Relung Langit

Relung Langit
Part 159


__ADS_3

***


Mencintai kadang kala tak bisa memiliki bahkan terbalas. Sakit memang tapi jika sudah cinta apapun akan menjadi biasa saja. Hal itu terkadang dirasakan oleh mereka yang mencintai namun tak pernah terbalas. Tapi kegigihan untuk menaklukkan cinta sang pujaan akan membuat diri ini bahagia. Seperti Zeyden yang sabar menanti keikhlasan aku untuk menerima dia sebagai suami seutuhnya.


Sama halnya dengan Aleta yang kian sabar menerima sikap manis sang suami walau belum bisa mencintainya. Dia yang selalu memberikan hal-hal manis membuat Aleta semakin jatuh cinta. Entah sampai kapan wanita cantik itu akan diterima cintanya. Wanita mana yang tak pernah terbang dengan sikap manis lelaki pujaannya walau hanya setetes saja.


Perjuangan Zayyan menyelamatkan hidup Banyu menjadi alasan Aleta untuk kuat, sabar dan ikhlas menanti sang pangeran mengungkapkan kata-kata sakralnya. Wanita itu terkadang cemburu pada Mama mertua juga iparnya yang dengan mudahnya mendapatkan kata-kata cinta, rindu dan sebagainya dari sang suami.


Banyulah kekuatannya untuk terus berdiri menggapai kebahagiaannya. Anak lelaki dari mantan kekasihnya itu pula yang menyatukan dirinya dengan sang dokter. Ribuan cara ia tempuh untuk mendapatkan cinta Zayyan, sayangnya hasilnya masih nihil. Sudah berbulan-bulan tetapi ia belum mampu menjadi isteri seutuhnya, karena Zayyan masih belum pernah menjamah dirinya lebih dari kecupan kening dan pipi.


Bukan Zayyan tidak normal, akan tetapi dia tidak mau menyakiti Aleta sebab dirinya belum bisa mencintai wanita itu. Dia merasa belum berhak atas diri Aleta seutuhnya. Jika dia melakukan hal itu tanpa cinta sama saja dia melecehkan Aleta itu pikiran yang membuat Zayyan belum mau behubungan lebih mendalam dengan sang isteri.


Tanpa malu dia memberi tahukan hal ini padaku, karena ia takut aku menantikan cucu dari dirinya. Sejujurya aku menginginkannya, tapi aku tidak mau melakukan hal konyol seperti keluargaku terdahulu. Sakit rasanya mengetahui bahwa dikerjai sampai sedemikian rupa.


Seperti kemarin sebelum operasi aku berbincang-bincang berdua dengan Zayyan di taman rumah sakit. Hanya berdua, aku mengutarakan keinginanku tanpa maksud memaksakan. Rasanya tidak tega melihat menantuku terus menahan hasrat yang tak bisa tersalurkan. Niat hanya ingin membantu setitik jalan untuk keduanya tanpa melukai mereka.


Siang itu cuaca cukup mendukung, tidak terik juga tidak hujan. Aku duduk di taman menghadap air mancur. Si sulung duduk di samping kananku sambil bergelayutan manja. Aku hanya mengelus rahang kokohnya dan menggenggam jemarinya.


"Kak, jika Banyu selamat. Boleh Mama minta satu hal sama kamu? Tapi jangan merasa terpaksa jika apa yang Mama minta cukup memberatkanmu. Mama hanya ingin yang terbaik." tuturku dengan penuh ke hati-hatian.


"Ada apa, Ma? Semoga kakak bisa bantu mewujudkan keinginan Mama itu." sahutnya sambil merengkuh tubuhku dengan erat.


"Jadikan Aleta seutuhnya milikmu. Jangan biarkan dia mencari kesenangan di luar sana, walau Mama tahu itu tidak akan dia lakukan. Tapi kesabaran seorang menahan hasrat sangatlah berat. Sama beratnya menahan rindu yang tak kunjung bertemu!" Mendengar perkataanku Zayyan perlahan melonggarkan pelukannya dan bersimpuh di depanku.


"Zayyan tidak mau kehilangan Aleta juga Banyu. Zayyan akan berusaha mengungkapkan apa yang kini sudah Zayyan yakini. Zayyan sayang mereka, Ma. Nggak mau berpisah dengan mereka, sama halnya nggak pernah rela berjauhan dari Mama, Papa juga adik-adik semua. Menahan rindu memang sakit, Ma. Itu pernah Zayyan rasakan dulu." tuturnya sambil menangis di atas kedua pahaku.

__ADS_1


"Lakukan tugasmu sebagai suami juga ayah, jaga mereka seperti kamu menjaga kami!" kuusap kepala si sulung dan mengecup kepalanya.


