
Pagi nan cerah membuat seorang wanita yang tertidur diatas bangkar merenggangkan otot-ototnya. Matanya terbelalak saat melihat sekelilingnya berwarna putih. Ini bukan kamarnya, ruangan yang kecil membuatnya makin bertanya-tanya. Tak berapa lama dua sosok yang sangat akrab dengannya masuk ke dalam ruangan itu. Tatapan penuh pertanyaan menghujam dua sosok yang kini berada di depannya.
“Pa, I’m okay. Ini terlalu berlebihan!” gerutu gadis itu sambil bangkit dari tempat tidur.
“Pelan-pelan!” seru lelaki berjas putih dengan nada penuh khawatir.
“Pa, Gia tidak sakit. Jadi jangan berlebihan oke.” sahutnya dengan nada kesal.
“Luka memarmu di perut bagaimana?” ucap lelaki itu dengan tatapan nanarnya.
“Gia, masih bisa tangani, Pa. Jika papa sudah lakukan semua pemeriksaan maka simpan dan jangan laporkan mereka. Kehidupan mereka lebih sulit dari kita, Pa. Plis, jangan persulit mereka lagi.” Sahut Gia dengan penuh ketulusan dan tak ingin orang yang membully-nya sengsara.
“Tapi, sayang..” ucapan Zeyden terpotong oleh Gia.
“Pa, Ma. Plis banget, biarkan Gia selesaikan masalah ini sendiri. Gia janji tidak akan terluka lagi, jika mereka ingin melukai Gia lagi, maka dengan tangan ini mereka akan merasakan kemarahan Gia. Tapi simpan semua bukti dan jangan laporkan mereka ya, Gia mohon.” Pinta putri kami dengan tatapan memelas.
Aku dan Zeyden menganggukinya. Semua hasil pemeriksaan, visum dan laboratorium di simpan di tempat yang aman oleh Zeyden. Bahkan salinannya sudah di serahkan kepada pengacara keluarga kami untuk jaga-jaga. Ayah dan Kak Bryan pun menunda pelaporan yang sudah sempat di laporakannya.
Kami semua akhirnya pulang ke rumah dan di meja makan Gara juga Rakha sudah siap berangkat sekolah. Mereka menatap kami dengan tatapan yang bingung. Tapi kami hanya tersenyum, Gia langsung pamit ke kamarnya untuk bersiap-siap ke sekolah. Aku langsung duduk di samping Zeyden yang sudah lebih dulu menghampiri kedua putranya. Kakak beradik itu masih menatap ke arahku dengang tatapan minta penjelasan. Tanpa kupinta, suamiku tersayang langsung menjelaskan semua kejadian itu pada kedua putra kami. Mereka tampak kaget mendengar penuturan sang ayah mengenai yang terjadi kepada saudarinya.
“Pa, Ma. Maaf Gara nggak bisa jagain Gia. Maaf!!” lirihnya dengan tatapan tidak mengenakkan.
“Bukan, salah siapapun Kak!” sahut Gia setelah selesai bersiap dan kini melangkah menuju meja makan.
Gara dan Rakha langsung lari memeluk Gia dengan penuh cinta. Kami selaku orang tuanya hanya mampu tersenyum melihat anak-anaknya. Merekapun kembali duduk dan menyantap makanan yang sudah tersedia di meja makan. Kami melupakan kejadian itu dan akan membuka lembaran baru.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Mereka berempat segera berangkat sekolah, Hari ini Zeyden ingin mengantar dan menjemput anak-anaknya setelah kejadian Gia. Dia masih takut hal buruk terjadi kepada putri satu-satunya itu.
“Gara tidak lagi mau menutupi diri Gara lagi, Pa!” ucap putra keduaku sambil melepas aksesoris di wajahnya yang menampilkan buruk rupa kini berubah menjadi sangat menawan.
“Kak!” seru Gia seakan menginterupsi semua tindakan sang kakak.
“Lebih baik kakak dikejar-kejar wartawan dari pada lihat kamu disakitin. Kakak hanya mau keselamatan kamu!” seru Gara saat mereka sudah di dalam mobil dan Zeyden hanya tersenyum.
