
Naina mengejar Bryan, namun dia tidak berhasil. Wanita itu terus saja menghubungi kekasihnya itu melalui ponselnya. Air mata Naina jatuh membasahi pipinya. Dia tidak menyangka kekasihnya bisa menangis seperti tadi hanya karena adiknya.
"Gue harus minta maaf sama Bi. Kesalahan fatal." ujarnya lirih dan berusaha menengok kana kiri berharap sang kekasih masih berada di dekatnya.
"Bi.." Teriak Naina saat melihat seseorang yang ia kenal.
Naina lari dengan kencang untuk menghampiri lelaki itu. Saat terhenti dia sedikit sadar, benarkah yang dia panggil ini kekasihnya. Dia langsung menelpon sang kekasih namun tak ada suara apapun yang terdengar. Naina makin gelisah dari raut wajahnya.
"Kenapa Nai?" lelaki itu membuka suara dan menatap Naina dengan serius.
"Aryan atau Bryan?" tanyanya dengan hati-hati dan lelaki itu tersenyum.
"Bryan ada di mobil, sana samperin. Gue mau ke toilet. Oh iya belajar mengenali perbedaan kami ya Nai." ujar Aryan berlalu meninggalkan Naina.
Naina berlari dengan segera menuju basement. Dia tak menghiraukan berapa kali dia menabrak orang-orang itu. Hanya ingin sampai ke mobil sang kekasih. Saat sudah berdiri di pintu mobil kekasihnya, dengan ragu-ragu dia mulai mengetuk pintunya.
"Bi, tolong buka pintunya." mohon Naina dengan lirih dan air matanya jatuh kembali.
"Bi, maafkan aku. Aku nggak tahu kalo itu princess. Aku janji akan merubah sikapku kepada semua orang. Aku nggak akan merendahkan orang lain. Bi, please bukain pintunya." ujarnya masih dengan memohon.
"Aku nggak bisa maafin kamu sebelum, keluargaku memaafkanmu." ujar Bryan yang berdiri di belakang Naina dan wanita itu menoleh langsung memeluk kekasihnya.
__ADS_1
"Aku akan lakuin apapun yang kamu mau. Please kamu jangan tinggalin aku Bi. Aku janji, kalo aku ingkar janji. Kita selesai saat itu juga Bi." ujar Naina masih dalam pelukan kekasihnya.
Bryan membawa Naina ke dalam mobil. Di mobil dia langsung menelepon seseorang. Naina hanya diam melihat kekasihnya berkutik dengan ponselnya.
"Sayang, lagi dimana? Ada yang mau bicara sama kamu." tanya Bryan dan segera memberikan ponselnya pada Naina saat mendapat jawaban dari seseorang di sebrang sana.
"Siapa?" tanya Naina dan Bryan hanya diam.
"Halo, ini princess?" tanya Naina sedikit ragu-ragu.
"Iya ini aku. Ada apa Kak Nai mau bicara sama aku?" sahut Priyanka di seberang telepon sana.
"Aku mau minta maaf sama kamu, atas perlakuanku waktu acara tunangan itu. Aku menyesal." ujarnya lirih.
"Hmm.. Tidak, ini aku yang meminta dia meneleponmu." Naina sedikit berbohong.
"Kak, aku tahu bagaimana kakak-kakakku bersikap. Aku sudah memaafkanmu, bahagialah bersama Kak Bi. Jangan buat dia menangis, karena apapun. Kami akan maju ketika dia menangis." ujar Priyanka membuat Naina pucat saat mendengarnya dab lln segera mematikan teleponnya.
"Bagaimana?" tanya Bryan penasaran.
"Dia memaafkanku." ujar Naina pelan dan sedikit ketakutan.
__ADS_1
Bryan langsung memeluk Naina. Kini dia yakin kalau kekasihnya sudah sedikit tahu bagaimana adiknya itu. Wanita kedua yang dia cintai dan sayangi setelah Bunda. Bryan tersenyum adiknya bisa memaafkan kekasihnya itu.
Sedangkan Naina dia terlihat sangat gusar dalam pelukan Bryan. Dia masih shock mendengar ucapan Priyanka. Tadi dia sudah membuat Bryan menangis karena kesalahannya. Lalu bagaimana dia kini bisa lepas dari adik iparnya.
Pikiran Naina menerawang entah kemana. Dia hanya menatap ke arah jendela dan tak menggubris ucapan Bryan sama sekali. Sampai mereka sudah didepan rumah Naina, wanita itu langsung masuk kedalam rumahnya tanpa pamit ke Bryan.
***
***Naina Al Katiri
Bi, maafkan aku sudah membuatmu menangis tadi. Aku takut, keluargamu akan marah padaku.
Bryan Pradipta Putra
Nai, lupakanlah. Apa tadi Princess mengatakan sesuatu?
Naina Al Katiri
Tidak. Dia baik Bi. Seperti katamu, hanya saja. Dia akan maju ketika kakaknya menangis.
Bryan Pradipta Putra***
__ADS_1
Jelas dia akan maju Nai. Dia maju untuk menghapus air mataku. Bukan untuk menghukummu, hanya kami berdua yang akan menghukum orang-orang yang menyakiti hati Princess.
Tak ada jawaban dari Naina, Bryan memutuskan untuk segera tidur karena besok dia sudah harus siap-siap mengurus kepergiaannya