Relung Langit

Relung Langit
Part 127


__ADS_3

Okay you guys I'm gonna sing


You this song right now


This is a kind of a sweet song


I sing it to my wife


Because she let's me talk about so many things


In front of you people


And she doesn't even get mad at me


She's pretty damn cool


So here we go...


I met you 20 years ago


And we talked all night


You drank me under the table


Yeah, it was love at first sight


I knew right then and there


I'd grow old with you


I said I'd tell you jokes whenever you are sad


Make you a mom, if you made me a dad


Oh, it's been so much fun


Growing old with you


Oh, oh


I love you


Foot rub you


Tell you you're the only one I'm thinking of


Make big decisions with you


Try new positions with you


Even sit and watch

__ADS_1


Fucking Eat Pray Love


Two times in a row


Now when I'm on a diet


You take away my potatoes…


Aku akhirnya menyumbangkan suara dengan mempersembahkan lagu dari Adam Sandler dengan judul Grow Old With You. Lagu tersebut juga pernah dinyanyikan kembali oleh boyband asal Irlandia yaitu Westlife. Selain pecinta lagu-lagu dari boyband itu, aku juga suka lagu dari negara Hindustan yakni India. Favoritku kini menjadi kesukaan orang-orang di rumahku, kalau kata mereka akulah racun lagu-lagu itu. Lagu dari negeri sendiri hanya suka lagu yang galau-galau aja, itu pun tertular kepada mereka.


Saat sedang asyik berkumpul tiba-tiba notifikasi dari e-mail masuk ke ponselku. Aku tkut penting maka segera ku raih ponsel dan menjauh dari mereka semua. Kami saling tahu jika memegang ponsel sebisa mungkin menjauh, agar tidak merusak suasana yang sedang indah. Aku melangkahkan kaki ke ruang tamu dan membuka e-mail tersebut ternyata dari Zayyan. Senyumku mendadak merekah dan hatiku sangat bahagia. Seketika aku membukanya, ternyata ungkapan hati yang dia curahkan kepadaku.


Dear My Mom.


Hai, Ma. Apa kabar? Zay, harap Mama selalu sehat dan bahagia, begitu juga dengan yang lainnya. Ma, Zay sangat merindukan kalian. Ma, sedang apa kalian sekarang? Zay, baru saja pulang menemani Vika jalan-jalan. Aku menyerah deh ngadepin anak itu, selalu saja membantah ucapan Daddy dan Mommy disini. Aku jadi kangen adik-adikku yang nurut.


Ma, andai jarak London dan Indonesia sedekat urat nadi. Maka aku segera meluncur dan menyapa. Jika waktu dapat berhenti aku ingin kemarin tak kan pernah bergerak maju. Sesal? Tidak ada sesal tertinggal, hanya harapan yang membasi. Hanya cinta berlebih yang kurindu.


Ma, jika aku memiliki sayap, segera terbang membawamu disampingku. Rasa rindu ini sangat menyesakkan. Aku tak bisa membuangnya atau menyimpannya. Aku rindu setiap detik bersama kalian. Aku rindu Papa, guru, sahabat dan teladanku dalam kehidupan ini. Kasih kalian begitu tulus dan tak ada kata kasar yang terlontar dari kalian.


Aish, kok Zay jadi mellow gini ya! Salam buat adik-adik dan Papa ya, Ma. Salam penuh cinta dan kerinduan dari si putra mahkota keluarga Thamrin Pradipta. Mama tahu nggak kalau Daddy disini sangat kurus, katanya dia begitu karena terlalu lama menahan rindu pada princess-nya. Ia ingin pulang ke Indonesia, sayangnya nggak bisa karena perusahaan di sini selalu saja banyak yang berbuat ulah. Kasihan Daddy aku, Ma. Aku mau minta ijin sama Papa dan Mama, jika berkenan, bolehkah Zay membantu Daddy di perusahaan? Tenang, Ma. Kuliah Zay tidak akan terlantar. Zay tunggu keputusan Mama dan Papa. Bye, Ma. I miss you so much and I love you forever my mom.


