Relung Langit

Relung Langit
Part 123


__ADS_3

***Duh, Author kok baper ya bacanya??


Banyak yang nanya sama. Thor, ini cerita nyata bukan sih? Jawabannya adalah lanjut baca aja ya para readers kesayanganku. Jika ada yang memiliki jalan cerita, nama dan konflik yang sama, maaf sama sekali bukan dari hal yang sama yua guys..


Next lanjut yuks.. Atau mau cus tamat aja??


Tapi Author sedih nih, Kalian tidak vote, like dan share novel ini. Hiks.. Hiks..


Gift away untuk gombalan paling meleleh aku perpanjang sampai akhir bulan Februari ini ya, Gaes… Cus, yang mau gift away dari aku langsung komen di bawah ya, dengan gombalan kalian untuk salah satu karakter di novel ini***.


***


Tak ada lagi balasan dari kakakku. Segera kutaruh ponsel di nakas, dan aku langsung berbaring disamping Zeyden sambil memeluknya. Aku tidak bisa tidur tanpa memeluk Zeyden, maka dari itu kemana pun ia pergi aku selalu ikut. Dialah detak jantung dan oksigen dalam kehidupanku, juga anak-anakku. Dia selalu melakukan yang terbaik untuk keluarganya, terlalu romantis untuk setiap hal kecil dan sepele menurutku.


***


Mentari telah kembali memberikan sinar harapan untuk insan di bumi. Wangi tanah sangat harum sampai membuat setiap manusia enggan terjaga. Detik menit telah menari-nari dengan lincahnya, hingga tak terasa membangunkan sang jago bernyanyi.


Aku sudah terjaga dan bersiap dengan tugas sebagai isteri juga ibu. Assisten rumah tangga yang tak pernah ada kini menemaniku dalam hari-hari di Jakarta. Kekuatan hatiku sudah kembali jadi aku memutuskan untuk tinggal di kota dengan hingar bingarnya.


Suami dan anakku sudah rapi, kini mereka sedang duduk di meja makan menikmati sarapan dengan menu ala kadarnya. Senyuman itu tak luntur dari wajah mereka dengan harapan terpancar di sana. Canda tawa sudah kembali seperti sedia kala, walau anggota kami berkurang. Hal itu tidak melunturkan cinta dan kasih sayang kami semua.


Terdengar mereka sedang berbagi cerita dan mencari solusi dari masalah yang mereka hadapi. Aku yang masih sibuk di dapur hanya tersenyum kecut mendengar setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Anak-anakku terdengar sedang merayu papa mereka. Entah apa yang mereka rayu.


"Boleh ya, Pa?" tanya ketiganya kompak.


"Hm, kalo Papa nggak kasih ijin, bagaimana?" sahut sang papa dengan wajah menggoda.


"Kami bujuk Mama!" seru ketiganya menyebut namaku dan segera kudekati mereka.


"Kenapa panggil-panggil, Mama?" tanyaku menghampiri mereka dengan membawa empat gelas susu dan satu gelas teh tawar.


"Ma, kami mau jalan-jalan ke mall. Bosan dirumah." celetuk Gia yang memang sudah bosan dengan aktifitas yang itu-itu saja.


"Lagi pula, perpindahan sekolah kami kan masih tahap diurus." sambung Gara yang sebelas duabelas dengan sang adik.


"Okey, tapi ada syaratnya." sahutku dengan antusias.


"Kami terima syaratnya!" seru mereka tanpa pikir panjang.


Aku melirik ke arah Zeyden, dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia setuju apapun syarat yang akan aku lemparkan kepada anak-anak. Lelaki hebatku selalu mendukung setiap keputusanku.


“Kalian boleh pergi jalan-jalan, asalkan jangan jauh-jauh dari satu sama lain. Kalian harus saling jaga. Terutama kamu ya, Kak. Jagain dua adik kamu ini, kalo sampai mereka kenapa-kenapa kamu yang Mama hukum!” seruku dengan nada penekanan yang tak bisa di toleransi lagi.


“Siap, Ma! Kalo gitu kita siap-siap dulu ya, Ma!” sahut mereka kompak dan aku menganggukinya, tiba-tiba Gia berbalik.


“Ma, Pa. Apa kami bisa jadi diri kami sendiri kali ini? Kami janji tidak akan ada yang mengetahui siapa kami.” ucapnya dengan tatapan penuh harapan.


“Jadilah diri kalian mulai hari ini!” seru Zeyden membuat ketiga anakku berhamburan memeluk dan menciumi kami.