Mobil berwarna merah itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota yang super bikin orang stress. Keempat orang itu asyik menikmati perjalanan sambil menyetor hafalan mereka pada sang papa. Mereka saling mendengarkan kesalahan satu sama lain, bahkan saling mengkoreksinya. Terkadang sang papa memberikan nasihat kepada mereka mengenai ilmu agama, apapun itu. Walau bukan masalah yang berat, atau terkadang saling membahas masalah politik di negara ini. Tujuan Zeyden hanya ingin tahu seberapa jauh pemahaman mereka terhadap negara mereka tercinta.
Setelah Rakha diantar ke sekolah lebih dulu, kini si kembar sudah tiba di gerbang sekolahannya. Kali ini Zeyden mengantar si kembar sampai lapangan parkir. Setelah mencium tangan sang papa keduanya keluar dari mobil dan berlalu menuju kelas masing-masing. Zeyden tidak berhenti disana. Dia masih mengumpulkan bukti ke koperasi dan guru piket. Kemarin Gia sempat ijin ke sana dan membeli seragam.
Sesampai di dua tempat itu, dengan pertanyaan yang sama. Apa benar kemarin ada siswi dengan tampang buruk meminta ijin ke koperasi dan membeli baju disana karena bajunya basah. Sesuai dengan fakta yang ada jawaban itu pun dibenarkan, tak lupa ucapan itu sudah direkam oleh Zeyden. Dia melakukan itu hanya untuk bahan tambahan buktinya. Sosok seorang ayah yang super protektif terhadap anak putri satu-satunya, sangat geram mendapati kabar kebenaran akan kejadian itu. Namun, dia tidak bisa bertindak lebih karena sudah berjanji pada sang putri. Selesai dengan tujuannya Zeyden langsung kembali ke rumah.
***
Penampilan baru Gara membuat semua mata perempuan di sekolah itu langsung menjadikan idola bersanding dengan Rohan dan Arjuna. Anggara bukanlah pria yang gila akan popularitas, tujuan dia mengembalikan penampilannya, hanya karena untuk membalas perlakuan orang-orang yang menyakiti kembarannya. Walau penampilannya berubah tidak mengubah sikap cuek dan dinginnya.
Pangeran es itulah kini julukan Gara di sekolah. Ia tak kan menggubris wanita manapun, sampai banyak gosip yang mengatakan dia penyuka sesama jenis. Gara tidak peduli sama sekali dengan gosip itu. Arjuna pun ikut-ikutan dalam misi pencarian pembully Gia. Dia sangat geram sama hal berbau kekerasan. Kekerasan bukanlah menyelesaikan masalah malah mempersulit masalah itu.
Hari ini Gia, Gara dan Juna menuju kantin bersamaan, tak berapa lama Rohan ikut bergabung. Keempat orang itu mendapat julukan ‘The Charming and The Beast’. Bagaimana tidak mendapat julukan itu Gia masih dengan samarannya. Orang-orang yang selalu menyakiti Gia tak memiliki kesempatan sedikitpun untuk mendekatinya. Apapun yang Gia lakukan tak jauh dari pantauan ketiga lelaki ini. Rohan memiliki perasaan pada Gia, hanya saja gadis cantik itu masih enggan mempunyai hubungan di masa sekolahnya. Ia ingin sukses dengan predikat terbaik seperti kakak sulungnya.
__ADS_1
Sepulang sekolah Gia menunggu sang kakak di dekat tangga. Kebetulan kelas Gara memang dekat dengan tangga, Rohan sudah ijin pulang lebih dulu karena ada urusan lain. Kini hanya tinggal Gia seorang diri dan duduk di tangga yang sepi sambil memainkan ponselnya. Saat dia sedang mengaca pada kamera ponselnya segerombol wanita hendak mencelakainya lagi. Saat sudah dekat dan ingin mendorongnya seketika Gia menggeser badannya. Tanpa dia sadari atraksi tadi terekam kamera yang dipakainya untuk mengaca.
