Relung Langit

Relung Langit
Part 115


__ADS_3

Malam ini semua penuh haru. Zayyan malah menjadi manja sejak tahu dia akan meninggal aku dan Zeyden. Tak sedetik dia mau jauh dariku juga Zeyden. Ketiga anakku yang lain malah aneh melihat perubahan kakaknya itu. Sampai mereka jadi iri dibuatnya.


"Kakak, kenapa jadi aneh gini sih sejak tahu mau ke tempat Daddy Ar?" celetuk Gia dengan kesalnya.


"Iri aja kamu De. Kakak kan mau deket sama mama dan papa sebelum kakak jauh dari mereka. Terlebih mama, Kakak nggak mau jauh dari mama, pasti akan sangat merindukannya." sahut Zayyan masih bergelayutan di lenganku.


"Pa, malam ini gimana kalo papa tidur sama kakak, Gara dan Rakha?" pinta Zayyan pada Zeyden dan langsung dianggukinya.


"Jadi malam ini lelaki kumpul dengan lelaki. Gia tidur sama mama ya!" seru Rakha dengan bahagianya.


"Iyalah. Puasin sana kumpul berempat." gerutu Gia sambil duduk disampingku dengan memelukku.


Aku hanya mampu menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah anakku yang semakin tumbuh dewasa malah semakin kekanakkan. Zayyan memiliki waktu seminggu disini, untuk mengurus persiapannya.


***


Malam hari ini membuat aku semakin merasa sendiri, karena Zeyden berada di kamar para bujangku. Tiba-tiba putriku meminta tidur bersama, tak tega melihat aku tidur sendiri katanya.

__ADS_1


"Ma, apa mama bahagia?" tanyanya yang masih dalam pelukanku.


"Kenapa kamu nanya gitu sayang?" balik aku bertanya sambil mengelus kepalanya.


"Apa mama tidak sedih akan ditinggal Kak Zayyan?" pertanyaan yang membuat aku menghentikan kegiatanku dan putriku langsung menatapku.


"Orang tua mana yang tak sedih ditinggal anaknya pergi, sayang. Mama bisa buat apa selain merelakannya, karena itu kebahagiaan anak mama. Walau sedih mama akan lakuin apapun untuk kebahagiaan kalian." jelasku dengan senyuman di wajahku.


"Ade nggak akan tinggalin mama. Walau Kakak, Abang dan Dede tinggalin mama tapi Ade nggak." serunya memelukku erat dengan wajah yang sendu.


"Suatu saat kamu akan meninggalkan mama dan papa sayang." lirihku sambil mengecup puncak kepalanya.


"Mama akan bahagia jika kalian bahagia. Mama akan sedih jika kalian tidak bahagia." ucapku dengan senyuman hangat.


"Sekarang Ade Gia bobo, karena sudah malam." ucapku sambil memeluk putriku untuk tidur.


Waktu terus berjalan, malam pun semakin larut. Putriku sudah terlelap, aku memperbaiki selimutnya dan beranjak keluar kamar. Malam ini aku tak bisa tidur. Aku berjalan keruang kerja Zeyden dan duduk dibangku kebesarannya sambil membaca salah satu buku. Ruang kerja Zeyden juga dijadikan perpustakaan kecil terdapat beberapa buku disana.

__ADS_1


Aku tak percaya jika matahari telah datang menggantikan sebuah senyuman manis di wajah setiap manusia. Aku tak mendengar putriku berteriak memanggil namaku, karena aku terlalu fokus membaca buku yang sejak semalam aku baca tanpa istirahat. Semua orang sedang mencariku ke sekeliling rumah. Sampai akhirnya Rakha menemukanku diruangan Zeyden sedang asyik membaca buku. Dia langsung memelukku dan membuat aku terkejut.


"Dede kenapa?" tanyaku yang bingung karena mendapati putra bungsuku memeluk sambil menangis sesegukan.


"Jangan tinggalin Dede ya Ma!" lirihnya membuat aku makin bingung dan langsung menutup buku yang kubaca.


"Maksud Dede apa sih?" tanyaku tak mengerti dan langsung menangkup wajahnya saat berbalik badan.


"Dede kira mama pergi ninggalin Dede. Dede nggak mau mama pergi. Cukup Kakak saja yang pergi ninggalin Dede." ucapnya sambil menangis.


Tanpa banyak bicara lagi aku memeluk dan mengecup wajahnya. Lelakiku yang satu ini sangat manja padaku namun tidak pernah ia tunjukkan di depan papa juga kakaknya. Sakit rasanya melihat putraku menangis seperti itu, apa yang telah aku lakukan sampai dia menangis sehebat ini. Tak berapa lama semua anak-anak datang menghampiriku dengan wajah sembab dan kembali menangis. Aku rentangkan kedua tanganku dan mereka berhamburan memelukku.


"Jangan diulangi lagi ya sayang!" bisik Zeyden tepat ditelingaku karena dia memeluk kami semua dari belakangku dan aku yang tak mengerti hanya menganggukkan kepala.


***


Kini kami semua sudah selesai dengan aktifitas pagi. Mendadak semua anakku menjadi manja, semua minta diantar ke sekolah olehku. Zeyden pun tak kalah manjanya minta aku menemaninya ke rumah sakit. Mau tidak mau aku turuti keinginan mereka semua. Berawal mengantar si bungsu, lalu Zayyan dan si kembar satu sekolah sehingga lebih mudah mengantarnya.

__ADS_1


"Ma, jangan lupa jemput kami nanti jam 3 ya!" seru ketiga anakku dan aku mengangguk.


__ADS_2