Relung Langit

Relung Langit
Part 86


__ADS_3

"Kalo pangeranku dikeluarin kayak gini, aku meluluh deh. Baiklah aku tetap disini. Dan tak akan pernah meninggalkan kalian semua." ujar Kak Aryan mengambil Zayyan dan menatap ke arah kami semua secara bergantian.


"Janji!" ucapku dan Kak Bryan bersamaan.


"I'm promise." ucap Kak Aryan penuh keyakinan.


"Jangan bikin kami sedih lagi ya Kak! Apapun yang buat kakak bahagia, akan kami lakukan. Termasuk jika harus melepaskan orang yang aku cintai." ujar Kak Bryan sambil menatap ke arah Anyelir.


"Gila apa gue mau ngambil orang yang dicintai ade gue. Gue udah ikhlas kalo lo yang di pilih sama Anyelir. Gue yakin bakal dapet yang lebih baik lagi nanti." ujar Kak Aryan dengan senyuman dan menepuk pundak Kak Bryan.


Anyelir hanya tersenyum melihat tingkah kami semua. Bahagianya aku memiliki kakak yang luar biasa. Kak Ryan bermain dengan Zayyan juga Zeyden, mereka mengoper putraku seperti bola yang lempar-lempar. Bukannya pusing atau gimana-gimana, putraku malah tertawa kegirangan. Aku dan Anyelir hanya tersenyum serta ikut tertawa melihatnya.


***


Hari ini kedua kakakku menginap dirumah dan Zayyan tidur bersama dengan mereka. Zeyden sangat bahagia karena sesaat dia bisa bermanja-manjaan denganku. Tugasku sesaat lebih ringan karena bantuan kakakku. Zayyan sudah tidak asi lagi jadi lebih mudah buat mereka. Zeyden sangat manja padaku, dia tidak pernah melepas pelukannya dariku.


"Aku senang Kak Ryan menginap disini." ujarnya sambil menaruh kepalanya di pundakku.


"Senang karena Zayyan diasuh mereka jadi kamu bisa berduaan sama aku kan!" seruku sambil mengusap pipinya.


"Hm.. Tahu aja kamu sayang. Aku kangen bisa berduaan sama kamu." ujarnya sangat manja dan aku hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Sayang, apa tadi kamu sedih banget waktu Kak Ar bilang mau pergi?" tanya Zeyden sambil membalikkan tubuhku.


"Aku tak pernah jauh dari Kak Ar. Dia selalu melindungi dan menghiburku kapanpun aku butuhkan. Dia hidupku sayang!" jelasku dengan mata berkaca-kaca.


"Aku nggak bisa hidup tanpa kedua kakakku. Sama seperti aku nggak bisa hidup tanpamu dan Zayyan." ucapku sambil memeluk Zeyden.


"Sudah jangan nangis lagi ya sayang. Aku juga sangat sedih, sahabat sharingku masalah pekerjaan akan pergi. Dia juga selalu kasih masukan yang positif buatku. Untungnya putra kita bisa meluluhkan hatinya." ucap Zeyden sambil membelai rambutku.


Aku tersenyum mengingat kejadian tadi sore. Zayyan mampu meluluhkan kakakku yang sudah bulat untuk pergi. Zeyden mengajakku kencan, dia memintaku bersiap-siap sedangkan ia menemui kakakku untuk menitipkan Zayyan.


Zeyden melangkahkan kakinya menghampiri kamar tamu. Saat pintu diketuk terdengar suara tawa dari ketiga orang didalam kamar. Zeyden tersenyum di depan pintu sampai ketika pintu dibuka.


"Lo nangis Kak Ar?" tanya Zeyden dengan wajah khawatir.


"Nggak ini akibat anak lo, yang bikin kita ketawa nggak berhenti." sahutnya dengan sambil menengok kebelakang.


"Jadi ada apa lo kesini?" tanya Kak Aryan kembali.


"Gue sama my princess mau ngedate dulu. Nitip Zayyan boleh Kak?" ucap Zeyden sedikit ragu.


"Lo boleh pergi sama ade gue sepuas lo, mau buat Ade buat Zayyan juga boleh. Yang penting Zayyan milik gue hari ini." ujarnya sambil mendorong badan Zeyden untuk segera menjauh dari kamar mereka.

__ADS_1


"Tunggu Kak. Gue mau cium Zayyan dulu dong." ucap Zeyden berbalik dan langsung masuk ke dalam kamar.


Zeyden mengambil Zayyan, menggendong sebentar lalu menciumi wajahnya tanpa henti membuat dia kegelian. Zayyan memang pelipur lara setiap orang, dia sangat lucu.


"Papah dan mamah tinggal dulu ya sayang. Jangan nakal dan buat susah daddy ya sayang! I love you." ujarnya sambil mengecup pipi Zayyan lalu meletakkannya kembali di kasur.


"Hati-hati dijalan Zey. Jaga princess baik-baik, jangan lecet sedikit pun." ucap Kak Ryan kompak dan Zeyden berlalu meninggalkan kamar itu.


Aku sudah menunggu Zeyden di depan ruang tamu. Zeyden terpesona melihat penampilanku, padahal aku hanya menggunakan t-shirt merah muda dengan outfit hitam dipadukan oleh celana jeans dan flat shoes. Rambutku di kuncir kuda dengan make up tipis. Sedangkan Zeyden kaos polos hitam dengan kerah dipadukan dengan celana berwarna coklat selutut. Dia juga hanya menggunakan sandal kulit berwarna hitam ditambah topi dikepalanya.


Hanya setengah jam kami sampai di mall. Kami langsung menuju bioskop. Sepanjang jalan menuju bioskop, mata orang-orang mengarah ke kami berdua. Aku menatap Zeyden yang setia menggandeng tanganku.


"Kak, kenapa orang-orang menatap ke arah kita ya! Apa pakaian atau dandananku ada yang salah?" ucapku sambil menaruh kepalaku di pundak suami tercinta.


"Iya ada yang salah sama kamu." ujarnya sambil memasang muka bete.


"Serius kamu sayang?" ujarku sambil menegakkan kepala dan berusaha merapikan pakaian serta mengambil ponsel lalu berkaca.


"Nggak ada yang salah ah!" seruku masih menatap kamera ponsel dan Zeyden hanya tertawa.


"Siapa yang bilang kalo dandanan atau pakaian kamu salah. Salah kamu itu udah fatal banget sayang. Itu adalah kamu terlalu cantik, jadi mereka menatap kamu." jelas Zeyden sambil mengecup keningku sedangkan wajahku sudah merah menahan malu.

__ADS_1


__ADS_2