Wanita itu jatuh nyungsep dan terguling di tangga. Teman-temannya histeris dan memfitnah Gia. Gia hanya diam tak bergeming, sampai kakaknya datang dan menggelengkan kepalanya. Gara langsung memeluk Gia dengan perasaan penuh khawatir. Juna langsung membopong badan Shanti, wanita yang berusaha mendorong saudarinya dan melarikannya ke rumah sakit terdekat. Secepat mungkin untuk bisa di tolong dan rekan-rekan Shanti langsung menghubungi orang tua temannya itu.
Saat di rumah sakit, semua tampak cemas. Begitu juga dengan Arjuna dan Gara, dia takut sang adik menjadi tersangka. Sebuah tamparan mendarat di pipi Gia dan membuat gigi palsunya terpental. Tamparan itu dilakukan oleh rekan dekatnya Shanti, dia geram dan menuduh Gia sengaja. Gia hanya mengelap bibirnya yang mengeluarkan darah dan mengelus pipi yang di tamparnya.
“Kak! Foto Ade dong!” pinta Gia kepada Arjuna yang tampak geram melihat perlakuan wanita itu pada sang adik, bukan hanya itu permintaan konyol Gia membuatnya membelalakkan matanya.
“Yakin!” serunya sambil mengangguki kepalanya. Arjuna langsung memotret wajah Gia yang masih mengeluarkan darah dari bibirnya walau sudah dilap berkali-kali.
“Obatin ya, De!” seru kedua lelaki itu dengan wajah cemasnya, namun Gia menggelengkan kepalanya.
“Ade?” tanya mereka semua kompak dengan nada penasaran.
“Kenapa? Dia adik saya!” jelas Gara membuat mereka semua kaget luar biasa.
“Kak, jangan bongkar semuanya. Biarkan permainan ini terus berlanjut ya!” seru Gia dengan senyuman penuh kelicikannya.
Tak berapa lama sepasang suami isteri paruh baya dengan pakaian berjas menghampiri ruangan UGD. Di depan ruangan itu banyak orang yang dengan panik menunggu kabar wanita yang masih dalam penanganan dokter itu. Lagi-lagi dan lagi wanita cantik itu mendapat tamparan bertubi-tubi, tanpa balasan. Saat wanita paruh baya itu hendak menampar Gia kembali, tangannya ditahan oleh Gara yang sudah emosi. Wajahnya sangat merah dan begitu juga dengan Arjuna.
“Jangan pukul lagi, atau anda akan menyesal.” ancam Gara pada sepasang suami isteri itu, dia sudah melupakan rasa hormatnya saat melihat sang adik yang terus menerus dipukulinya itu.
“Hah! Anak kemarin sore sudah mengancam kami!” celetuk wanita paruh baya itu berusaha melepaskan genggaman tangan Gara.
“Anda akan menyesal melakukan hal ini pada saya, Nyonya!” seru Gia pada wanita itu dan langsung menelpon sang papa untuk segera datang ke rumah sakit cabang di dekat sekolahnya.
Aku, Zeyden dan Kak Bryan mendatangi rumah sakit milik suamiku. Perjalanan kami lebih lama, tanpa di duga Ayah ada di rumah sakit itu habis menjenguk kolega kami. Ayah menghampiri ketiga cucunya dan sebelum menyapa cucu-cucunya. Dia lebih dulu di sambut oleh sepasang suami isteri itu dengan ramah. Kakek itu mendengarkan penuturan suami isteri itu dengan menghina dan menjelek-jelekkan cucu perempuan kesayangannya. Dia sudah mengepalkan tangannya, karena kesal dia langsung menelpon seseorang.
“Saya akan tunggu di sini sampai awak media tiba!” seru lelaki hebat itu dan mendapati anggukan dari yang ada disana selain cucunya.
“Hufh, pasrahlah aku.” Gumam Gia yang mampu terdengar oleh Gara.
Sang kakak hanya menatap adik kembarnya dengan tatapan tak percaya. Saat Gara menatap Gia ada kesan yang tersirat bahwa kedua orang tua di hadapannya akan dalam bahaya. Begitu juga dengan teman-teman sekolahnya. Nasib orang tua mereka berada diujung tanduk, itulah hal yang paling Gia takuti selama ini untuk diam jika di sakiti.
