
Chiara yang sedang berada di dapur bersama Aleta langsung memeluk sang kakak ipar. Dia bahagia bisa berada di keluarga yang sangat harmonis dan juga penuh cinta. Wanita berhijab itu beruntung berada di lingkungan yang baik seperti saat ini ia berada.
"Kenapa, Dek?' tanya Aleta dengan lembut sambil mengusap punggung tangan sang ipar.
"Kak Leta selama menjadi menantu di sini pernah menyesal nggak?" pertanyaan yang membuat Aleta merenggangkan pelukan Chiara dan menatap sang ipar dengan intens.
"Kenapa kamu nanya kayak gitu?" tanya Aleta balik dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Boleh kakak jawab dulu pertanyaan aku," pinta Chiara dengan mata seolah memohon.
__ADS_1
"Sama sekali tidak pernah. Karena orang pertama yang menerima dan meminta Zayyan menikahi kakak adalah mama. Dia menerima kehadiran kakak juga Banyu, di luar sana belum tentu aku bisa menemukan mertua sebaik mama. Kita beruntung bisa berada dan menjadi bagian dari mereka. Opa, Daddy Ar, Daddy Bi juga para Mommy sangat baik padaku. Mereka tidak pernah membedakan cintanya untuk anak-anak mereka dengan menantu mereka. Tetapi jangan pernah sakiti hati mereka, atau mereka akan bertindak lebih menyakitkan dari kita. Walau salah satu dari mereka marah masih ada yang menenangkannya. Hingga tak akan pernah keluarga ini membiarkan keluarganya buruk. Jadi kamu nggak usah takut ya." jelas Aleta panjang lebar.
Aleta mengajak Chiara duduk di kursi, dia masih menatap sang ipar dengan wajah yang tampak masih penasaran. Wanita cantik itu hanya tersenyum melihat ipar yang sudah seperti adiknya sendiri itu walau masih terbilang baru.
"Apa yang kamu pikirkan, Dek?" tanya Aleta dengan lembutnya.
"Kak, jujur aku dosa banget kayaknya. Nolak permintaan suamiku," ucapan Chiara terjeda membuat Aleta salah paham.
"Tunggu, Kak. Bukan urusan ranjang!" seru Chiara yang langsung paham maksud sang kakak ipar, dan Aleta yang malu langsung menutup wajahnya.
__ADS_1
"Kak, Mas Gara pernah mengajak aku pindah ke apartemennya untuk tinggal berdua. Hanya saja aku menolaknya karena tidak ingin jauh dari kedua orang tuaku. Waktu itu mama menasihatiku atas persetujuan Mas Gara. Aku malu sama mama sampai ditegur begitu. Aku juga berdosa karena menolak tujuan baik suamiku." lirih Chiara dengan menundukkan kepalanya.
"Kamu tahu, mama pernah berkorban dalam pernikahanku dan juga Mas Zayyan. Dulu aku sangat cemburu ketika suamiku masih bermanja ria dengan mama. Demi menjaga keutuhan keluarga kecil kami mama rela menjauhi Zayyan demi aku. Awalnya Mas Zayyan biasa saja terkesan cuek tapi lama-kelamaan sejak tahu bahwa cintanya untukku, mama dan adik-adiknya itu memiliki tempat tersendiri walau takarannya sama. Aku pun sampai meminta maaf pada mama dan saat itu juga suamiku bisa tersenyum ceria. Sejak itu pula aku belajar memahami keluarga ini, dan seperti yang kamu lihat sekarang tak ada kemunafikan di dalamnya. Kamu dan aku saja di sejajarkan dengan Gia juga Amara. Jadi, apapun keputusanmu tetaplah ikuti suamimu selama itu baik." jelas Aleta yang seketika membuat Chiara menitikkan air matanya.
"Kakak tahu aku pikir mama mertua yang kayak raya pasti akan selalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Apalagi saat mama memanggilku dan mengatakan tujuannya itu. Sungguh saat itu aku berpikir negatif, tapi ternyata tujuan mama baik hanya ingin rumah tangga anak-anak aman. Kak, apa dulu mama juga pernah berdua saja hidup dengan papa?" semua rasa dalam hati wanita berhijab itu di keluarkan kepada kakak iparnya.
"Yang kakak tahu, jauh sebelum menikah dengan papa mama sudah hidup sendiri di rumah yang sangat sederhana di komplek dekat dengan perkampungan. Bahkan tak ada seorang pun yang tahu jati dirinya yang asli.Termasuk Om Bian yang merupakan mantan kekasih mama yang telah menyakitinya. Perjalanan hidup mama itu penuh dengan drama, itu yang selalu kakak dengar dari candaan Daddy dan juga Mas Zayyan," jelas Aleta dan diangguki oleh Chiara.
Pembicaraan keduanya terus mengalir begitu saja membahas perihal sang mama mertua yang dirasa sangat istimewa dan berarti buat mereka semua. Aleta juga menceritakan betapa antusiasnya Priyanka saat mengetahui Gara menyukai wanita cantik di depannya kini. Sang mama mertualah yang meminta kepada anak-anaknya untuk membuat lamaran kepada keluarga Chiara. Awalnya Priyanka ingin mengetahui sendiri seluk beluk sang calon menantunya itu, tapi apa boleh buat rasa percaya kepada anak-anaknya jauh lebih tinggi dari rasa penasarannya.
__ADS_1
Aleta tanpa segan membagikan gambaran umum sang mama mertuanya itu. Hal-hal positif yang pernah ia rasakan selama menjadi menantunya. Bahkan hal negatif dalam diri wanita cantik itu tak bisa tergambarkan karena selama mengenalnya tak ada celah untuk itu. Aleta hanya tahu jika kehidupan sang mama mertuanya tidaklah semulus kisah cinta anak-anaknya. Priyanka dan Zeyden tidak melarang anak-anak mereka pacaran, hanya saja pengetahuan dasar agama yang ditanamkan sejak dini itulah yang membuat anak-anaknya paham. Sehingga untuk melanggarnya saja mereka takut.
Pendidikan agama itu mampu menjadikan anak-anak mereka yang dermawan, sederhana dan juga penuh cinta. Walaupun mereka terlihat dingin dan jutek saat diam tak bersuara. Tetapi jika tersenyum seakan dunia luluh lantah dibuatnya. Siapapun wanita yang melihatnya akan sangat bahagia dengan senyuman itu. Selama satu tahun hanya beberapa kali karyawan di tempat kerja anak-anak Zeyden bisa melihat senyuman dari bosnya. Itu hanya ketika keluarganya datang saja, selebihnya jangan harap.