" tuturnya menggenggam tanganku erat dan aku mengangguki setiap perkataannya.
"Maaf, aku janji nggak akan ngomong gitu lagi. Mau maafin aku, sayangku cintaku dan belahan jiwaku." tuturku dengan nada super manja.
"Cukup ya adegan mesra-mesranya. Inget ada kami disini." tutur Gara dengan melirik ke arah kakaknya yang nenganggukinya.
"Ma, Pa. Tetaplah seperti ini, terus ajarin kami artinya cinta yang sesungguhnya. Bisaka, Ma, Pa?" ucap Zayyan dengan nada memelas.
"Semoga kami selalu bisa memberikan itu semua ya, sayang!" ujarku dengan senyuman dan sedikit menoleh ke arah anak-anak.
Perjalanan kami di isi dengan canda gurau antara ayah dan anak. Aku di buat mengeluarkan buliran bening dari kedua mataku dan pipi sangat-sangat kencang. Sesekali Zeyden menoleh ke arahku dan mengusap air mata yang keluar sambil menggelengkan kepala. Hanya senyum yang seakan mengatakan aku baik-baik saja dan itu kebahagiaan ulah kalian semua.
Amara terlelap dalam pelukanku. Setengah jam sudah perjalanan kami semua menuju tempat resepsi pernikahan mantanku itu. Kami semua turun dari mobil dan Zayyan menurunkan kereta bayi untuk Amara. Usai putri kecil di taruh di tempatnya, sulungku langsung mengambil alih mendorongnya menuju pelaminan.
Dekorasi yang sangat-sangat mewah. Bak raja dan ratu ketika aku juga Zeyden memasuki temat resepsi Abian. Aku langsung menggandeng suamiku tersayang, seakan mengulang masa-masa dimana kami yang berada di pelaminan itu. Zeyden menatapku dengan tatapan penuh cinta, aku semakin menaruh kepala ke lengannya dan segera ia merangkul pundakku sedangkan aku memeluk pinggangnya.
Aku bahagia waktu itu, hanya saja rusak akibat kehadiran Gibran yang mengungkap semuanya padaku. Sedih aku ketika harus mengingat hal itu, rasa bersalah membuatku menitikkan air mata. Segera kuseka saat bulir-bulir hangat mengalir tanpa kupinta. Bayang-bayang itu teramat jelas hingga aku kecewa dengan diri sendiri akibat kebodohanku dulu telah membuat suamiku sedih.
"Yank, maaf," lirihku mendongkakkan wajah menatap mata indah suamiku tersayang.
"Buat apa?" tanyanya dengan alis yang mengerut dan tetap tersenyum kepadaku.
"Maaf di malam resepsi kita semuanya berantakan karena aku. Kebodohan waktu itu merusak segalanya. Dulu mungkin aku masih plin plan dengan sikap buruk melakukan hal itu ke Gibran, kemarin aku masih kanak-kanakkan membuat kamu marah dengan pura-pura balikan sama Abian. Maafin aku ya, sayang!" tuturku makin mengeratkan pelukan.
"Hei, aku sudah maafin semuanya. Jangan di bahas lagi okey. Kita buka lembaran baru terus ya. Seperti sebuah buku, kemarin sudah tamat. Kini tinggal lembaran-lembaran indah yang akan kita tulis dalam buku kehidupan kita sekarang, bersama anak-anak sampai maut memanggil kita." Zeyden berusaha menenangkan diriku dan aku menganggukinya.
Kami duduk di bangku yang tersedia di sana seluruh keluarga Pradipta sudah datang. Sampai tiba untuk bersalaman kami melangkah bersama. Hanya doa yang mampu kuberikan untuk kehidupan Abian dan isterinya. Zayyan memilih untuk menggendong adik kecilnya menuju pelaminan. Saat bersalaman dengan pengantin, Abian tanpa sungkan memperkenalkan aku sebagai mantan terindahnya dan kini dia menganggapku sebagai adiknya. Tak lupa dia mengenalkan seluruh keluargaku.
Usai berfoto, aku meminta ada kedua mempelai bergabung untuk menjelaskan apa yang dikatakan oleh Abian tadi. Beruntungnya sang mempelai wanita menyanggupi permintaanku. Sebelum turun dan tanganku di tarik oleh isteri Abian.
"Boleh menyanyikan satu lagu untuk kami?" bisiknya dan aku angguki.
Keluargaku yang melihatnya sedikit curiga. Mereka takut sesuatu hal buruk terjadi padaku. Aku memilih memisahkan diri usai turun dari pelaminan, dan langsung menuju panggung hiburan. Awalnya bingung mau menyanyikan lagu apa, karena lama tak bernyanyi untuk orang lain.
