
"Maafin gue Ka. Nggak sengaja deh, beneran." ujarnya sambil membersihkan wajahku.
"Lagian lo sih bikin gue kaget." ujarnya sedikit kesal.
"Kan lo nanya siapa? Ya gue jawablah." ucapku kesal.
"Ngapain dia balik dan nemuin lo lagi?" cecar Anyelir dengan muka garang.
"Gue nggak tahu pastinya. Cuma Zeyden pakai jasa WO miliknya." jelasku dengan pelan-pelan.
"Zeyden tahu?" selidik Anyelir sambil mendekatkan wajahnya ke hadapanku.
"Belum. Tapi kemarin gue nangis didepan mereka saat gue ketemu dia lagi." jelasku sambil menunduk.
"Ya Allah, Ka. Kenapa lo sampe kelepasan nangis gitu sih. Kalo Zeyden curiga gimana?" sahut sahabatku dengan nada kesal kepadaku.
"Air mata itu ngalir saat dia ada didepan gue. Gue udah berusaha tapi nggak bisa. Dan ada satu hal lagi yang bakal bikin lo kaget." ujarku dan Anyelir sedang mempersiapkan diri untuk mendengarkan kata-kataku.
"Di hapenya. Dia pasangbfoto gue sebagai wallpapernya." jelasku melemas.
"What?" Anyelir sontak kaget mendengar ucapanku.
__ADS_1
"Tunggu.. Tunggu.. Lo ngapain pegang hape dia?" cecarnya kembali.
"Dia minta nomer gue." jelasku.
"Terus lo kasih?" tanyanya mendetail dan aku mengangguknya.
"Gila lo ya. Lo masih ngarep sama dia? Inget lo udah kawin sis." ujarnya dengan nada tinggi dan penuh kekecewaan padaku.
"Gila.. Bisa gila gue, kalo sahabat gue kayak lo semua." ujarnya dengan amarah sambil menggebrak meja dan membuat semua orang menoleh ke arah kami.
Aku tertunduk melihat tingkah sahabatku yang kalap saat tahu hal ini. Dia tahu banyak masalahku dan Gibran. Kebodohankulah yang menghantarkan kemarahan sahabatku itu. Anyelir menjauh dariku. Aku melihat Anyelir menelpon seseorang dan kembali duduk di depanku.
Kami saling diam. Sejam berlalu tanpa suara dari mulut kami. Sesekali kutatap wajahnya masih terukir kekecewaan yang mendalam, setiap aku menatapnya dia selalu membuat wajahnya.
"Coba lo nasihatin sahabat lo yang bodoh dan sedikit gila ini deh, An. Nggak ngerti gue sama jalan pikirannya." ujar Anyelir sewot pada Zoan.
Zoan yang tak mengerti apa seakan bingung. Namun, Anyelir menceritakan semuanya. Zoan hanya menatapku tajam dengan kemarahan yang lebih dalam dari Anyelir. Aku memang sengaja tidak mengajak Zoan. Karena sifat pemarahnya yang luar biasa itu tak mampu aku hadapi.
Zoan kesal kepadaku dan mulai memukul meja. Kami pun kembali menjadi sorotan, aku memegang tangan Zoan untuk menenangkannya. Dia sedikit mereda, tapi dia menepis tanganku dengan kencang.
"Nggak Ka. Lo udah gila. Lo bukan lagi Priya yang kita kenal." ujarnya mencoba melembutkan suaranya.
__ADS_1
"Lo nggak bisa sakitin Zeyden. Dia harus tahu semuanya. Dan satu hal lagi yang gue tanyain. Si kembar tahu masalah ini? Bisa lo bayangin jika mereka tahu?" suaranya sudah normal kembali.
"Gue.." ucapku terpotong saat panggilan telepon masuk.
Nomer tak dikenal. Aku menatap kedua sahabatku dan mereka mengisyaratkan angkat. Aku angkat dan tak lupa di loudspeaker.
"Halo." sapaku ramah.
"Hai, Ka. Lagi apa dan dimana?" suara seseorang yang kukenal.
"Hmm.. Lagi di luar." ujarku dan ditempeleng oleh Anyelir.
"Aku mau ketemu kamu. Kamu ditempat dulu sering nongkrong sama sahabatmu kan?" cerocosnya dan aku hanya diam.
"Aku kesana sekarang, 15 menit aku sampai." ujarnya dan sambungan telepon mati.
"Bener-bener lo ya. Nggak tau deh gue mesti gimana sama lo sekarang." ujar Anyelir kesal tingkat dewa.
"Kan bukan gue yang mau dia kesini." sangkalku dengan wajah memelas.
"Ketika dia datang jangan tinggalin gue berdua dengannya ya." pintaku dan anggukan dari kedua sahabatku.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian lelaki itu datang. Dia tersenyum dan raut wajahnya sangat bahagia. Semakin langkah kaki dia mendekat, semakin kencang detak jantungku. Kini dia sudah di hadapanku, perasaanku kacau dengan kehadirannya lagi. Tiba-tiba dia memelukku, aku kaget dan begitu juga kedua sahabatku.