Relung Langit

Relung Langit
Part 49


__ADS_3

Aku masih menikmati tumbuh kembang Zayan. Zeyden yang kalem mendadak over protektif sama Zayan. Makanan Zayan pun dia yang ukur tentang gizinya. Maklum pak dokter itu mau yang terbaik untuk putranya. Aku saja dia abaikan kadang, itu yang terkadang bikin aku cemburu.


Aku selalu memaklumi semua tindakan Zeyden. Kemarin ada kejadian yang menurutku lucu. Ketika pertama kalinya seorang Zeyden memarahi kakak iparnya hanya karena putranya.


Flash Back On


"Zayan sayangnya Daddy Bi.." teriak Kak Bryan saat kami bertiga duduk di ruang keluarga.


"Zayan aja nih yang disapa?" celetuk Zeyden dengan wajah ditekuk. Aku yang melihat tingkah Zeyden tersenyum.


Oh iya kedua kakakku tidak mau dipanggil uwa atau om terlalu tua katanya. Lebih baik Daddy katanya mereka. Adik-adik Zeyden juga tidak mau dipanggil om dan tante dengan alasan yang sama.


"Apa sih lo Zey, makin jijik gue lihat sikap lo. Udah punya anak juga kayak balita gitu, Ih." ucap Kak Bryan sambil bergidik jijik.


"Lo sampe segitunya Kak Bi, sama ade ipar lo yang kece ini." ujarnya sambil jari telunjuk dan jempol membuat huruf v dan di taruh didagunya.

__ADS_1


"Princess, sini my Prince Zayan kakak gendong." ujar Kak Bryan tidak menghiraukan Zeyden dan berusaha mengambil Zayan dari tanganku.


"Stop.." teriak Zeyden membuat kami kaget sampai Zayan menangis.


"Kak Zey, apa-apaan sih teriak gitu. Lihat nih, anaknya nangis." ucapku kesal karena harus menenangkan Zayan yang nangis kejer.


"Tau lo, ponakan gue sawan tuh denger teriakan lo." ujar Kak Bryan sambil memukul lengan Zeyden pelan.


"Lo nggak boleh gendong anak gue." titahnya mulai over.


"Lo banyak kuman dn virusnya." ujar Zeyden mendorong badan Kak Bryan dari Zayan, untuk berusaha menjauhkannya.


"Zey, cukup ya! Gue nggak suka sikap lo kayak gini." ujarnya sambil menepis tangan Zeyden.


"Kak Bi, lo dari luar. Debu, kuman dan lain-lain pasti nempel dibadan lo. Kalo lo mau gendong ponakan lo yang ganteng itu, mending lo mandi pake sabun antiseptik, terus kalo udah mandi tangannya pake hand sanitizer dulu. Baru lo boleh gendong ponakan lo." Jelas Zeyden pada kakak iparnya yang geleng-geleng nggak percaya sama sikap Zeyden sekarang.

__ADS_1


"Lebay lo Zey." bantah Kak Bryan kembali berusaha mendekati ponakannya.


"Kak Bi, gue bilang mandi dulu. Ada baju di kamar tamu yang masih terbungkus plastik. Jadi masih steril, buruan mandi. Atau lo nggak bisa gendong ponakan lo." ucap Zeyden sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Kak Zey, jangan keterlaluan gitu ah. Zayan baik-baik aja kok." Aku berusaha membela kakakku.


"Kamu nggak tau kuman dan virus apa yang orang ini bawa buat anak kita. Nanti kalo anak kita sakit gimana?" ujarnya membuat aku gemas-gemas kesal.


"Ya kalo anak lo sakit tinggal lo obatin. Kan lo dokter." sahut kakakku sekenanya.


"Hello.. Lo ngomong enak banget ya. Kalo virus yang lo bawa dari luar itu bahaya gimana? Anak gue gitu yang jadi korbannya. Oh no, Kak Bi. Gue nggak bisa nanggung resiko itu." jelas Zeyden dengan berapi-api.


"Okey, gue mandi sesuai perintah yang mulia. Gue ngalah sama orang gelo kayak lo." ujar Kak Bryan dengan nada kesal sambil berlalu meninggalkan kami dan menuju kamar tamu.


"Lo ngomong apa barusan Kak? Gue denger loh." ujarnya setengah berteriak dan aku menarik Zeyden untuk duduk kembali.

__ADS_1


Flash Back Off


__ADS_2