
Zeyden tak melepaskan tangannya yang masih menggenggamku. Ya ini pertama kalinya kami kencan. Aku sangat bahagia bisa berkencan dengan suamiku tercinta. Walau kegiatan kami hanya nonton, dinner dan shopping. Tapi itu semua cukup membuat kami berdua bahagia.
"Kita belum pernah honeymoon loh sayang! Apa kamu keberatan kalau kita melakukannya?" tanya Zeyden sambil menggenggam tanganku erat.
"Zayyan bagaimana Kak?" tanyaku memikirkan putraku.
"Kita titip Ayah, Bunda atau Kak Ryan. Bagaimana menurutmu?" sahutnya dengan senyuman manis di bibirnya.
"Hm.. Baiklah, aku tidak mau membuatmu kecewa Kak." sahutku sambil mengelus pipi suamiku yang sangat lembut.
"So sweet!" teriak seorang remaja kepada kami.
Aku dan Zeyden menoleh ke sumber suara. Dan disana segerombol anak-anak berbaju putih abu-abu menggoda kami.
"Kak, kalian serasi banget! Aku mau dong punya pacar kayak kakak ini!" cerocos salah satu anak SMA yang menggunakan rok selutut dengan wajah cantik sambil memegang tangan Zeyden.
__ADS_1
Aku kesal tangan suamiku dipegang oleh cewek lain. Aku menatap cewek itu dengan tatapan dingin, namun cewek itu tidak peka. Zeyden sudah berusaha melepaskan tangan anak SMA itu sayangnya sia-sia.
"Maaf ya, tangannya boleh dilepasin ya dari tangan saya. Kebetulan saya hanya suka tubuh saya di pegang oleh isteri saya." ujar Zeydem membuat anak SMA itu melepaskan tangannya namun malah memeluk Zeyden dan membuatku geram.
"Aku pulang!!" seruku sambil melepas tangan suamiku dan berjalan setengah berlari.
"Sayang!!" teriak Zeyden memanggilku namun tak kugubris.
"Kalian itu masih sekolah, pikirkan sekolah yang benar jadi kebanggaan orang tua jangan malah bikin malu." ucap Zeyden melepaskan paksa pelukan gadis itu dan berlari mengejarku.
"Naik sayang!" perintahnya sambil membuka pintu mobil dengan terpaksa aku masuk mobil.
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam. Mataku hanya memandng ke jendela, tak sedikitpun aku melirik ke arah Zeyden. Aku tersadar bahwa mobil ini tidak menuju rumahku.
"Aku mau pulang." ucapku melirik kearahnya namun dia tetap diam.
__ADS_1
"Kak Zeyden aku mau pu..." ujarku terhenti berbarengan dengan berhentinya laju mobil yang kunaiki.
"Turun!" titahnya dengan nada dingin.
Aku mengikuti langkahnya memasuki salah satu hotel bintang lima. Dia menghampiri resepsionis dengan membawa kunci kamar. Dia menggandengku menuju lift masih dengan wajah datar dan dinginnya. Aku hanya diam, ya aku tak berani jika suamiku sudah bersikap dingin.
Kami memasuki lift dan dia menekan tombol lantai yang akan kami datangi. Hanya hitungan detik kami tiba di lantai tersebut. Fia masih menggandengku dan membuka pintu kamar yang kini sudah ada di depan kami.
"Masuk, bersihkan dirimu lalu istirahat." titahnya sangat dingin dan aku hanya mengangguk.
"Maaf!" ucapku sebelum meninggalkannya disofa.
Aku melakukan ritualku sekitar tiga puluh menitan. Saat aku keluar kamar mandi Zeyden sudah terlelap di atas kasur. Aku menghampirinya dan duduk disampingnya sambil mengelus wajahnya.
"Maafkan aku Kak. Aku terlalu cemburu, seperti inikah perasaanmu setiap kali aku dekat dengan lelaki lain." gumamku yang sangat pelan namun bisa didengar dengan baik oleh Zeyden.
__ADS_1
"Aku sudah memafkanmu, jangan tinggalkan aku lagi seperti tadi ya, aku mau mati rasanya saat kamu pergi kayak tadi." ujarnya sambil menarik tubuhku dalam pelukannya dan aku mengangguk.