Relung Langit

Relung Langit
S2 Part 06


__ADS_3

    “Mama?!” teriak Rakha dan Gara bersamaan saat baru membuka pintu, sedangkan ketiga orang di dalam ruangan langsung menoleh dengan wajah terkejut.


            “Kenapa dengan mama?” cerocos Rakha yang menghampiri sang kakak dengan wajah panik luar biasa, kedekatannya itu membuatnya kadang suka posesif.


            “Mama, nggak apa-apa, Kha. Santai.” Tutur Gia berusaha membuat sang adik tenang.


            Zeyden pun meminta anak-anaknya untuk duduk dan tenang dalam menghadapi masalah ini. Dia menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa sang mama tidak apa-apa hanya terkena tekanan darah rendah. Hal itu justru membuat ketiga adiknya menjadi geram sendiri lihat tingkah sang kakak yang sangat lebay.


            “Kakak tuh ya, bikin kita panik aja sih.” Gerutu Gara yang sebal dengan Zayyan, sikap Zayyan disangka hanya mengusili adik-adiknya.


            “Dokter kok gini. Lihat dulu kenapa sih, Kak. Baca teliti baru sampein ke kita-kita. Jangan bisanya cuma ngusilin kita aja!” gerutu Rakha yang ikut kesal dengan Zayyan.


            “Sudah. Kak Zayyan nggak maksud bikin kita cemas. Wajar dia panik lihat mama ada di rumah sakit lain. Coba kalian pikir kenapa mama nggak ke rumah sakit ini?” jelas Anggia sedikit lebih berpikir terbuka dari adik dan kakaknya.


            “Dengar semua, bersikap biasa saja, jangan buat mama kalian cemas ya! Dan satu lagi, jangan bahas apapun lagi mengenai hal ini di rumah. Buat bahagia mama kalian terus ya, tetep kompak jangan rebut.” Nasihat  Zeyden kepada ke empat anaknya, beruntung keempatnya mau mengikuti nasihat itu dengan menganggukkan kepala tiap-tiap orang.


            Zayyan dengan keberanian mengambil hasil laporan yang tadi dia bawa. Dia memberanikan diri dengan membaca lembaran kertas itu dengan seksama. Air matanya mengalir saat membaca, tapi buru-buru disekanya. Rakha yang melihat sang kakak menangis menghampiri dan meraih kertas dari tangan Zayyan. Matanya terbelalak saat melihat tulisan di sana.


            Rakha langsung menatap sang kakak dan papanya, seakan minta penjelasan. Zeyden hanya menatap dengan senyuman sedangkan Zayyan air matanya mengalir terus. Wajah Rakha berubah pucat pasi melihat  jawaban dari kedua orang yang mengerti dunia kesehatan selain dirinya. Rakha menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil menutup kedua matanya. Anggia mengambil laporan itu dan memotretnya serta mengirimkan ke sang suami.

__ADS_1


            Drrt.. Drrt..


            “Halo, Sayang!” sapa Gia dengan nada senatural mungkin.


            “Halo, Siapa yang sakit itu?” tanya sang suami tercinta di sebrang sana.


            “Memang kenapa sayang?” Anggia makin penasaran dengan pertanyaan sang suami.


            “Sayang, Abses otak itu bukanlah penyakit yang ringan. Kamu tahu penyakit itu bisa mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan secepatnya.” Jelas lelaki tercinta Anggia sehingga tanpa terasa air matanya meleleh.


            “Kamu bisa minta penjelasan mengenai hal ini sama papa atau Kak Zayyan. Mereka lebih paham dari aku.” Ujar Rohan dengan penuh kesabaran. Tanpa banyak bicara, Anggia memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


            “Jelasin semuanya sama Gia sekarang. Kalian bertiga nggak boleh menutupi apapun, atau Gia akan tanya langsung sama Opa!” ancam Gia dengan air mata yang terus mengalir.