Kami memang takut jika anak-anak terekspos media maka mereka akan kesulitan bersosialisasi. Pahitnya mereka akan mendapatkan teman yang hanya melihat status sosialnya, itu yang paling aku dan Zeyden takuti. Tapi sejak kepergian Zayyan, aku dan Zeyden sepakat membebaskan anak-anak dengan kemauannya. Mereka tetap kami awasi dari jauh, tanpa sepengetahuan mereka. Pesaing perusahaan kami masih terus mencari cara menghancurkannya, akan tetapi anak-anak bukan lagi kelemahan buat kami melainkan kekuatan.


Rakha sudah tampil sangat modis tapi tetap simple. Anggara sangat tampan tapi tetep dingin auranya dan Anggia cantik walau tanpa senyuman. Itulah mereka diluar rumah, tak ada kata manis dalam hal yang mereka tidak sukai. Zeyden memang selalu mengajarkan kebaikan tetapi tetap dilihat pada siapa yang patut mendapat kebaikan kita. Kadang perkataan Rakha, Anggara dan Anggia jauh lebih pedas daripada Zayyan. Tapi itulah mereka anak-anakku dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


Mereka menghampiriku dan mencium tangan aku juga Zeyden tak lupa mencium pipi kami. Kepergian mereka ke salah satu mall di Jakarta diantar oleh supir Ayah, serta beberapa pengawal bayangan yang tak mereka ketahui. Awalnya Anggara yang ingin mengemudikan mobil sport yang kumiliki. Karena usianya yang belum diperbolehkan maka aku dengan tegas melarangnya. Dia memiliki SIM, hanya saja tetap tidak kuperbolehkan karena usianya masih belum matang. Beruntungnya mereka menuruti setiap perkataanku.


***


Di mall

__ADS_1


Anggia jalan di tengah-tengah kakak dan adiknya sambil menggandeng mereka. Semua mata langsung tertuju pada mereka sejak memasuki pintu utama mall. Pada dasarnya mereka memang tidak peduli dengan omongan orang lain, maka mereka memilih melanjutkan tujuan mereka yaitu menonton bioskop terlebih dahulu.


"Ish, gila ya tuh cewek bawa pacar sampe dua gitu!" ucap seorang cewek mengenakan pakaian serba minim.


"Mending cantik. Masih cantik kan juga kita-kita ya!" sahut temannya yang makin menyulut emosi Gia.


Tapi Gia tak peduli dengan ocehan tidak mutu seperti itu, dia berlalu bersama dengan saudaranya masih tetap menggandeng keduanya menuju lift. Sesampai di depan lift, tak sengaja seseorang menabrak ibu-ibu yang menggendong anaknya hingga terjatuh. Seketika itu pula Anggara murka, tapi ditahan oleh sang adik yang tahu jika kakaknya marah bisa bahaya.


“Ibu, nggak apa-apa kan?” tanya Gia sambil membangunkan ibu itu dari duduknya.


“Saya nggak apa-apa, Dek!” seru ibu itu sambil membersihkan bajunya dari debu.


“Kamu lain kali bisa nggak pelan-pelan juga lihat-lihat kalo jalan,” gerutu Gara dan Gia pada lelaki yang sudah ditahan Rakha.


“Maafin saya ya, Bu. Saya buru-buru soalnya,” ucap lelaki itu dengan tulus dan segera dilepaskan oleh Rakha karena sang ibu sudah memaafkannya.


Mereka pun masuk ke dalam lift dengan penuh rasa canggung dari para pengunjung lainnya. Tak berapa lama mereka sampai di lantai tempat bioskop itu berada. Langkah pasti mereka memasuki gedung itu dan langsung menuju konter penjualan tiket. Mereka memilih film action karena memang lebih menantang. Karena filmnya baru mulai sekitar setengah jam lagi maka, mereka memutuskan untuk makan di kafe bioskop tersebut.


Mereka melangkah kesalah satu kursi dekat dengan taman. Disana juga ada live musiknya, bukan anak-anakku jika mereka tidak menyumbangkan suaranya. Kali ini Gara memilih untuk bernyanyi di depan umum. Kedua adiknya hanya merekamnya lewat kamera ponsel dan lagu yang di pilih Gara adalah Cinta Karena Cinta – Judika.


Aku hanyalah manusia biasa


Bisa merasakan sakit dan bahagia


Izinkan 'ku bicara


Agar kau juga dapat mengerti


Kamu yang buat hatiku bergetar


Rasa yang telah kulupa kurasakan.


