Relung Langit

Relung Langit
Part 33


__ADS_3

Tak terasa besok adalah hari resepsi yang aku tunggu-tunggu. Senang dan cemas meliputi hatiku saat ini. Bagaimana tidak, besok kemungkinan besar keluargaku akan bertemu dengan Gibran. Aku cemas bila kakak-kakakku bertemu dengannya, akan bagaimana acaraku nanti. Terlebih Kak Bryan tak bisa menahan emosinya.


Aku tahu Zeyden sedikit khawatir, walau tak bisa ia ungkapkan, namun semuanya terpancar jelas diwajahnya. Aku menatapnya dalam ketika dia terlelap dalam tidurnya. Dia terlihat sangat tampan dan damai. Tanpa sadar aku mengelus pipinya dan menitikkan air mataku. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatiku padanya, karena aku masih merindukan Gibran.


"Kak Zey, maafin aku. Maaf." gumamku dengan sangat pelan.


***


"Sayang, hayo bangun sholat subuh dulu. Habis itu kamu harus siap-siap, kita akan meluncur ke tempat acara." ucapnya sambil mengelus pipiku dengan lembutnya.


Aku enggan bangun rasanya. Tapi mataku terbelalak ketika mendengar "Hari ini acara kita sayang." Bagai disambar petir, aku harap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi nanti. Aku masih takut jika salah satu keluargaku bertemu dengan lelaki itu. Walau ada kedua sahabatku tapi pertemuan mereka pasti akan terjadi.


Lemas rasanya badanku ketika ingat semua yang akan terjadi. Aku melangkah ke kmar mandi dengan rasa malas. Pikiranku kembali bergulat dengan persepsinya sendiri. Tak butuh waktu lama aku sudah siap, aku terlebih dahulu menunaikan kewajiban seorang muslimah bersama suamiku.


"Kamu kenapa sayang? Kayak lagi memikirkan sesuatu, boleh berbagi sama aku?" tanya Kak Zeyden saat selesai sholat aku terdiam tanpa banyak berkata.

__ADS_1


"Hm.. Hanya gugup Kak." sahutku berbohong.


"Oalah, santai aja sayang. Walau nanti akan capek tapi pasti hepi kok." ujarnya dengan penuh keyakinan.


"Semoga seperti yang kamu katakan Kak." batinku.


Akhirnya aku dan Kak Zeyden jalan menuju tempat resepsi. Aku naik mobil bersama kedua kakakku, sedangkan orang tuaku naik mobil satu lagi dengan supir. Aku tegang, terpancar dari wajahku.


"Lo kenapa, De?" ujar Kak Aryan melirik dari spion aku menggeleng.


"Iya, Ade tegang. Puas. Lagian kalian nggak tegang karena belum ngerasainkan!" ujarku sambil meledek.


Detakan jantungku semakin kencang. Aku langsung menggenggam tangan Kak Zeyden dengan erat, sampai dia memandangiku. Wajahku pucat pasi ketika mobil memasuki pelataran lobby. Zeyden menggandengku sambil sesekali mengelus punggungku supaya aku tenang.


"Sumpah aku tegang banget Kak." ujarku dengan suara gemetaran.

__ADS_1


"Nggak akan terjadi apa-apa. Percaya sama aku." ujarnya menenangkan.


Akupun mencoba mempercayai ucapan Zeyden, ya walau masih ada ragu di hatiku. Aku kini sudah diruang rias. Aku di make up sedemikian rupa, sampai Zeyden tak berkedip melihatku. Aku sangat berbeda, jauh lebih cantik dari waktu ijab kabul kemarin.


Semua sudah menunggu di ballroom. Upacara resepsi dimulai dengan acara palang pintu dan acara lainnya. Setelah acara pembukaan selesai, aku yang sudah digandeng oleh Zeyden melangkah menuju pelaminan. Senyumanku merekah dengan melihat pelaminanku yang amat cantik sesuai dengan impianku.


Latar belakang bunga-bunga namun terlihat simpel dan elegan. Aku menggunakan baju lehenga dan Zeyden kufta. Ya, tema bollywood. Saat kaki hendak mendekati pelaminan, mataku menyorot ke arah kiri panggung hiburan. Sosok yang aku takut tuk jumpai berdiri disana dengan raut wajah yang sedih namun terpaksa tersenyum.


Deg..


Perasaanku mendadak aneh, seakan apa yang aku khawatirkan akan terjadi. Aku melangkahkan kaki dengan gemetar dan mengencangkan gandenganku ke Zeyden. Zeyden yang merasakan peganganku semakin erat menatapku, dan aku masih menatap ke arah panggung.


Zeyden mengikuti arah tatapanku, dan dia sempat shock namun tetap berusaha tenang. Dia mengelus punggung tanganku dan itu membuatku sedikit rileks. Aku menatap ke Zeyden dan tak terasa air mataku mengalir. Zeyden menghapus air mataku sambil menggelengkan kepalanya.


"Kumohon jangan menangis sayang. Kuatkan hatimu!" serunya masih menghapus air mataku dan aku mengangkat bahuku.

__ADS_1


__ADS_2