Regards Your Son.


Zayyan.


Air mataku mengalir deras membasahi pipi. Kusapu jejaknya langsung kembali bergabung kepada keluargaku yang lain. Sesampainya di ruang keluarga aku langsung memeluk Zeyden yang sedang bercanda dengan anak-anak. Mereka sedang melakukan tebak-tebakan judul lagu. Tanpa bertanya Zeyden hanya menoleh sesaat dan kembali bercanda. Saat suamiku kembali melempar pertanyaan kepada putra-putrinya aku makin mengeratkan pelukan dan itu membuatnya menatapku sambil membalas pelukanku.


“Sudah puas dengan tangisannya?” ucapnya membuat aku mengangukinya dan dia tersenyum.


“Mau cerita sekarang atau nanti?” tanyanya dengan pelan-pelan tanpa menghakimiku.


Aku yang tak bersuara langsung menyodorkan ponselku. Sebelum ke sarahkan kepadanya, lebih dulu aku buka e-mail yang tadi kubaca. Dia menerima ponselku dengan senyuman manisnya dan mengecup keningku lama. Tidak berhenti disana dia pun memelukku dengan sangat erat. Ternyata ia pun menangis dalam pelukanku setelah membacanya.


“Ish, kekasih halalku bisa menangis juga ya!” ledekku di telinganya dan dia menjauhkan tubuhku lalu menatapku tajam.


“Ih, menatap aku gitu banget sih Kak? Bikin gemes deh. Eh salah, makin cinta aja aku padamu.” godaku kembali memanggilnya kakak. Panggilan sayang yang awal pernikahan itu yang dipakai.


Seketika dia menggelitikku dan membuat aku tertawa terbahak-bahak sambil meminta ampun. Aku bisa melihatnya kembali tertawa adalah hal yang sangat menakjubkan. Selepas menangis biasanya dia lama untuk tersenyum tapi tidak kali ini. Suamiku langsung mengambil onselku dan mendial panggilan lewat video kepada si sulung.


“Assalamualaikum, Pa!” salam sulungku di seberang telepon dengan wajah bantalnya.


“Waalaikumsalam, lagi tidur ya sayang?” sahut Zeyden dengan wajah bersalahnya.


“Nggak kok, Pa. Aku hanya ketiduran aja tadi. Tapi makasih ya, Pa. Aku jadi bangun!” jelasnya dengan wajah manisnya.


“Papa aja nih yang disapa?” ucapku dengan wajah merajuk.


“Maaf, Ma. Aku nggak tahu ada Mama juga.” mohonnya dengan wajah memelas dan aku langsung merasa bersalah membuat wajahnya memelas.


“Nggak, sayang. Mama hanya bercanda. Gimana kabar kamu? Apa bahagia disana?” ucapku dengan wajah yang sudah tersenyum kembali.

__ADS_1


“Zay, bahagia dan sehat, Ma. Oh iya, Ma. Bagaimana jawaban dari permintaanku lewat e-mail? Segera dia membahas permintaan yang ingin bekerja membantu Kak Aryan. Aku sebenarnya tidak setuju, tapi aku juga tak bisa menolaknya. Maka dari itu aku dan Zeyden saling menatap dan memberi isyarat siapa yang akan menjawabnya. Karena itu hanya lewat tatapan kami bisa mengetahui jawaban apa yang akan kami berikan.


“Kami setuju, sayang. Tapi janji ya, nilai-nilai kamu tidak boleh turun.” ucap Zeyden yang tak ingin nilai akademis sang putra turun, walaupun dia tidak memaksakannya.