Akhirnya ketiga orang yang ditunggu-tunggu pun tiba, bukan hanya tiga orang tapi lebih. Zeyden menyuruh satpam membawa para wartawan ke aula, sedangkan dia menuju tempat sang anak berada. Di depan UGD, dia langsung mencium tangan Ayah dan berbisik semua sudah siap di aula. Ayahku membawa kami semua ke aula dan tak lupa Zeyden menyuruh pengacara kami datang juga.
“Ma, fatal sudah. Kejadian ini aku mau tidak mau membuka topengku.” Ucap Gia dengan sedihnya.
Zeyden yang langsung masuk ke ruang UGD untuk mengetahui keadaan Shanti. Dimana mereka semua menyalahkan Gia telah mendorongnya hingga seperti sekarang ini. Sang papa langsung turun tangan untuk menangani kasus anaknya kali ini. Dia tidak mau ada hal buruk yang membuat anak kesayangannya sengsara. Sekitar satu jam akhirnya suamiku keluar dengan tatapan yang datar.
“Dia selamat, hanya masih belum sadarkan diri!” seru Zeyden kepada kami semua.
Gia terlihat lega tapi ada sesuatu yang tidak bisa diartikan dari raut wajahnya. Aku paham ada banyak hal yang sedang dia pikirkan, jika beberapa saat lagi ayahku akan membahas semua masalah yang ada. Anak perempuanku sangat sensitive perasaannya walau dia terlihat cuek dan angkuh. Pada dasarnya anak-anakku semuanya memiliki hati yang sangat lembut.
Kami semua menuju aula karena permintaan Ayah setelah mengetahui keadaan Shanti. Gara dengan senang hati merangkul sang adik sambil terus menenangkannya. Dia meyakinkan sang adik bahwa semua yang terjadi adalah kehendak sang pencipta. Senyuman manis Gara mampu membuat sedikit senyuman di wajah adiknya itu.
“Jangan sedih gitu, ah. Nanti cantiknya hilang loh!” gurau sang kakak kepada adiknya yang masih dalam rangkulannya.
__ADS_1
“Kak, apa topeng ade harus di buka hari ini juga? Ade belum siap, Kak!” ucap Anggia dengan wajah lesunya. Namun, sang kakak hanya tersenyum sambil mengelus punggung sang adik dan dia juga mengecup puncak kepala sang adik.
“Are you okay, Honey?” tanyaku dengan senyuman untuk bisa menenangkan putriku tersayang.
“I’m not fine. Ma, tidak bisakah kita selesaikan secara kekeluargaan terlebih dahulu?” ujar Gia dengan wajah cemasnya dan membuat aku menatapnya tajam.
“Apa mereka mengatakan sesuatu pada Opa kalian?” selidikku dengan hati-hati.
Aku tahu sikap Ayah yang akan langsung turun tangan ketiga dia langsung mendengar hal buruk tentang keluarganya. Awalnya hanya sebuah kecurigaan yang muncul, ketika ayah menelpon Zeyden dan memintanya membawa pengacara juga berkas yang kemarin dia serahkan. Suamiku yang penurut itu langsung mengiyakan permintaan mertuanya tanpa piker panjang lagi.
“Iya, Ma. Mereka menghina Gia di depan Opa, dan Opa sangat marah saat itu!” jawab Gara yang tahu adiknya tidak akan mengatakan hal yang terjadi sebenarnya.
“Maaf sayang, Mama nggak bisa bantu kalau gitu. Mereka yang cari perkara sama Opa kalian. Kalian tahu bagaimana sikap Opa jika ada yang menghina kelurganya?” sahutku dengan kelemah lembutan sambil mengelus kepala putriku
“I know, Ma. Sedih tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan.” Jujurnya dengan raut wajah sedih.
Kini semua keluarga Pradipta beserta pengacara sudah di aula rumah sakit. Begitu juga dengan orang tua dan sahabat-sahabatnya Shanti. Gia masih enggan bergabung di meja konferensi pers yang akan disiarkan langsung di infotaiment. Belum siap itu kata yang tepat untuk mewakili perasaannya. Ayah dengan wajah yang sangat menyeramkan saat ini, aku tak pernah melihat wajahnya seperti hari ini.
