Relung Langit

Relung Langit
Part 65


__ADS_3

Saat di halaman belakang sedang sibuk dengan permasalahan badannya Bryan. Sosok yang persis dengan Bryan sedang asyik melihat interaksi kedua manusia diseberangnya. Tiba-tiba langkah lelaki itu mendekat dan dengan segera menutupi badan adiknya dengan baju handuk.


"Wes, kakak gue. Kapan dateng? Tumben kemari." ujar Bryan yang kaget saat badannya ditutupi baju handuk.


"Lo nggak bisa ngehargain cewek banget sih Bi. Kasihan mata Anyelir tuh jadi ternodai sama badan lo." ujar Aryan mendekati gadis yang sedang bercanda dengan keponakannya.


"Hai, An. Apa kabar?" ujar Aryan saat sudah duduk di sampingnya sambil menyubit gemas pipi ponakannya yang gembil.


"Baik Kak. Kakak apa kabar?" sahutnya sambil tersenyum kepada lelaki disampingnya.


"Baik. Udah cocok kamu An, gendong Zayyan gini." ujar Aryan sambil menyiumin pipi keponakannya.


"Gue dilupain." ujar Bryan yang melempar handuknya ke muka Aryan dan langsung nyemplung kembali ke kolam renang dengan wajah menahan emosi.


"Woi, kena ponakan lo nih." teriak Aryan kesal dan Zayyan menangis kencang saat mendengar suara Aryan.

__ADS_1


"Kalian apa-apaan sih. Zayyan jadi kaget kan." ujar Anyelir yang mengambil Zayyan dan langsung menenangkan balita itu.


Kedua kakak beradik itu hanya menatap Anyelir yang berusaha menenangkan balita chubby itu. Tak berapa lama si balita pun diam, mereka bertiga menghembuskan nafas bersamaan. Kalau sampai Zayyan tidak diam, bisa diamuk mereka sama pawangnya anak itu.


Anyelir masih menggendong Zayyan dan sesekali bercanda membuat balita itu tertawa geli. Aryan terlihat damai saat melihat ponakannya tertawa riang seperti itu. Sesekali dia menatap si wanita yang menggendong ponakannya.


"Kak, lo mending mandi lagi deh. Daripada si bapak tuh bocah ngamuk." teriak Bryan dari tengah kolam renang.


Aryan menengok dan segera menghampiri sang adik. Diapun melakukan hal yang sama dengan sang adik. Dia tahu kalau adik iparnya itu sangat-sangat protektif dan posesif terhadap ponakan tersayang mereka.


"Duh, kenapa jadi deg degan gini sih liat badan si kembar yang aje gile bikin ngeces." batin Anyelir yang tak karuan wajahnya.


"Zayyan sayang, kenapa sih kamu punya dua daddy yang ganteng-ganteng dan cute gitu. Bikin Onty meleleh nih hatinya." ujar Anyelir pada bayi chubby itu dan di tanggapi dengan tawa sang bayi.


"Kenapa sih sekarang-sekarang ini kalo liat dua manusia itu deg-degan mulu." batin Anyelir dengan wajah merah.

__ADS_1


Anyelir seakan masih didunianya berdua dengan Zayyan. Dia terus mengoceh bersama si balita itu, tanpa sadar daddy sang bayi sudah dibelakangnya dan tersenyum bahagia mendengar perkataan yang keluar dari mulut wanita cantik.


"Zayyan sayang.." teriak Zeyden yang sudah rapi dengan kemeja hitam lengan pendek dipadukan oleh celana jeans pendek.


"Pawang kamu dateng sayang." seru Anyelir sambil mencuil pipi Zayyan.


"Kapan dateng Kak Ar? Tumben banget kesini, dihari libur." ujar Zeyden sambil menatap ke kolam renang.


"Tadi waktu lo jogging Zey. Ya kan gue kangen sama baby Zayyan atuh dn my princess tentunya." ujar Aryan sambil menaiki tangga kolam renang.


"Kak Bi. Tutupin itu badan lo, ada yang bukan muhrim juga." seru Zeyden membuat Anyelir mengikuti arah tatapan Zeyden yang terhenti di belakangnya.


"Lo semua bawel deh. Ceweknya aja nggak risih, ngapa lo berdua jadi risih sih." gerutu Bryan kesal kepada adik ipar dan kakaknya yang dari tadi kompak komplen badan dia.


"Gue.. Sedikit.." ucap Anyelir dengan menundukkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2