Relung Langit

Relung Langit
Part 64


__ADS_3

"Lo nampar cewek Kak?" tanya adik ipar penuh ketidak percayaannya.


"Apapun bisa gue lakuin selama dia, menyakiti keluarga gue." ucapnya dengan penuh keseriusan.


"Hei, sudah malem. Udahan dulu ngobrolnya, lanjut besok." pintaku saat melihat kedua lelakiku masih asyik mengobrol.


"Ya udah Kak Bi. Gue balik dulu, nyonya sudah berteriak." ucap Zeyden meninggalkan Bryan yang masih mematung.


"Kak, jangan tidur malem-malem ya, have nice a dream. Night Kak." ucapku sambil melambaikan tangan dan meninggalkan kakakku tersayang.


Aku tahu, Kak Bryan dan Kak Aryan sangat mencintai pasangannya. Tapi mereka rela melepaskan semuanya hanya demi aku. Sejak kejadian itu kedua kakakku enggan menjalin hubungan dengan wanita. Rasanya aku jahat sekali terhadap kedua kakakku itu.


***


Matahari sudah meninggi, aku masih berkutik di dapur. Zeyden sedang jogging dan Zayyan main bersama Daddynya. Kak Bryan bermain di halaman belakang sambil menjemur keponakan tersayangnya. Zayyan laksana lentera dalam kehidupan Kak Bryan.


Sebisa mungkin dia akan meluangkan waktu menemui keponakannya tersayang, berbeda dengan Kak Aryan yang hanya mengirimkan beberapa barang untuk keponakannya. Kak Aryan selalu melarikan diri dengan pekerjaan, sedangkan Kak Bryan selalu melarikan diri menemaniku setiap saat.

__ADS_1


Beruntungnya Zeyden tidak pernah marah jika aku makin akrab dengan kedua kakakku. Karena Zeyden pun menjadi lebih akrab dan mengerti sedikit demi sedikit sikap dan sifatku yang tersembunyi. Aku akan lebih menjadi diriku sendiri saat bersama dengan kedua kakakku.


"Kak, mandi dulu sana. Biar Zayyan sama aku." pintaku pada kakakku.


"Tapi..." ujarnya terpotong dan aku menghampirinya.


"Mandi sebelum Zeyden pulang jogging." ucapku dengan lembut dan mengambil Zayyan dalam pelukannya.


Aku tahu dia berat melepaskan ponakannya yang sangat ganteng dan lucu itu. Tapi daripada di semprot sama bapaknya Zayyan dia melakukan titahku.


***


"Pagi Onty." sahutku dengan nada seperti anak kecil.


"Tumben pagi-pagi udah disini lo." ucapku sambil melangkah memasuki rumah.


"Bete gue dirumah. Ka, gue boleh ajak Zayyan main di halaman belakang kan?" pinta sahabatku dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Yakin lo? Dibelakang, ada Kak Bi lagi.." ujarku terputus saat Anyelir sudah membawa Zayyan dalam gendogannya dan melangkah ke halaman belakang.


"Kak Bi lagi berenang Anye. Awas aja lo sampe teriak kaget." gumamku melangkah masuk untuk menyiapkan makanan dan minuman.


***


Anyelir tengah asyik mengajak ngobrol Zayyan, dan balita itu tertawa setiap kali sahabatku membuka mulutnya. Saat mereka sedang asyik bercanda, tiba-tiba seseorang sudah berada di belakang Anyelir. Hal itu membuat sahabatku hendak berteriak namun mulutnya mendadak di bekap oleh orang itu.


"Jangan teriak." perintah orang itu dengan wajah datar dan Anyelir menganggukkan kepala.


"Gila lo Kak, bikin jantung gue mau lompat aja." ujar Anyelir melepaskan bekapannya.


"Lah lo ngapain pagi-pagi disini?" tanya Bryan sambil melilitkan handuk di pinggangnya.


Anyelir bengong terkesima saat melihat badan Bryan yang sangat bagus. Badan kotak-kotak dengan otot yang sangat kuat. Dia tak pernah melihat atau hanya sekedar membayangkan kalau badan kakak sahabatnya itu memiliki badan proposional.


"Woi, bengong aja lo." ucap Bryan membuyarkan lamunan Anyelir.

__ADS_1


"Tutupin napa sih itu badan lo. Bikin orang deg-degan aja." ceplos Anyelir tanpa sadar.


"Apa lo bilang?" tegas Bryan kepada Anyelir dan hal itu membuat si wanita gelagapan sedangkan Bryan tersenyum manis.


__ADS_2