Tanpa tahu mengapa


Yang kutahu inilah cinta


Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


“Dia saudara kalian?” tanya seorang lelaki yang menghampiri Rakha dan Gia, bahkan langsung duduk di hadapan mereka berdua. Tapi mereka tidak menjawabnya dan memilih mendengarkan sang kakak.


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Kamu yang buat hatiku bergetar


Senyumanmu mengartikan semua


Tanpa aku sadari


Merasuk di dalam dada


Cinta karena cinta

__ADS_1


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


Tak…


Selesai bernyanyi Gara langsung menghampiri kedua adiknya. Dia amat khawatir karena ada lelaki yang tak dikenal sedang duduk di mejanya. Wajah dingin dan datarnya membuat siapapun merasakan ketakutan setiap melihat raut wajah itu. Gara tanpa permisi langsung duduk dan menatap lelaki itu tajam. Kedua adiknyapun melakukan hal yang sama, walau tadi sempat tertawa bahagia melihat sang kakak tampil.


“Anda siapa? Dan kenapa duduk disini?” tanya Gara dengan ketusnya.


“Saya Ronald Partilon. Saya suka suara anda, maukah anda bergabung dengan dunia tarik suara, di bawah naungan manajemen kami.” jelasnya panjang kali lebar.


“Saya …” potong Gara karena sudah di sela oleh Gia.


“Kita harus segera pergi,” ucap Gia sambil menarik tangan kedua lelakinya.


Tanpa permisi mereka main pergi aja, makanan dan minuman yang mau mereka pesan pun terpaksa di batalkan. Mereka menuju konter makanan di bioskop, untuk membeli popcorn dan minumannya. Setelah camilan mereka sedia, langsung meluncur ke ruangan yang tertera dalam tiketnya. Mereka memasuki ruangan yang sudah gelap, walau filmnya belum mulai.


***


Selesai menonton film mereka memilih ke toilet lebih dahulu. Sesuai amanahku, mereka saling menunggu di depan pintu toilet. Seusai membuang hajatnya mereka menuju musola terlebih dahulu untuk menunaikan perintah sang pencipta. Gia yang sedang berhalangan meminta ijin mencari restoran karena sudah tak tahan laparnya. Kedua saudaranya mengijinkan hanya saja, Gia harus menunggu supir Ayah tiba yaitu Pak Min.


Kini Pak Min menemani Gia di restoran jepang kesukaannya. Anak perempuanku sudah memesankan makanan untuk saudaranya juga Pak Min. Sang supir awalnya enggan makan satu meja dengan anakku, tetapi desakkan Gia lebih kuat dari pada penolakannya.


Kami semua tidak pernah membedakab status sosial seseorang. Kadang kami makan bersama assisten rumah tangga dalam satu meja makan itu sudah biasa. Karen Bagi kami mereka adalah bagian dari keluarga kami.


Gia lelah menunggu kedua saudaranya. Dia memang paling tidak menyukai yang namanya menunggu. Segera dia ambil ponselnya dan mengirimkan pesan.


***Anggia


Dimana?


Anggara


Otw ke resto.


Anggara


Masih di resto favoritmu kan?


Anggia


Yes, brother. Nggak pake lama. Bosen nih***.


Lima belas menit setelah pesan terakhir Gia. Kedua saudaranya pun tiba. Wajahnya makin ganteng kini, mereka duduk di dekat pintu masuk. Para pelayan wanita langsung terpesona melihat kedua laki-laki tampan memasuki restorannya. Salah satu pelayan wanita menghampiri mereka berdua, tapi diacuhkannya. Gara dan Rakha tak peduli hal itu, kenyamanan Gia jauh mereka pikirkan.


"Pak Min, sudah makan?" tanya Rakha sambil menarik bangku di sebelahnya.


"Sudah, Den Rakha." sahut Pak Min gugup.


"Jangan panggil kita Den atau Non ya, Pak! Panggil nama aja, anggap kita anak atau cucu bapak." pinta Gia tak ingin dibantah dan diangguki oleh lelaki dengan pakaian safari hitam.


Rakha dan Gara memakan makanan yang sudah di pesankan oleh Gia. Mereka menikmati makanan sambil bercerita dan memikirkan hendak kemana lagi tujuannya. Keputusanpun di ambil untuk kali ini mereka memilih pulang. Karena mereka sudah letih, tapi esok sebelum mereka kembali ke sekolah yang baru, mereka akan kembali keliling Jakarta. Apalagi saudara mereka akan kembali dan tinggal serta sekolah bersama mereka.


Ish.. Ish.. siapa ya saudara mereka itu?? penasaran nggak??

__ADS_1


Tinggalin jejak kalian dong, para kesayangan aku..


__ADS_2