"Zayyan janji, jika Banyu sehat. Zayyan lakukan kewajiban Zayyan pada isteri dan anakku." janji Zayyan padaku yang takkan pernah bisa dia ingkari.


"Berikan hal termudah untuknya lebih dahulu, ungkapkan cinta dan sayangmu. Agar ia memahamimu lebih dari sebelumnya, dia juga akan merasa bahagia." nasihatku dan diangguki oleh dokter tampan itu.


***


Seusai operasi Zeyden keluar lebih dahulu dan diringi dokter-dokter yang menanganinya juga Zayyan. Aku dan Aleta bangun dari duduk dan mengahampiri mereka. Hanya wajah lelah yang tampak dari mereka, memang waktu yang dibutuhkan cukup lama.


"Alhamdulillah operasi berjalan lancar, sebentar lagi Banyu akan di pindahkan ke ruang rawat." tutur Zayyan mewakili para dokter.


Hembusan nafas kelegaan keluar dari mulut kami, dan tak lupa juga ucapan syukur. Aleta berhambur ke pelukan sang suami dan membuat semua orang kaget. Aleta menangis dalam pelukan hangat Zayyan dan dibalas dengan usapan lembut di punggungnya.


"KIta akan mulai hidup baru ya, Sayang!" ujar Zayyan lembut dan mampu membuat Aleta mendongkakkan kepalanya.


"Aku sayang kamu, Aleta!" seru Zayyan di depan orang tua juga para dokter sebagai saksinya.


Aleta kembali menangis membuat Zayyan bingung. Sedangkan yang lain hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Zayyan menghapus air mata sang isteri dan mengecup pipi juga kening Aleta, hingga tanpa sadar mereka sudah ditinggalkan oleh yang lainnya.


Perjuangan seorang Aleta akhirnya terbayarkan namun masih ada satu hal lagi yang belum sah, yakni isteri seutuhnya. Rasa tak ingin melepas sang suami dengan terus memeluknya dibiarkan oleh Zayyan. Ia tahu kini wanitanya sedang bahagia dan dia sadar akan keposesifan isterinya yang sebentar lagi akan terjadi.


***


Nih, aku kasih bonus spesial potret ketampanan dan kecantikan keluarga Zeyden Thamrindan Priyanka Pradipta Putria.Urutannya di mulai dari cucu dan si bungsu ya!! Jangan Protes Pliss..

__ADS_1


 



Ini dia si Tante cilik dengan keponakan tampannya. Yups, siapa lagi kalau bukan Amara dan Rangga. Kekompakan mereka dari kecil sudah terlihat. Bahkan Rangga tanpa ragu merangkul untuk selalu ada untuk sang Tante Cilik. Rangga sejak kecil didik untuk selalu melindungi wanita di sekelilingnya. Maka dari itu ia sadar tugasnya harus menjaga dan melindungi sang Tante sejak mereka dini.


Amara yang memang sudah menganggap Rangga seperti adiknya, walau ia sudah tahu posisi dirinya dan juga Rangga. Rasa kasih sayang keduanya mereka dapatkan dari keluarga yang tak pernah membedakan hal itu kepada siapapun dalam keluarga.



Nah, kalau yang ini kesayangan duo bocil tadi. Hooh, dia adalah OmKa (Om Kakak) alias Rakha. Si jenius dalam keluarga Thamrin Pradipta. Lelaki yang selalu ribut dengan papanya hanya untuk rebutan sang mama. Anak manjanya Priyanka Pradipta Putria yang selalu bisa menaklukkan hati siapapun hanya dengan ucapannya.



Kalau yang ini si kembar Anggara dan Anggia walau tidak terlalu identik satu hal yang sama persis. Kekonyolan dan keras kepalanya dalam berdebat dengan orang yang menurut mereka layak di debatkan. Tapi kebersamaan keduanya membuat setiap orang iri, termasuk sang suami Rohan.


Walau tahu kakak iparnya itu super iseng kepadanya yang senang membuat dia jengkel. Kelakuan Gara sama persis dengan Rakha hanya bedanya si korban saja. Gara sang adik ipar korbannya sedangkan Rakha sang papa.



Terakhir si sulung yang mulai jatuh cinta pada sang isteri. Hm, Dokter Zayyan yang tampan yang selalu di kejar-kejar oleh wanita tapi hanya dibalas dengan kedinginannya. 


Maaf jika foto para tokoh tidak sesuai dengan kemauan kalian, karena ini kan imajinasi diriku. hehehe..


Ah ya, satu lagi yang aku ingin sampaikan semua anak-anak keluarga Thamrin Pradipta jago bela diri ya. Tapi untuk kebaikan dan keadaan terdesak saja, bukan digunakan demi hal-hal yang tidak benar.

__ADS_1


Dan terakhir banget aku mohon like, komen, share dan votenya ya sayang. I love You So much.


Have fun reading.


__ADS_2