Relung Langit

Relung Langit
Part 9


__ADS_3

"Lepasin tangannya. Anda siapa dia sampai bersikap seperti ini." tegas Zeyden sambil melepaskan cengkeraman Abian kepadaku.


"Gue mantan pacar Priyanka." jelasnya.


"Ingat anda hanya mantan, sedangkan saya calon suaminya." tegas Zeyden sedikit membuat keributan di kantin.


Zoan yang dari tadi diam, mulai menelpon seseorang untuk mencegah pertumpahan darah. Tak berapa lama telpon di tutup, suara langkah kaki setengah berlari menghampiri.


Buk..


Suara hantaman keras ke arah pipi Abian. Abian merintih kesakitan, dan bibir bawahnya berdarah. Aku, Anyelir dan Siska berteriak karena takut. Aku kembali memeluk Zeyden, aku tidak pernah melihat Kak Bryan semarah itu. Aku takut melihat kemarahan kakak keduaku.


"Siapa lo berani-beraninya mukul gue!" teriak Abian sambil mengelap darah di bibirnya dan mendongakkan kepala.


"Pak Bryan!" serunya dengan wajah kaget dan ketakutan melihat kemarahan di wajah dosennya.


"Kenapa Bapak mukul saya?" tanyanya heran, namun sebuah pukulan melayang lagi di wajahnya.


"Pak, ada apa ini?" teriaknya sambil menahan sakit.


"Cukup Pak. Saya nggak tahu salah saya apa?" teriaknya.


"Kamu nggak tahu salah kamu apa? Udah buat Priyanka menangis." ujarnya sambil mengarahkan bogeman kembali.

__ADS_1


Abian yang masih bingung dengan sikap dosennya, hanya mampu nenerka-nerka. Tapi dia juga tidak terima dipukuli tanpa alasan yang jelas. Abian pun membalas pukulan kakakku. Aku yang hanya mendengarnya, makin menangis menjadi-jadi dan memeluk Zeyden semakin erat.


"Stop.." teriak seseorang yang melangkahkan kakinya ke arah kami.


"Apa kalian buta, tindakan kalian bikin malu." ujar orang itu dan terdengar tamparan dua kali.


"Kalian ributin Priyanka, tapi dia menangis menjadi-jadi dengan sikap kalian. Tidakkah kalian menyayangi dia? Tidakkah mengerti perasaannya?" Suara Kak Aryan membuatku melepas pelukan dan menatapbke arahnya.


"Kita pulang!" ujarku sambil melihat ke arah kakak kembarku dan Zeyden.


"Iya kita pulang, sayang." Sahut Kak Aryan sambil merangkulku meninggalkan kafe.


Seisi kafe terkejut melihat insiden tadi. Dan mereka menemukan sebuah fakta bahwa dosen idolanya kembar. Siska yang hanya diam memperhatikan baku hantam itu, segera menghampiri Abian. Dan merawatnya segera.


"Aku tidak tahu. Karena setahu aku Priyanka tidak banyak teman. Dia juga tinggal sendirian di rumahnya dekat perkampungan. Keluarganya tinggal di luar negeri." Ujar Siska jujur pada Abian.


Hanya Zoan dan Anyelir yang tahu kehidupanku. Mereka berdualah yang tahu siapa mereka, apa artinya aku buat mereka. Mungkin jika Siska tahu dia tidak akan berani menyakiti hatiku. Karena Ayah Siska adalah karyawan kakakku.



"Jangan main kekerasan lagi, Kak!" pintaku dengan nada suara parau.


Kak Bryan hanya memberikan anggukan. Aku takut dengan kekerasan. Selama ini tak pernah aku melihat anggota keluargaku kasar. Hanya cinta dan kasih sayang yang selalu mereka lontarkan.

__ADS_1


"Bray, jangan jadi bodoh kayak tadi ya." nasihat kakak sulung kami.


"Maafin gue ya Kak, De dan lo Zey. Maaf bikin kalian malu. Gue kesel, udah lama gue nahan emosi sama laki-laki itu." ujarnya dengan nada kembali meninggi.


"Semarah-marahnya lo, nggak harus bikin dia babak belur. Lihat diri lo sekarang, sama kayak dia. Bagaimana Bunda dan Ayah jika lihat ini?" Kak Aryan sambil menunjuk muka adik kembarnya yang babak belur.


"Kak Bray, pulang kerumahku aja. Jangan kerumah, sampe sembuh total." pintaku sambil menggandeng tangannya, dan anggukan yang kudapat sebagai jawabannya.



Kami berpisah. Kak Aryan akan menemani kembarannya di rumahku dan aku pulang di antar Zeyden. Zeyden hanya sesekali melirik ke arahku sedangkan aku hanya menatap jalanan di kaca samping.


"Ka, jangan sedih lagi ya!" ujarnya sambil mengecup punggung tanganku.


"Lapar?" tanyanya dan memandang ke arahku sesaat.


"Hmm.." Ujarku datar tanpa balasan yang jelas.


Mobil melaju memecah kemacetan ibukota. Tanpa sadar aku terlelap. Zeyden masih mengemudikan mobilnya dan segera memasuki mal terbesar. Dengan lembut dia membangunkanku.


"Ka, sudah sampai." bisiknya sambil mengelus kepalaku.


Duk..

__ADS_1


"Auww.." jeritnya kesakitan.


__ADS_2