
Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..
Betewe end de baswey..
Kesayangan aku semuanya.
Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??
Yuks..
1..
2..
3..
Mulai..
***
Waktu terus berjalan tanpa henti. Menit terus mengejar detik hingga berganti jam dan hari bahkan tahun. Bulan demi bulan telah berlalu. Ketegangan demi ketegangan silih berganti. Kini satu langkah lagi menuju kebahagiaan dan kebebasan.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima tiga puluh. Si kembar sudah rapi dan sedang duduk di ruang tengah bersama sang papa dengan wajah tegang. Hari ini adalah hari kelulusan mereka, kemungkinan-kemungkinan mereka lontarkan pada sang papa. Zeyden dengan lembut menjawab setiap ketakutan dan ketegangan kedua anaknya.
Aku hanya melihat interaksi ketiganya dari balik pintu. Sama seperti aku dulu tegang saat pengumuman kelulusan. Bahkan dulu sempat dikerjain lebih dulu oleh kedua sahabatku. Masa indah itu tak kan bisa terulang lagi, akan tetapi kenangannya begitu indah saat diingat.
Zeyden masih berusaha membuat anak kembarnya itu tersenyum. Tapi masih sia-sia, bukan Zeyden namanya jika tidak bisa membuat anak-anak itu tenang. Dia sedang mengajak anaknya murojaah demi ketenangan hati mereka.
Ayat demi ayat mereka lantunkan dengan sangat merdu menghiasi suasana pagi dirumah. Rumah seakan makin damai dan nyaman setiap kali lantunan ayat suci Al-quran menggema. Aku kembali menjalani aktifitas di dapur. Setengah jam berlalu, aku hampiri mereka untuk sarapan begitu juga dengan si bungsu yang sudah berada di tengah-tengah kedua kakak juga papanya.
Hari ini aku akan kesepian karena si bungsu akan studi tour beberapa hari ke Yogyakarta. Si kembar besok akan berangkat perpisahan di Bandung selama dua hari. Setelah dari Bandung baru akan diadakan pelepasan dan wisuda di Jakarta. Bila memikirkan beberapa hari ke depan akan sedih karena kepergian anak-anak.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh. Semua sudah berangkat dari tadi, dengan diantar Pak Min. Aku dan Zeyden pun tengah bersiap-siap hendak ke kantor masing-masing. Aku lebih dulu diantar suami tersayang baru dia yang ke rumah sakit.
Dikantor aku kurang fokus karena memikirkan anak-anak yang ternyata perkembangan mereka sangat cepat. Tak terasa sudah dewasa baru kemarin rasanya aku mengganti popoknya, tapi kini mereka sudah pada kuliah dan mau kuliah.
"Bos, bengong aja lo!" seru Zoan mengagetkanku. Ah iya adik ipar sekaligus sahabatku ini menjadi sekretaris pribadiku. Sepeninggalan Kak Aryan akulah yang jadi atasannya kini.
"Rese lo." kesalku sambil melempar tutup balpoin ke arahnya dan dia menghindari hal itu.
Dia pun menanyakan hal yang membuat aku kurang fokus. Aku menceritakan semuanya dan dia memberikan solusi dari pandangannya. Senang rasanya dia membantuku menyelesaikan masalah yang aku hadapi. Seperti biasa guyonan dia membuat aku sedikit tenang.
Semua kerjaan telah selesai lebih awal. Pertemuan dengan klien pun sudah diambil alih oleh Kak Bryan. Waktuku di kantor sudah beres jadi aku memutuskan untuk pulang. Walaupun jam masih menunjukkan pukul dua siang. Aku meminta Zoan mengantar pulang karena masih enggan pulang naik taksi online.
Kesetiaan sahabatku itu luar biasa. Tak mengeluh untuk menolak permintaanku. Bagaimana bisa dia menolaknya, jika imbalannya dia bisa pulang lebih awal. Mungkin jarang ada sahabat yang setia seperti Zoan dan Anyelir.
Sesampainya di rumah aku langsung ke kamar karena Zoan juga sudah pulang usai mengantarku sampai gerbang rumah. Kini aku memilih istirahat, sebelum melanjutkan tugas utamaku dirumah ini.
***
Aku terbangun, saat kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam sore. Segera aku ke dapur hendak memasak, namun aku kaget karena hidangan sudah siap disana. Sebuah tangan kekar memeluk pinggangku, dan aku hanya menoleh.
"Udah bangun, Yank!" serunya sambil menuntunku duduk di bangku makan.
