
"Hm.. Gue nggak tahu Ka. Karena gue kan nggak dekat sama mereka berdua." ujar Anyelir jujur.
"Kita kan sering jalan bareng tuh kadang sma Kak Bi atau Kak Ar. Ya walau seringnya nongkrong bareng sama Kak Bi." Priyanka berusaha mengingatkan.
"Kasih gue waktu buat tahu siapa yang bener-bener gue sukain." ucap Anyelir pada Priyanka dengan wajah manisnya dan aku menganggukkan kepala.
Aku tahu karena begitu identiknya kedua kakakku, membuat Anyelir sulit mengetahui siapa yang paling dia sukai. Aku mempunyai sedikit ide untuk membuat mereka bertiga makin dekat terlebih untuk Anyelir agar mudah ia memilih. Aku punya ide untung membuat perjalanan buat kami tapi kali ini tanpa Kak Bryan. Aku mau mengetahui perasaan kakak sulungku juga sahabatku.
"Ayah, Princess butuh bantuan. Bisakah Ayah menyuruh Kak Bi menyusul Ayah? Princess mau mengajak liburan Kak Aryan. Ayah tahu sendiri, Kak Bi kalo nggak diajak akan ngamuk." ujarku memohon pada raja yang titahnya nggak boleh di bantah.
"Tapi sayang, Bi kan nggak ada urusan disini. Aryan yang justru dibutuhkan disini." Ayah menjawab disebrang telepon.
"Ayah, Kak Bi juga kan sama kayak Kak Aryan. Posisi mereka sama di perusahaan. Tolong Princess lah ya. Aku mau deketin Kak Aryan sama Anyelir Yah." Aku mulai jujur.
"Baiklah Ayah usahakan ya sayang." ujar Ayah dengan nada lesu.
"Thank's my king. Aku bakal marah dan ngambek kalo Ayah nggak berhasil bawa Kak Bi ke sana selama seminggu." ujarku dan menutup telepon sepihak.
Bukan tidak sopan kalau aku lanjutkan Ayah akan berubah pikiran. Kini giliran aku memesan penginapan dan tiket kereta untuk liburan kami. Kenapa kereta, aku mau memaksimalkan waktu berdua mereka semakin intens.
__ADS_1
***
Pagi-pagi buta Kak Bi, mengetok kamarku. Ya aku memang menginap dirumah Ayah untuk beberapa hari kedepan.
"De, nitip rumah ya. Kakak harus nyusul Ayah, biasa titahnya kan nggak bisa dibantah!" seru Kak Bi dengan wajah kesal.
"Oke. Berapa lama kakak disana?" tanyaku dengan santainya.
"Seminggu atau lebih lah." ujarnya dengan nada datar.
"Oleh-oleh buatku dan keponakanmu jangan lupa ya kak." ujarku dan kakakku mengangguk sambil mengacak-ngacak rambutku.
"Ya udah kakak jalan sekarang. Take off jam 6 soalnya." ucapnya sambil mengecup kedua pipiku dan aku mengangguk.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7. Kak Aryan sudah bersiap hendak ke kantor. Namun seperti biasa dia selalu sarapan dirumah.
"Hari ini kita pergi kak. Jadi nggak usah ke kantor. Siapkan baju-baju kakak. Jam 8 kita jalan." seruku sambil menaruh susu coklat kesukaan kakakku itu.
"Mau kemana kita De?" tanyanya dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Yogyakarta." aku menjawab dengan singkat.
"Tapi aku ada meeting hari ini, De." sahutnya dengan wajah bingung.
"Aku udah minta ijin ke sekretaris kakak. Kalo kita hari ini dan seminggu ke depan nggak di Jakarta. Semua sudah beres." ujarku dn membuat kakakku membulatkan matanya.
Aku berlalu meninggalkan meja makan dn menuju ke kamarku. Disaat yang sama Zeyden bersama Zayyan turun dan duduk disabelah Kak Aryan. Kak Aryan dengan wajah ditekuk memakan makanan yang aku sediakan tadi.
"Pagi-pagi udah ditekuk aja tuh muka bro." ledek Zeyden yang belum tahu apa-apa.
"Kesel gue sama bini lo tuh." sahutnya dengan nada kesal.
"Kenapa lagi dia?" tanya Zeyden bingung.
"Ngajak ke Jogja dadakan. Sampe udah mintain gue cuti selama seminggu." ujarnya dengan kesal.
"What? Jogja? Kapan?" cerocos Zeyden dengan wajah tak percaya.
"Iya Jogja. Hari ini jam 8. Puas lo." sahut Kk Aryan benar-benar bete.
__ADS_1
"Sumpah ya bro. Gue nggak tahu sama sekali hal ini. Terus siapa aja yang pergi?" Zeyden penasaran sambil meminum teh hangatnya.
"Kita berempat. Kamu, aku, Kak Ar dan Anyelir serta Zayyan." ujarku sambil mengambil Zayyan dan pangkuan suamiku.