             “Papa yakin mamamu sudah mengenali gejala-gejalanya hanya saja dia tidak mau membuat kita panik, jadi memilih konsultasi di rumah sakit lain. Jadi kalian bersabar dan lakukan perintah papa tadi, urusan mama biar papa yang handle. Akan papa tangani mama kalian ya!” lanjut Zeyden berusaha membuat keempat anaknya tenang.


              Keempat anaknya memeluk Zeyden dengan deraian air mata. Ia tak menyangka wanita terkasihnya mengalami hal yang begitu berat. Zayyan sedih ketika apa yang ia bayangkan tadi menjadi nyata, sungguh menyesal ia membayangkan yang tidak-tidak mengenai mamanya.


                                                                                      ***

__ADS_1


                 Di rumah Priyanka sudah bersikap biasa saja, mengerjakan apapun yang bisa ia lakukan. Walau penglihatannya sedikit berkurang, kekakuan di leher dan muntah yang kadang ia rasakan tak menjadi alasan dirinya untuk menjalankan tugas seorang ibu juga isteri. Sehingga seisi rumah memang tak tahu sakit yang ia rasakan. Hanya keceriaan yang selalu ia tampilkan untuk keluarga tercintanya.


            Hari sudah sore ketika Priyanka tengah asyik duduk santai di gazebo halaman belakang. Suara mobil suami dan anak-anaknya terdengar sampai ke sana. Priyanka tak sanggup untuk bangun saat penglihatannya kembali buram. Zeyden menghampiri sang isteri ke gazebo.


            “Sayang, sudah sore kok masih di luar?” tanya Zeyden sambil mengecup kening Priyanka.


            “Aku menunggumu dan ingin bicara berdua.” Alasan Priyanka kepada sang suami.


            “Kak Zey, mungkin panggilan ini sudah lama tak kugunakan untuk memanggilmu. Hari ini ijinkan aku memanggilmu dengan panggilan itu. Kak Zey, aku sakit. Aku didiagnosa Abses Otak. Aku tak tahu seberapa parah itu, tetapi dokter tadi bilang itu cukup mengancam jiwa bila tidak segera ditangani. Aku takut Kak, aku belum sanggup berpisah denganmu juga anak-anak!” ucap Priyanka dengan air mata sambil menaruh kepalanya di dada


bidang sang suami.


            “Ada aku dan Zayyan yang akan mengobatimu. Terlebih anak-anak kita akan menjagamu melebihi perawat di rumah sakit. Kakak-kakakmu pun akan senang hati membantu menjaga dirimu, sayang. Jadi kamu tidak akan kehilangan siapapun, tetap semangat berjuang untuk sembuh ya. percayakan pada suami dan anakmu yang akan


menyembuhkanmu dengan ijin Allah.” Tutur Zeyden dengan lembut sambil membelai kepala Priyanka.


            Priyanka hanya mengangguki kepala seakan ia sangat yakin bila ia akan sembuh. Anak dan suaminya tak mungkin akan membiarkan dirinya begitu saja. Semangatnya kembali lagi untuk hidup bahagia bersama keluarganya. Tak lama saat pasangan suami isteri itu sedang menikmati senja, anak-anak, menantu dan cucu berhamburan menghampiri mereka serta memeluk keduanya dengan erat.


            “We love you, Ma, Pa. Don't leave us. We still need you, Ma, Pa.” ucap mereka serentak.

__ADS_1


            “Hei, memang kami berdua mau kemana sampai kalian bicara ngaco gitu. Kami akan selalu ada di hati kalian, apapun yang terjadi. Dan selalu doakan kami berdua untuk selalu bersama ya.” ucap Zeyden dengan kelembutan.


            Canda tawa menghiasi akhir hari dengan kebahagiaan. Tak lupa tingkah Amara, Banyu juga Rangga membuat mereka semua senam wajah juga mengocok perut akan tingkah lucu yang dibuat ketiganya. Ledekan dari Gara kepada anak-anak itu menghiasi mentari yang kian meredup di ufuk barat, membawa kebahagiaan dalam keluarga yang sangat manis itu.


__ADS_2