Relung Langit

Relung Langit
Part 79


__ADS_3

Satu tahun enam bulan setelah kejadian itu. Keluarga kami makin akrab, hanya saja sejak lamaran itu Anyelir dan Kak Bryan malah jarang komunikasi karena kesibukan mereka. Padahal dua bulan lagi rencana pernikahannya. Terkadang Anyelir mengeluh capek menghadapi kakakku itu, tapi rasa cintanya yang besar mengalahkan segalanya.


Kak Aryan terkadang turun tangan mengurus semua persiapan pernikahan adiknya itu. Mulai dekorasi sampai baju pengantin, bahkan dia juga sudah memesan paket liburan honeymoon buat adik tersayangnya. Aku melanjutkan kuliah jadi tidak bisa penuh membantu Kak Aryan, Zayyan dijagain sama Bunda. Sekarang Zayyan sudah jauh lebih aktif, terkadang kami semua kewalahan.


Wedding Organizer yang dipakai masih milik Gibran. Tapi bukan dia langsung yang handle sekarang, lagi pula Gibran sudah tinggal di luar negeri dan tidak kembali lagi. Walau terkadang kami masih sekedar sapa di sosmed. Ya, hubungan kami sudah lebih baik sekarang. Terkadang aku sedih saat Kak Aryan lebih memilih mengurus acara pernikahan Kak Bryan dengan Anyelir, entah apa yang ada dalam pikiran dan hatinya.


Setelah acara lamaran hari itu aku melihat dn mendengar kedua kakakku ngobrol berdua dengan wajah tegang.


Flash Back On


"Kak, lo baik-baik aja kan!" seru Kak Bryan dengan mata sendunya.


"Gue baik-baik aja. Nggak usah sedih gitu ah. Gue ikhlas Bi. Walau mungkin susah diawal tapi gue ikut bahagia saat ade-ade gue bahagia." ujar Kak Aryan sambil menepuk bahu kembarannya.


"Gue yakin lo akan segera dapat seseorang yang lebih baik dari dia. Lo orang baik Kak, pasti dapat yang jauh lebih baik dari lo."ujar Kak Bryan sambil memeluk kakak satu-satunya itu.


Flash Back Off


Ya, hari itu aku lihat wajah sedih dari Kak Aryan. Aku tahu kakak sulungku itu tak kan menampakkan wajah sedihnya. Selama ini dia berusaha move on, puluhan gadis di perusahaannya tak mampu menaklukkan hatinya.


Aku yang kadang sakit hati melihat Kak Aryan kecapekan hanya untuk mengurus keperluan pernikahan adiknya. Hari ini aku sedih saat mendengar dari Zoan yang sekarang merupakan sekretaris pribadi Kak Aryan. Kak Aryan sempat demam karena terlalu lelah.


***


"Sayang, hari ini bolehkah aku membantu Kak Aryan?" tanyaku ada suamiku melalui ponsel.

__ADS_1


"Ya boleh dong sayang. Apa perlu aku bantu juga?" sahut suamiku dengan nada lembutnya.


"Iya dong sayang. Kita sama-sama berikan yang terbaik buat Kak Bryan dan Anyelir ya." ucapku dengan nada bahagia.


"Kita ketemu orang WO atau mau langsung ke hotelnya sayang?" tanya Zeyden.


"Kamu jemput aku di kampus, nanti kita janjian dulu sama Kak Ar dan Zoan. Gimana menurut kamu sayang?" usulku.


"Baiklah, sekarang aku siap-siap melunvur ke kampus kamu ya. Kamu tunggu aku di parkiran ya nanti. See you honey." ujar Zeyden sebelum mematikan teleponnya.


Sambil menunggu Zeyden hadir aku sudah menghubungi Zoan untuk ketemu di restoran hotel acara. Aku tahu Kak Aryan pasti tidak suka aku bantu. Tapi aku juga tidak mau dia sakit, selama ini Kak Aryan salah satu lelakiku yang jarang sakit. Jika kali ini di porsil tenaganya seperti saat ini mungkin banget dia akan ambruk.