"Ish, kamu ngagetin aja sih. Kamu pulang jam berapa tadi?" ucapku mengikuti setiap gerakan yang diberikan suamiku.
"Hm, pas kamu sedang terlelap aja tadi!" sahutnya sambil memikirkan jam berapa tepat dirinya tiba dirumah.
"Ya udah sekarang kita makan dulu ya!" ujarnya dengan sikap yang sangat manis.
__ADS_1
"Yank, kok sepi ya? Anak-anak belum pulang ya?" tanyaku yang kaget melihat situasi rumah yang sangat sepi.
"Anak-anak dirumah mama. Kangen katanya sama mereka jadi tadi di anter Pak Min kesana." jelas Zeyden yang anak-anak tengah menginap dirumah orang tuanya
"Ya ampun, kenapa diijinin sih. Rakha pergi hari ini baru balik beberapa hari lagi. Si kembar besok udah pergi kamu malah biarin mereka disana!" ucapku sedikit kesal karena kebersamaan dengan anak-anak jadi berkurang.
"Aish, ngambek nih ceritanya isteriku tersayang?" goda Zeyden sambil menoel-noel daguku.
"Biarkanlah sayang mereka disana. Kan kita jadi bisa honeymoon lagi!" godanya dan reflek aku mencubit pipinya.
"Gimana hasil ujian nasional si kembar, Yank?" tanyaku yang sudah dari pagi menunggu hasil belajar anakku.
"Hm.. Ya gitu!" serunya dengan wajah sendu nan di tekuk.
"Ya Allah, mereka pasti sedih banget ya, Yank." ucapku reflek yang melihat perubahan Zeyden.
"Hahaha. Kamu lucu, Yank. Mana ada anak-anak kita nggak lulus, otak merekakan cerdas banget. Gara juara umum se-Jakarta dan si cantik juara dua." ucap Zeyden dengan bangga pada anak-anaknya.
Aku kesal pada suamiku yang dari tadi mengerjai diriku ini. Seketika aku menghampiri dan langsung menggelitiknya. Dia kegelian dan membalasku, akan tetapi aku berlari menghindarinya. Kami seakan baru kemarin menikah, kelakuan kami terlihat konyol tapi aku menyukainya.
Zeyden terus mengejarku sampai di titik aku lelah dan duduk di sofa ruang tengah. Dia langsung menemani diriku, sebelum dia menaruh badannya di sofa, ia sempatkan diri mengecup pipiku dan bibirku kilas. Hal itu membuat aku kaget, karena aku sempat memejamkan mata sesaat.
Dia hanya tersenyum sambil rebahan di sofa dan berbantal pahaku. Aku membelai rambutnya dengan lembut. Rasanya aku tak mungkin bisa sebahagia ini bila bukan Zeyden menjadi suamiku. Kesabaran dan kesetiaannya luar biasa padaku juga keluarga kami. Walau ribuan kali masa laluku hadir dalam kehidupan kami, tak lantas dia menyudutkanku atau meninggalkanku.
Kepercayaan yang ia berikan tiada kiranya. Kasih sayang, cinta, perhatian dan ketulusannya luar biasa dalam. Sedalam dan seluas samudera yang ia ruahkan kepadaku. Setiap detik cinta kami selalu bertambah, sikapnya selalu aku rindukan.
Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jika diriku berpisah dengannya. Sama sekali tak bisa aku bayangkan, hanya harapan demi harapan yang baik aku inginkan selalu bersama dengannya.
Zeyden tak membiarkan waktu terbuang begitu saja. Honeymoon itulah kata yang tepat buat menggambarkan situasi kami berdua. Dimanapun selama bersama suami tercinta akan tetap indah.
***
Begitu pun dengan Gia, kawalan sang kakak dan adiknya. Tak ada yang bisa mendekati Gia walau hanya sebentar. Kini kebahagiaan tengah memenuhi kehidupanku, sepanjang acara aku melakukan panggilan video dengan Zayyan. Karena sang kakak ingin sekali bisa hadir di tengah-tengah kebahagiaan adiknya.
Kepala sekolah mengumumkan juara umum untuk nilai tertinggi se-Jakarta adalah Anggara Thamrin Pradipta. Saat namanya dipanggil, dia langsung menaiki panggung. Tak lupa nama Arjuna dan Anggia pun di panggil untuk naik ke atas panggung. Ya, keluarga Pradipta memang dikenal sebagai keluarga cerdas di sekolah itu. Karena semua dibabat abis sama ketiga anak kami. Bangga, jelas siapa yang tidak bangga melihat kesuksesan anak-anaknya.