"Lagu yang saya bawakan spesial buat kita semua, teruntuk suamiku tersayang juga pasangan pengantin di pelaminan sana. Semoga menyukai lagu yang saya bawakan, selamat menikmati!" tuturku dengan senyuman dan membuat Zeyden berlari mendengar ucapanku.
'Manakala hati menggeliat
Mengusik renungan
Mengulang kenangan
Saat cinta menemui cinta
Suara sang malam
Dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar
Rindumu memanggil namaku
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi,
Selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh,
Selalu ada di dalam hatiku
Sukmaku berteriak
Menegaskan kucinta padamu
Terima kasih pada Mahacinta menyatukan kita
__ADS_1
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh sukacita
Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu
Cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu
Kutunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh…'
Zeyden langsung naik ke panggung dan memelukku dengan penuh cinta. Semua tamu undangan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah dan salah seorang ibu meminta aku juga suamiku bernyanyi satu lagu lagi. Orang di sebelahku malah menganggukinya. Dia tidak tahu bahwa aku haus, karena sudah bernyanyi pakai perasaan membuat tamu undangan menangis.
'Tak mengerti
Apa yang telah terjadi
Kau tak lagi sama
Engkau bukan engkau
Yang selalu
Mencari dan meneleponku
Dering darimu
Tak ada lagi
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri
Walau kau berubah
Aku 'kan bertahan
Biarkan aku mencintaimu
Dengan caraku
Tak mengerti
Mengapa engkau membisu
Kau tak lagi sama
Engkau bukan engkau
Sampai aku
Ragu untuk meneleponmu
Mengertikah kamu
Aku rindu kamu
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri
Walau kau berubah
__ADS_1
Aku 'kan bertahan
Biarkan aku mencintaimu
Dengan caraku
Aku tak suka bila oh
Kau selalu dekat dengannya oh-hoo
Jangan engkau cemburu
Dia hanya sahabat di kelasku
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku
(Mengganti cintaku)
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri (Semua cinta yang kau beri)
Walau kau berubah
Aku 'kan bertahan
Biarkan aku mencintaimu
Dengan caraku
Walau kau menghapus
Menghempas diriku
Mengganti cintaku (karena kamu)
Semua tak mampu
Hilangkan cinta
Yang telah kau beri (ku kan tak pernah berubah)
Walau kau berubah
Aku 'kan bertahan
Biarkan aku mencintaimu
Dengan caraku
Tak usah cemburu
Aku tak ingin kita berpisah karena ini
Biarkan aku selalu mencinta untuk selamanya'
Riuh suara membuatku bahagia. Sorak sorai memberi kebahagiaan pada kami berdua. Zeyden mengecup keningku lama saat usai bernyanyi. Lalu kami turun untuk menikmati makanan yang sudah diambilkan oleh anak-anak. Tak lama kedua pengantin menghampiriku, Abian langsung menjelaskan semua yang ia katakan tadi diatas panggung pelaminan.
Tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun, aku sungguh tak menyangka ketika sebuah tamparan melesat di pipi mantanku itu. Hal itu dia dapatkan dari isterinya yang tak terima suaminya menyakiti wanita. Walau sang mempelai wanita menjelaskan bahwa ia hanya terbawa emosi membayangkan dirinya di posisiku. Dia pun langsung meminta maaf padaku juga Abian.
"Maaf ya, Priyanka. Atas perilaku Abian dulu. Dan kamu Yank, awas kalo kamu ngelakuin hal itu lagi sama aku." ucapan lembut kepadaku serta langsung mengancam suaminya.
Kami semua hanya tersenyum mendengar ucapan wanita di depanku. Hingga membuat semua orang di sekitarku malah tertawa melihat ekspresi wajah Abian yang diancam istrinya.
"Ian, hati-hati dengan ancaman seorang istri bisa jadi nyata." ucap Zeyden sambil melirik ke arahku dan seketika aku pukul lengannya.
"Ma, ja at angan ukul apa." celetuk Amara yang dipangku Zeyden setelah ia bangun dari tidurnya tadi.
"Nah, sekarang ada yang bela aku, Yank." ledek Zeyden dengan memainkan alisnya.
"Sayang, mama nggak jahat sama papa. Tadi ada nyamuk mau gigit papa." ujarku dengan berbohong dan si kecil mengangguk.
"Amuk ya ma? Ala ukul enti," membuat kami semua tertawa mendengar perkataan si kecil.
Waktu yang sudah semakin larut membuat kami harus pamit. Istri Abian tak lepas menciumi Amara yang menggemaskan juga Rangga. Ia seakan sudah tak sabar ingin segera memiliki anak.
***
Hai kesayanganku, cukup nggak sama ceritaku..
Jangan lupa jempol, share, komen dan vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Aish, jejak kesayangan aku pada kemana ya? Aku rindu jejak kalian. Sebuah penghormatan jika kalian meninggalkan jejak kunjungan kalian ke hatiku. Eits, boleh dong author gombal dikit.