“Makasih Pa, Ma. Zay janji, I love you forever my lifes.”ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Curahan hati tak lupa dia ungkapkan dan cerita setiap detiknya dia ngapain aja disana. Keluhannya tentang sang sepupu membuat dia kewalahan, tetapi hanya dia yang bisa membawa sepupunya itu kembali. Pergaulan bebas yang diikuti sang sepupu membuatnya sangat takut. Bila ia lalai dalam melaksanakan keinginan sang Daddy, untuk putrinya kembali. Tak berapa lama sulungku pamit untuk melanjutkan tugasnya dan kami menganggukinya. Segera kami kembali ke kamar untuk istirahat.


***


Grup Keluarga PP


Mr. A


Princess, kamu yakin Zayyan untuk terjun ke perusahaan?


Priyanka Pradipta Putria


Zeyden yang memberi keputusan Kak. Kami juga yakin dia bisa membantu kakak, jadi kakak nggak perlu terlalu capek.


Mr. A


Aku rasanya nggak rela putraku terjun diusia semuda ini.


Mr. B


Hah! Jangan gila deh kalian berdua, Princess. Zayyan masih kecil, jangan dibebani dengan hal seperti ini.


Priyanka Pradipta Putria


Dia akan ngamuk jika Kak Bi, bicara kayak gini loh!


Percakapan pagi hati di aplikasi grup keluarga yang hanya ada kami bertiga. Aku tahu keberatan mereka berdua karena cinta pada putraku itu. Tapi apa dayaku, ini juga demi kebaikan kakakku sendiri terlebih bila kutolak dia akan tetap melakukannya. Anak-anakku itu sangat lembut jadi akan berlaku apappun demi kebahagiaan anakku.


Zeyden paling tidak bisa melihat orang terkasihnya. Sama seperti adik-adiknya yang sifatnya menurun dari sang papa. Aku yang akhirnya menjelaskan lewat panggilan telepon kepada Kak Aryan, akhirnya dia mengerti akan keputusan yang kami ambil adalah demi kebaikan. Kak Aryan tak lagi mempermasalahkannya kini, dia akan berusaha mendidik Zayyan menjadi penerus yang handal.


Setelah panggilan telepon itu usai aku langsung bersiap diri menjadi ibu rumah tangga. Hari ini aku tidak ke kantor, jadi bisa antar jemput anak-anak. Zeyden hari ini akan lembur karena ada operasi dadakan yang akan dia tangani nanti malam. Mau tidak mau aku ijinkan demi keselamatan nyawa orang lain. Gia akan menemani malamku setiap Zeyden lembur. Itulah waktu yang selalu ditunggu oleh putriku. Ia memang jarang bisa quality time denganku, bila sang papa ada disampingku.


***


“Yeah, Papa lembur. Aku bisa bobo sama Mama.” girang putriku dengan memelukku.


“Ish, Kak Gia seneng deh bisa manja-manjaan sama Mama. Ade juga mau.” Pinta si bungsu yang memang tidak lagi bisa menikmati waktu berdua denganku.


“Ade sudah besar tidak bisa sama Mama terus!” ucap Gia tegas dan hal itu membuat sang adik merajuk.


“Ma, nanti malam Gia mau curhat!” serunya dengan bangga.


“Oke, sekarang kita berangkat dulu ya sayang-sayangnya mama!” seruku sambil memacu mobil dan kali ini aku mengantarkan si bungsu lebih dahulu.


Aku mengantarkan si bungsu sampai di depan gerbang dengan selamat. Setelah melihatnya masuk ke dalam sekolah hingga tak terlihat punggungnya maka baru aku meluncur kembali ke sekolah si kembar. Sejak Gia bilang ingin curhat, rasanya ada hal yang membuat aku ingin segera malam tiba. Tak sabar mendengar semua keluhannya. Aku takut jika hal itu tentang sekolahnya, karena bila itu benar, sulit untuk aku diam saja tanpa memberitahu Zeyden.

__ADS_1


vote, share, like and comment jangan lupa ya kesayangan aku.. 😘😘😘


__ADS_2