Usai acara Rohan dan kedua orang tuanya menghampiri keluargaku yang tengah asyik berfoto. Mereka mengucapkan selamat kepada Gia dan Gara, berlanjut ke obrolan yang sedikit serius. Karena merasa kurang patut di bicara didepan umum maka Zeyden mengundang Rohan juga kedua orang tuanya ke rumah.
***
Malam hari semua keluarga Pradipta dan Thamrin berkumpul di ruang keluarga. Kami semua merayakan kelulusan ketiga penerus keluarga ini. Canda tawa dan sharing terlontar di ruangan itu. Sampai pada dimana candaan itu terhenti ketika ada yang berkunjung kerumah.
Aku mempersilakan tamu itu menuju ruang tamu. Terlihat dari wajah mereka yang tampak kaget melihat rumah aku dan Zeyden yang jauh dari kata mewah. Mereka duduk dan aku meninggalkannya untuk menyediakan minuman juga makanan, tak lupa aku meminta Zeyden menemani tamu itu.
Obrolan mereka tampak serius dan tegang. Aku bergabung sambil memberikan minuman dan makanan kepada mereka yang kutaruh diatas meja. Raut wajah Zeyden sudah tidak bersahabat, aku berusaha menenangkannya dengan mengusap lembut lengannya.
"Ada apa, sayang?" tanyaku perlahan-lahan takut menyinggung dirinya.
"Begini, Nyonya Priyanka. Saya selaku orang tua Rohan ingin melamar putri anda. Apakah anda menerima lamaran ini?" ucap Ayah Rohan dengan lantang dan membuat aku tersenyum.
"Setiap anak pasti akan meninggalkan orang tuanya ketika dewasa. Saya pernah meninggalkan orang tua saya setelah dinikahkan dengan lelaki hebat, bahkan dia sosok Ayah yang sangat luar biasa. Anggia adalah putri saya satu-satunya, dan saya hanya meminta dua hal dari calon menantu saya kelak. Pertama tidak meninggalkan rumah ini dan kedua cintai anak saya dengan tulus tanpa melihat status dirinya, tapi lihatnya diri anak saya apa adanya." jelasku membuat Zeyden menatapku dengan tatapan tak percaya akan perkataan yang kulontarkan.
"Saya juga tidak bisa memaksa putri saya untuk menikah dan menerima lamaran yang memang dia tidak sukai. Biarkan dia memilih apa yang dia mau. Maka dari itu biarkan saya panggilkan Gia dulu untuk bergabung dengan kita disini!" aku berdiri dan meninggalkan mereka semua dan mengajak Gia bergabung bersama kami.
Tak butuh waktu lama untuk aku membawa putriku bergabung. Rasanya sedih ketika ada seseorang yang meminta putri kecil kita untuk ia bawa. Belum siap rasanya harus melepas dia bersama orang lain. Aku dan Gia kini sudah bergabung bersama mereka. Gia dihimpit aku dan Zeyden, yang tak luput memeluk putri kecilnya.
"Gia sayang. Mama, ajak Gia kesini. Karena tadi ayahnya Rohan bilang dia ingin melamar kamu. Apa tanggapan kamu sayang?" ucapku dengan penuh kelemah lembutan.
"Pa, Ma. Jujur Gia mau saja menerima permintaan Rohan. Akan tetapi ada beberapa hal yang harus Gia sampaikan disini." ucap Gia buka suara dengan wajah yang tak biasa.
__ADS_1
"Katakanlah, Nak!" seru kedua orang tua Rohan dan lelaki dengan kemeja navy itu tampak tak sabar mendengar kelanjutan penuturan dari wanita pujaannya.
"Pertama Gia tidak mau tunangan alias mau langsung menikah. Kedua Gia mau tetap kuliah walau sudah menikah, mengejar cita-cita Gia kuliah di London. Ketiga Gia tidak akan pernah meninggalkan rumah ini. Apakah Rohan sanggup dengan hal itu?" ucap Gia membuat Rohan menganggukkan kepala tanpa pikir panjang.
Rangkaian kata untuk mengakali agar Rohan mundur secara perlahan, akan tetapi sia-sia. Wajah sumringah Gia berubah seketika menjadi dingin dan datar saat mendapatkan anggukan dari Rohan. Rasanya rencana kakak-kakaknya gagal total dan membuat Gia mati kutu karena ulahnya itu.