***


Aku yang menggandeng tangan Zeyden berjalan menuju restoran. Setiap staff hotel menyapaku tapi sebagian lagi tidak karena tidak tahu kalau aku anak pemilik hotel ini. Itu malah lebih baik bagiku. Sampai di restoran aku melihat orang-orang yang telah menunggu.


"Maaf Kak telat, udah nunggu lama ya." ucapku sambil mencium punggung tangan kakakku dan juga pipinya.


"Nggak kok De." ujarnya sambil membalas ciuman pipiku.


"Kalian sudah makan?" tanyanya sambil menatap ke arah aku dan Zeyden.


"Belum Kak." sahut kami sambil duduk.


"Zo, pesankan mereka makanan." titah pangeran pertamaku dan membuat kami semua tersenyum.

__ADS_1


"De, Gibran mau langsung turun tangan handle acara ini. Kalian berdua nggak apa-apa kan?" tanya Kak Aryan dengan sedikit ragu-ragu.


"Dia hanya merasa bersalah waktu acara kalian dulu. Makanya saat tahu ini acara Bryan dia mau handle langsung dan berikan yang terbaik." jelas kakakku.


Aku tidak masalah sebenarnya karena kami sudah menyelesaikan masalah kami. Hanya saja aku khawatir dengan Zeyden. Wajah suamiku saat mendengar nama Gibran langsung berubah dingin dan datar. Aku tahu mungkin dia masih khawatir tentang kami berdua.


"Nggak usah takut gitu Zey, gue sama Princess sudah kelar. Urusan kami sudah selesai, kami hanya bersahabat saat ini. Lo satu-satunya yang ada dalam hati dan hidupnya, jadi jangan sia-siakan dia. Apalagi ada ada pikiran lo buat nyakitiin dia, lo harus ingat kalo mau nyakitiin dia, gue orang pertama yang bakal maju buat bikin lo habis." ujar Gibran yang muncul dari arah belakang aku dan Zeyden.


"Hai, Bran. Apa kabar?" tanyaku sambil cipika cipiki.


"Baik. Mana baby Zayyan? Gue mau ketemu, masa cuma lihat videonya aja." ucap Gibran membuat Zeyden menatapku.


"Tenang sayang, dia lihat video Zayyan di sosmed aku. Aku sama dia udah selesai, lagi pula dia lagi mengejar seorang wanita disana." jelasku pada Zeyden dan dia membuat aku takut.


"Gue minta maaf kalo waktu itu udah buat lo sakit hati sampai saat ini masih curiga sama gue. Gue tahu waktu itu gue benar-benar khilaf. Mau kan lo maafin gue?" ujar Gibran sambil mengulurkan tangannya.


"Gue juga minta maaf ya sudah mikir lo mau ngambil istri gue lagi. Gue nggak bisa kehilangan dia sekarang, dan nggak akan gue sakitin dia. Sebelum lo habisin gue, gue udh bonyok duluan kali sama dua pangeran keluarga Pradipta." jelas Zeyden membalas uluran tangan Gibran.


Aku dan Kak Aryan tersenyum karena semua benar-benar sudah kelar. Setelah sukses membicarakan konsep sampai hal detail lainnya untuk acara kakakku. Kami berbincang masalah lain, aku disana merasa sendirian. Karena semuanya asyik membicarakan kerjaan mereka, aku hanya jadi pendengar.


Aku makin kaget saat melihat Zeyden dan Gibran sangat akrab, seperti sahabat yang lama tak bertemu. Zeyden memang orang yang baik dan supel jadi gampang buat dekat dengan orang. Hanya saja kali ini pemandangannya membuatku kehabisan kata-kata. Dulu musuh sekarang bersahabat, semoga selamanya seperti ini.


"Bran, mampirlah kerumah gue, kalo mau ketemu baby Zayyan mah. Karena nyonya ini nggak akan bawa Zayyan keluar tanpa gue." ujar Zeyden kepada Gibran sambil melirik ke arahku.


"Insya Allah besok gue mampir ya. Boleh kan Ka?" sahut Gibran menatap ke arahku dan aku mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


__ADS_2