
Aku dan Kak Aryan masih menjelaskan ke Bunda, kalau kami hanya bercanda tadi. Tidak mungkin anak-anaknya akan bersikap buruk seperti orang lain.
Dilain sisi tiga lelaki yang kabur itu memisahkan diri di tangga. Suamiku memilih ke kamar kami, sedangkan Ayah dan Kak Bryan ke ruang kerja.
"Yah, kapan kita dengar suara anak bayi kalau mereka aja belum berhubungan intim." ujar kakakku yang sudah kepingin dengar suara bayi dirumah kami yang besar.
"Ayah ada satu cara. Tapi Ayah takut dosa." ujar Ayah ragu-ragu.
"Apa itu Yah?" kakakku mulai penasaran dan Ayah membisikkan ke putra keduanya. Kakakku hanya mengangguk-angguk.
***
Bunda pun sudah luluh dan mengijinkan aku pergi menyusul suamiku. Aku melangkah menuju kamar, sesampainya di kamar aku melihat Zeyden tengah berbaring di kasur. Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Kak, maafin aku ya. Belum bisa jadi isteri yang sempurna. Aku masih takut Kak, terlebih setelah kejadian pengkhianatan itu." bisikku ke telinga Zeyden yang tengah tidur.
"Andai waktu itu aku tak melihat Abian dan Siska sedang.." bisikku terpotong dan air mataku membasahi pipi.
Aku tak lagi bisa menjelaskan semuanya ke Zeyden. Aku mengusap rambut dan mencium pipinya. Tak terasa aku menaruh kepalaku di dadanya yang bidang. Seketika aku merasakan pinggangku ada yang memegang. Saat ku berusaha menatap Ke arah Zeyden, kepalaku di kecupnya.
__ADS_1
"Lupakan. Kita buka lembaran baru sama-sama ya. Aku tidak akan menyakiti kamu. Aku menyayangimu." Lirihnya dan aku memelukknya erat.
Aku sudah dzolim terhadap suamiku. Aku berdosa dan malu padanya. Tetapi Zeyden memaafkanku dan sabar menungguku. Ini manusia bukan ya? Kenapa dia baik banget. Andai saja aku bisa melupakan kejadian itu.
"Kita mulai dari hal kecil ya." ujarnya dan sebuah kecupan mendarat di bibirku.
"Kak Zey.." ujarku malu.
"Kenapa sayangnya aku?" ucapnya membuat pipiku makin panas.
"Ya Allah, ini ada apa ya sama suamiku tumben banget sikapnya semanis ini. Bikin orang malu aja deh. Suka sih diginiin tapi kan malu." batinku.
"Eh, isteriku malu ya?" ujarnya membuatku kaget dan mendongkakkan wajahku.
"Siapa bilang? Aku tuh.." potongku malu-malu karena suara perut tak bisa diajak kompromi dan membuaf suamiku tertawa.
***
Kami berdua pun turun ke ruang makan, disana hanya ada Ayah. Aku dan Kak Zey saling lempar pandangan. Kami heran tidak seperti biasanya rumah sesepi ini. Kami terus mendekati Ayah dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Yah, kok sepi rumahnya? Pada kemana?" tanyaku dengan mengambil piring dan menyendok nasi.
"Bunda sedang ke super market depan sama Aryan. Bryan ada urusan sama kliennya." ujar Ayah dengan santai.
"Ayah sudah makan?" tanya Kak Zey pada mertuanya karena piring depan Ayah masih tengkurap.
"Oh, belum. Habis tidak selera kalau makan tanpa Bunda." ujarnya membuatku menyendokkan nasi di piringnya.
"Sekarang makan sama kita ya, karena Iya mau makan bareng sama Ayah." ujarku dan Ayah menganggukkan kepalanya.
Kami menikmati makanan itu dengan damai, terkadang dua lelaki itu saling bercerita dan melupakan aku disana. Mereka membahas tentang politik sampai dunia bisnis. Aku malas mendengarnya dan hanya diam menikmati makan.
"Ka, besok kamu ada jam kuliah kah?" tanya suamiku membuat aku menggelengkan kepala.
"Bagus kalau gitu, besok kita ada meeting dengan Gibran." ujarnya membuat aku bertanya-tanya dalam hati.
"Zey, dia tuh lupa siapa Gibran!" seru Ayah yang seakan membaca pikiranku.
"Gibran itu WO kita sayang." ujarnya dn aku hanya membulatkan bibirku.
__ADS_1
Aku memang lupa siapa yang menghandle acara resepsi kami. Semua sudah diatur oleh suamiku. Aku hanya tahu kalau persiapan kami diatur oleh WO yang cukup berpengalaman. Tapi nama Gibran seakan akrab denganku.