Relung Langit

Relung Langit
Part 81


__ADS_3

"Sayang, makan siang dulu yuk." ujarku menghampiri Zeyden yang masih asyik bermain bersama Zayyan dan Gibran.


"Bran, makan siang bareng dulu yuk! Baliknya sorean aja ya, gue masih mau ngobrol-ngobrol sama lo." ucap Zeyden ke Gibran dan diberikan anggukan kepala.


Kami masuk ke dalam rumah dengan Zayyan berada di gendongan Gibran. Hari ini putraku tak mau lepas dari Gibran. Kami melangkahkan kaki ke meja makan, Zeyden langsung menarik bangku makan Zayyan. Kami makan bersama dengan lauk sederhana yang aku masak tadi.


Mereka sangat menikmati masakanku, bahagia rasanya. Terlebih lagi ini pertama kalinya Gibran memakan masakanku. Sinar matanya nampak sangat bahagia, sama dengan tatapan Zeyden saat pertama kali memakan masakanku.


Setelah selesai makan, kedua lelaki itu kembali ke gazebo. Sedangkan aku ke kamar Zayyan, aku bermain dengan putraku sebelum aku menidurkannya.


***

__ADS_1


Kedua lelaki itu sempat terdiam cukup lama merasakan kecanggungan yang luar biasa. Hanya memandang kolam renang dan Gibran sesekali memainkan ponselnya. Bosan dengan situasi yang canggung itu Gibran membuka suaranya.


"Jadi apa yang mau lo diobrolin sama gue?" tanya Gibran tanpa memandang Zeyden.


"Hmm.. Apa lo masih sayang sama Priyanka?" ujar Zeyden hanya melihat Gibran sekilas lalu kembali menatap kolam renang.


"Masih cemburu lo sama gue?" tanya Gibran sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celana.


"Kesalahan terbesar gue adalah ninggalin dia. Jadi sudah resiko gue harus kehilangan dia kini. Sayang sebagai kekasih sudah tidak ada, gue hanya anggap dia kayak ade gue sendiri Zey." ujarnya membuat suamiku membulatkan mata.


"Serius?" tanya Zeyden tak percaya dengan jawaban Gibran.

__ADS_1


"Gue bodoh ninggalin dia, gue makin bodoh saat ketemu dia lagi dan mau memilikinya sedang dia sudah menjadi milik lo. Gue makin bodoh saat gue nyakitiin dia. Gue nggak mau nyakitiin dia lagi Zey. Cukup lihat dia bahagia itu sudah buat gue bahagia. Princess masa lalu gue yang terindah, tapi tidak sebaliknya. Zey, gue ikhlas dia bersama lo. Kalo lo tadi melihat gue bahagia menikmati masakan dia, ya jujur gue amat bahagia. Karena itu pertama kalinya gue mencicipi masakan dia. Tapi jujur Princess hanya masa lalu gue, rasa itu telah berganti kini." jelas Gibran tanpa berbohong.


"Gue hanya tidak mau dia menangis lagi karena lo. Gue tahu seberapa berartinya lo dulu buat dia. Walau gue yakin kini hanya ada gue dan Zayyan, tapi gue juga takut kehadiran lo mengubah hatinya." jujur Zeyden membuat Gibran tersenyum.


"Itu tidak akan mungkin Zey, gue sama dia sudah kontakan lama. Mungkin setengah tahun lalu. Tapi itu hanya untuk menjelaskan semua dan dia sudah memaafkan gue. Sudah cukup buat gue, oh iya selama gue kontakan sama dia, dia selalu membanggakan lo kok Zey. Nggak ada tuh dia bahas gue, yang ada lo dan Zayyan aja. Makanya gue penasaran banget sama Zayyan." jelas Gibran dan hal itu membuat Zeyden tersenyum.


"Apa yang lo suka sama Priyanka dan sampai mau menikahinya?" tanya Gibran membuat Zeyden kelabakan.


"Gue nggak tahu. Gue cuma ikutin kata hati gue, kalo gue bakal bahagia sama dia. Dia punya daya tarik sendiri buat hati gue." ujar Zeyden dengan senyuman manisnya.


"Lo bener banget Zey, dia punya daya tarik sendiri. Dulu gue juga gitu, nggak tau kenapa mau aja di jodohin sama dia." ujar Gibran sambil senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Terus kenapa lo tinggalin dia dihari pernikahan lo?" ujar Zeyden penasaran dengan hal satu itu yang dulu sempat membuatku menangis tiada henti setiap ketemu Gibran.


__ADS_2