"Saya bersedia menikah denganmu Anggia Thamrin Pradipta. Saya juga setuju dengan segala persyaratan yang kamu ajukan. Kini saya ingin menanyakannya, kapan ijab kabul itu bisa kita laksanakan?" Perkataan tegas dari Rohan membuat Gia makin bingung begitu juga dengan Zeyden.
"Malam ini jika kamu berani!" celetuk Gara tanpa pikir panjang dan membuat semua orang kaget di ruangan itu. Senyap itu yang terasa saat Gara berkata asal ceplos itu.
"Tenang, dia tidak akan berani!" bisik Gara ditelinga Gia dan sempat membuat Gia tenang.
"Kalo dia setuju gimana, Kak?" tanya Gia yang khawatir dengan jawaban Rohan nanti.
"Dia nggak akan berni, jika dia sanggup maka mobil baru dan uang jajan kakak selama dua tahun buat kamu. Tapi jika dia tidak berani kamu harus mau jadi assisten kakak selama dua tahun." bisik Gara dengan keyakinan lebih menantang Gia.
"Oke deal!" sahut Gia dengan berbisik.
Lima belas menit berlalu ruangan itu masih sepi tak bersuara. Ketegangan merasuki ruangan itu dan membuat kami tidak bisa berpikir apa-apa. Gia yang sudah mengeluarkan keringat dingin tampak pusing akibat ulah sang kakak.
"Siapkan penghulunya saat ini juga! Saya bersedia." tegas Rohan setelah lama berpikir dan membuat semua mata membelalak. Kedua orang tua Rohan pun tak kalah kagetnya dengan keputusan sang anak.
"Baiklah kalo begitu saya panggilkan ustadz di daerah sini." ucap Gara bangkit dari duduk dan meminta Rakha menemaninya mencari ustadz.
Zeyden masih diam karena syok atas ucapan anak-anak itu. Mau marah rapi ia tidak bisa marah didepan putrinya. Dia hanya mampu mengiyakan setiap perkataan sang anak. Gia yang tampak kaget makin bingung. Ibarat buah simalakama kehidupan Gia saat ini.
Keluargaku dan juga Zeyden tampak syok dengan ucapan Rohan. Mereka sudah meminta Rohan untuk memikirkan masak-masak keputusan yang dia lontarkan barusan. Akan tetapi dia masih bersikeras dengan perkataannya.
"Kamu mau kasih makan Gia apa nantinya?" pertanyaan dasar untuk menjatuhkan Rohan. Akan tetapi pendiriannya sangat kuat tal bisa digoyahkan.
"Saya akan bekerja banting tulang demi bisa menghidupi Gia." ucapnya tanpa ada keraguan disana.
Mau tidak mau kami mengiyakannya karena Rohan keras kepala. Tak berapa lama seorang ustad datang untuk menikahkan Rohan dan Gia. Ya, mereka menikah secara agama lebih dahulu. Untuk proses secara hukum disusul kemudian.
Berat hati Zeyden saat berjabat tangan dengan lelaki yang ada dihadapannya itu. Lelaki yang sebentar lagi akan menjadi bagian keluarganya. Akhirnya Zeyden buka suara sebelum ijab kabul dadakan itu.
"Rohan, saya akan menikahkan kamu. Setelah menikah kamu bekerjalah di rumah sakitku dan lanjutkan kuliahmu bersamaan dengan Gia. Biaya kuliahmu dan Gia akan aku tanggung. Bahagiakan putriku." ucap Zeyden tegas tanpa ingin dibantah.
"Saya bersedia!" serunya tanpa membantah.
Gara segera melakukan panggilan video dengan Zayyan saat ijab kabul berlangsung. Keluarga di London kaget dengan kejadian itu. Tapi mereka telat mengangkat panggilan itu saat semua saksi berkata 'sah'.
Gia menitikkan air matanya yang mana dia masih belum menyangka apa yang terjadi barusan adalah nyata. Kini dia sudah menjadi seorang isteri. Kebebasannya yang dulu ia mimpikan harus kandas begitu saja.
***
jangan lupa like, comment, share dan votenya ya sayangnya aq..
Lanjut nggak nih gaes.. kalo lanjut, votenya yang kenceng yes.. Kalau kenceng aku up sedikit lebih panjang..
Biar akunya semangat nih..
okey..
okey guys..
lope.. lope.. lope.. untuk kesayangan aku semuanya..
mmuuuaaaccchhh....
__ADS_1