
"Astagfirullah. Kak, ngapain disitu bikin aku khawatir nyariin kakak aja sih." ujarku sambil menghampiri suamiku dan duduk dihadapannya sambil menangkup wajahnya.
"Lihat iya coba." pintaku pada suamiku yang masih menunduk.
"Kak, kakak kenapa sih? Kok aneh gini sekarang? Kalo kakak ada apa-apa cerita atuh sama Iya. Iya kan istri kakak. Terus ngapain duduk disini coba." tanyaku heran karena suamiku duduk di pojok dekat pintu denngan kaki di tekuk ke depan.
"Aku nggak tahu kenapa. Aku cuma mau Kak Bryan masakin aku. Kalian malah ngomongin aku." ujarnya dengan kembali menangis.
"Hei, kok malah nangis sih! Kak, ini bukan kamu banget. Kenapa kamu jadi sensitif parah gini sih?" Aku langsung memeluk suamiku sambil mengelus kepalanya.
"Kak Zey, jangan bikin aku khawatir lagi ya." pintaku dengan lembut kemudian melepas pelukan dan menatap matanya dalam-dalam. Dia mengangguk.
***
__ADS_1
"Kak Bi.." teriak Zoan saat melihat kakakku ada di dapur.
"Berisik lo, yang ada Kak Zey ngamuk lagi sama lo, Zo." ingatkan Anyelir pada sohibnya dan Zoan langsung menutup mulutnya.
"Oh iya lelaki itu kan lagi aneh." ujar Zoan ketika berada di depan Kak Bryan.
"Maksud kalian apa?" tanya Kak Bryan yang bingung dengan ucapan kedua sahabatku.
Zoan dan Anyelir pun menceritakan kejadian aneh yang menimpa Zeyden. Kak Bryan hanya termenung mendengar cerita itu. Mereka bertiga seakan mendapat pemahaman yang sama, lalu saling lempar pandangan dan tertawa.
***
Tunggu apa mungkin suamiku yang sedang ngidam menggantikan aku. Tapi kan nggak mungkin lelaki ngidam. Aku hanya mampu sabar dengan kelakuan Zeyden.
__ADS_1
***
Tak terasa kini usia kandunganku sudah menginjak bulan keenam, lebih tepatnya hampir tujuh. Zeyden juga sudah kembali normal. Aku dirumah besar itu hanya sendiri ketika Zeyden kerja. Ya, assisten rumah tangga kami pulang pergi. Jam empat sore dia sudah pulang. Hari ini Zeyden lembur katanya, dia akan pulang sekitar jam sepuluhan.
Aku yang bosan dirumah, segera mengambil kunci mobil dan dompet. Aku ingin jalan-jalan ya sekedar mengelilingi komplek atau ke taman di depan komplek. Tapi mendadak aku ingin ke mall untuk berbelanja. Jarak tempuh hanya sekitar tiga puluh menit dari komplek perumahanku.
Aku tak lupa meminta ijin pada suamiku, kalau aku sedang keluar rumah. Ya, walau awalnya aku dinasihati panjang kali lebar kali dalam. Taij pada akhirnya diijinkan karena dia tak ingin aku jenuh yang bisa berdampak ke kandunganku.
Sesampainya di parkiran, aku bergegas memasuki mall. Mataku benar-benar dicuci dengan baik. Walau bukan tipe perempuan yang hobi belanja, tapi kalau urusan makanan bisa nomer satu. Ya, aku sangat tidak suka sama belanja-belanja tanpa pemikiran yang matang atau direncanakan.
Aku masuk ke dalam supermarket, membeli makanan yang aku mau. Dan menyetok bahan-bahan makanan buat seminggu ke depan. Sayuran, buah, bumbu dapur, makanan ringan dan susu. Setelah kurang lebih dua jam keliling mencari bahan-bahan itu. Aku langsung menuju kasir dan membayar semua belanjaanku.
Karena lama berkeliling-keliling aku langsung mencari restoran untuk mengisi perutku. Tak terasa hari sudah gelap, aku segera menuju parkiran hendak pulang. Aku melaju mobilku dengan santai dan menyetel mp3 tidak lupa aku menyanyi mengikuti si penyanyinya.
__ADS_1
Saat hendak sampai di gerbang komplek. Aku melihat aktifitas seru di taman depan, aku memarkirkan mobil dengan segera dan menuju ke tempat yang ramai itu. Di taman itu sedang ada tabligh akbar, entah mengapa aku tertarik. Ya, sambil nunggu suami pulang tidak apa-apalah menyempatkan diri ke acara positif ini.