Sosok lembut dan penuh kasih mendadak menjadi datar, dingin serta amarah yang tertahan makin membuat wajah tampan nan bijaksananya hilang. Aku menatap wajah suami dan kakakku pun menampilkan wajah dingin yang sangat-sangat tidak kusukai. Hari ini semua lelakiku berubah menjadi sosok yang dingin, aku mengerti sekarang kenapa Gia terlihat ketakutan.
“Assalamualaikum warahmahtullahi wabarakatu. Selamat malam teman-teman media semuanya, saya mewakili keluarga Pradipta ingin mengumumkan bahwa anggota keluarga kami yang dihina. Kami tidak terima hal ini terlebih, hinaan itu ia ajukan di depan khalayak. Maka dari itu kami akan memperkenalkan keluarga kami semua.” Ucap pengacara kami dengan tegas.
“Sayang, mana anak-anak?” tanya Ayah padaku dengan nada lembutnya walau tak mengubah ekspresi wajahnya.
“Yah, si putri cantik tidak ingin bergabung. Tidak apa kan?” ucapku dengan kehati-hatian dan Ayah mendengus kesal.
“Zey, panggil anak-anak semua.” Titah Ayah tak ingin dibantah dan permintaan ayahku dianggukinya.
Segera Zeyden mencari putri kami, karena Gara, Arjuna dan Rakha sudah bergabung. Ya, Rakha belum lama diantar Pak Min kesini. Orang tua dan sahabat Shanti mendadak pucat pasi. Mereka ketakutan karena perbuatan mereka ternyata malah menjerumuskannya kedalam hal yang makin buruk. Tidak berapa lama Zeyden datang dengan menggandeng putrinya. Semua kamera langsung membidik Gia yang melangkah mengiringi sang ayah menuju meja konferensi. Wajah putriku menampilkan raut yang enggan di ekspos, penampilannya masih dengan kuncir dua dan kacamatanya.
“Perkenalkan ini cucu-cucu saya dari Bryan dan Priyanka. Disini ada Arjuna putra satu-satunya dari putra kedua saya. Dan ini Anggara, Anggia juga Rakha keluarga dari Thamrin dan Pradipta. Oh lupa dua cucu saya ada di luar negeri dan saya masih tidak akan memperkenalkannya. Mengenai hal yang tadi di bicarakan oleh pengacara saya adalah hinaan kepada Anggia.” Suara ayahku terdengar tegas namun tetap menusuk untuk para terdakwa.
“Yah, sudah dong.” Lirihku karena ayah menatap para terdakwa dengan tatapan mematikan.
“Kami minta maaf Tuan Shailendra. Kami tidak bermaksud menghina keluarga anda.” Ucap mereka semua bersamaan.
“Opa, selesaikan baik-baik ya!” pinta Gia dengan tatapan memohonnya.
“Tidak. Mereka bukan hanya kali ini menyakitimu, sayang. Ingat kejadian kemarin itu?” ucap sang Opa yang tidak tega melihat kesayangannya disakiti.
“Maaf semua terserah keluargaku. Aku pernah mengatakan pada kalian jangan sentuh aku apalagi menyakitiku bukan. Itu bukan ancaman tapi peringatan, sekarang kalian yang memaksa mereka untuk melakukan hal ini.” Ucap Gia yang sejak kemarin sudah memperingatinnya namun tak digubris.
Akhirnya sesuai kesepakatan di depan umum, bahwa masalah ini akan dibawa ke jalur hukum. Gia meneteskan air matanya, ia tidak menyangka benar-benar akan menempuh jalur itu. Sebuah pengertian di berikan oleh kakakku kepada Gia. Bahwa mereka harus menerima konsekuensinya, bukan karena hal lain.
***
Jangan lupa share, like, komen dan vote..
__ADS_1
Aku sayang kalian para kesayangan aq..
ups.. mampir juga ke novelku yg lain ya..